TIMES JATIM, MALANG – Forum Pemuda Nahdliyyin Malang Raya menggelar diskusi publik bertajuk “Refleksi Satu Abad NU: Quo Vadis Generasi Muda NU?” di Mifeeng Kopi Tiam, Kota Malang, Minggu (25/1/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Lahir (Harlah) 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) kalender Masehi yang puncaknya akan dipusatkan di Stadion Gajayana, Kota Malang, pada 7–8 Februari 2026.
Puncak peringatan tersebut rencananya akan diisi dengan agenda Mujahadah Kubra yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu jemaah dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Anas Muttaqin, Inisiator Diskusi Publik Forum Pemuda Nahdliyyin Malang Raya mengatakan forum ini digagas sebagai ruang kultural yang mempertemukan anak muda NU dari berbagai latar belakang tanpa sekat struktural organisasi.
“Ini forum kultural. Tidak ada ketua, tidak ada anggota. Semua setara. Kami hanya ingin menyediakan ruang diskusi bagi anak-anak muda NU yang selama ini sudah berkiprah di banyak sektor,” ujarnya.
Anas menyebut, peserta forum berasal dari beragam profesi, mulai dari aktivis organisasi, jurnalis, akademisi, politisi, hingga birokrat.

Menurutnya, keragaman latar belakang itu justru menjadi kekuatan untuk memperkaya perspektif dalam membaca masa depan NU.
“Banyak di antara kami yang aktif di politik, media, pemerintahan, dan dunia pendidikan. Dari situ kami ingin saling belajar, bertukar pengalaman, sekaligus menguji kembali nilai-nilai ke-NU-an yang selama ini menjadi pegangan,” katanya.
Ia menegaskan, diskusi publik tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai peringatan simbolik satu abad NU, tetapi juga sebagai momentum evaluasi arah gerak generasi muda ke depan.
“Semoga ini menjadi refleksi bagi kita semua, terutama teman-teman yang sudah mulai ‘belok-belok’, khususnya yang masuk ke dunia politik. Kita ingin tetap punya kompas moral dan ideologis sebagai kader NU,” ujarnya.
Menurut Anas, generasi muda NU membutuhkan ruang dialog yang jujur dan terbuka agar tidak tercerabut dari akar kultural dan tradisi pesantren.
“Kita butuh masukan, kritik, dan gagasan segar tentang bagaimana seharusnya generasi NU melangkah ke depan, tetap modern, tapi tidak kehilangan identitas,” tambahnya.
Diskusi publik tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya penulis buku Napak Tilas Menjelang Satu Abad NU Fauzan Alfas, Sekretaris PCNU Kota Batu Gus Fathul Yasin, serta pengamat sosial politik Universitas Brawijaya, Dr. Moh. Muzakki.
Dr. Moh. Muzakki menilai forum diskusi semacam ini penting untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual di lingkungan NU, terutama di kalangan anak muda.
“Kalau kegiatan seperti ini terus dilestarikan, saya yakin literasi di NU akan hidup kembali. Diskusi, membaca, dan menulis itu bagian dari tradisi besar NU sejak awal berdiri,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kebanggaannya menjadi bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, bukan semata karena faktor keturunan, tetapi karena pilihan ideologis dan kultural.
“Saya bersyukur menjadi orang Islam yang Nahdlatul Ulama. Ini bukan sekadar warisan keluarga, tapi pilihan sadar. Dan suatu hari, itu akan menjadi kebanggaan tersendiri,” katanya.
Menurut Muzakki, NU memiliki fondasi spiritual dan sosial yang sangat kuat dibandingkan banyak organisasi lain, karena lahir dari ijtihad para ulama dengan basis tradisi keilmuan dan pengabdian kepada umat.
“NU bukan didirikan seperti membangun organisasi swadaya masyarakat biasa. Para muassis meletakkan dasar dengan kekuatan perilaku, etika, dan spiritual yang luar biasa. Itu yang membuat NU mampu bertahan hingga satu abad,” tuturnya.
Ia menambahkan, tantangan generasi muda NU hari ini adalah bagaimana tetap relevan di tengah perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar organisasi.
“Semua organisasi keagamaan sedang beradaptasi dengan lompatan zaman yang cepat. NU juga demikian. Diskusi publik seperti ini menjadi salah satu cara agar proses adaptasi itu tetap berada di jalur yang benar,” pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |