TIMES JATIM, SITUBONDO – Di salah satu sudut terpencil Kabupaten Situbondo, tepatnya di Dusun Merak, Desa Sumber Waru, Kecamatan Banyuputih, ribuan sapi hidup bebas tanpa kandang. Kampung yang masuk dalam zona Pemanfaatan Taman Nasional (TN) Baluran ini memiliki luas 336 hektare dan dihuni oleh sekitar 700 jiwa atau 300 kepala keluarga (KK).
Menariknya, hampir semua warga di kampung ini memelihara sapi sebagai sumber penghidupan utama. Total sapi yang dikelola warga diperkirakan mencapai lebih dari 300 ekor.
"Hampir semua warga di sini memelihara sapi. Kalau ditotal, sekitar 300-an ekor sapi, mungkin lebih, karena setiap keluarga punya banyak sapi," kata Ainur Rahman (36), warga setempat, saat berbincang dengan Times Indonesia, Jumat (28/2/2025).
Sistem Pemeliharaan Sapi Tanpa Kandang
Berbeda dengan cara beternak pada umumnya, warga Dusun Merak melepasliarkan sapi mereka di kawasan TN Baluran. Hewan-hewan ternak ini mencari makan sendiri di alam tanpa perlu diberi pakan khusus.
"Iya, meskipun dilepas begitu saja, tetap dipantau dan dijaga secara bergantian," ujar Rohman, salah satu penggembala sapi.
Sapi-sapi tersebut biasanya dilepas sejak pukul 06.30 pagi hingga 14.30 sore, sebelum akhirnya kembali ke kandangnya masing-masing.
"Saya sudah lebih dari 20 tahun menggembala sapi. Jadi sudah paham betul, dan sapi tidak akan masuk kandang kalau bukan kandangnya sendiri," pungkasnya.
Wilayah Sekitar dan Potensi Wisata
Di sebelah timur Dusun Merak, terdapat Dusun Lempuyang dan Sirondo. Dusun Lempuyang berjarak sekitar 7 km dari Dusun Merak. Dusun Sirondo terletak sekitar 3 km dari Lempuyang.
Kawasan ini juga dikelilingi beberapa destinasi wisata menarik, seperti Pantai Sijile, Bilik, Kakapa, dan Bama, yang berada dalam wilayah TN Baluran.
Keunikan sistem penggembalaan tradisional di Dusun Merak menjadi daya tarik tersendiri, sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat dapat beradaptasi dengan alam tanpa merusak ekosistem di kawasan konservasi. (*)
Pewarta | : Ahmad Rifai |
Editor | : Imadudin Muhammad |