TIMES JATIM, MALANG – Di zaman ketika kamera lebih dipercaya daripada cermin, anak muda berbondong-bondong mengangkat tripod seperti panji perjuangan. Mereka tidak lagi bertanya, “ingin jadi apa kelak?”, melainkan “konten apa hari ini?”.
Di kafe, di kamar kos, bahkan di pinggir sawah yang sunyi, lampu ring menyala seperti bulan buatan, menerangi wajah-wajah yang sedang mengejar algoritma dewa baru bernama engagement.
Menjadi konten kreator kini terdengar lebih seksi daripada menjadi guru, petani, atau peneliti. Profesi lama dianggap seperti kaset pita: berjasa, tapi usang. Sementara kreator konten dipuja bak penyihir digital cukup menari 15 detik, dunia bisa melempar koin virtual. Anak muda pun tergoda: siapa yang tidak ingin kaya tanpa harus tua?
Namun, di balik kilau filter dan senyum yang dipoles saturasi, ada kompetisi yang lebih kejam dari seleksi CPNS. Setiap detik, ribuan video lahir seperti bayi kembar siam, saling sikut mencari perhatian.
Viral bukan lagi bonus, tapi candu. Sekali mencicipi manisnya notifikasi, seseorang bisa lupa rasanya belajar diam-diam, bekerja pelan-pelan, atau gagal dengan bermartabat.
Konten kreator lalu menjelma jalan tol menuju “kesuksesan instan”. Tak perlu ijazah panjang, cukup sinyal stabil dan keberanian tampil. Sayangnya, keberanian sering disalahartikan sebagai kebebasan tanpa rem.
Demi tayangan, sebagian rela menukar etika dengan sensasi, empati dengan sensasi, bahkan akal sehat dengan views. Drama diproduksi massal, air mata diseduh seperti kopi sachet, lalu dijual per episode.
Anak muda pun belajar satu kurikulum baru: bagaimana menjadi viral, bukan bagaimana menjadi bernilai. Mereka hafal jam unggah terbaik, tetapi gagap saat diminta membaca situasi sosial. Mereka lihai merangkai caption, tapi gagap merangkai masa depan. Dunia digital memberi panggung luas, namun sering lupa menyediakan naskah yang bermutu.
Tentu, tidak adil menuduh semua kreator sebagai pedagang sensasi. Banyak pula yang sungguh-sungguh membangun edukasi, mengajar literasi, mengabarkan kebenaran. Mereka adalah lilin kecil di tengah pasar kembang api. Tapi suara mereka kerap tenggelam oleh konten yang lebih ribut, lebih absurd, lebih mudah dicerna sambil mengunyah gorengan.
Masalahnya bukan pada profesi konten kreator, melainkan pada ilusi massal bahwa semua orang harus menjadi satu. Negeri ini seolah sedang membuka pabrik mimpi seragam: masuk muda, keluar viral.
Padahal dunia nyata butuh lebih dari sekadar wajah di layar. Ia butuh tangan yang menanam, otak yang meneliti, dan punggung yang siap memikul tanggung jawab sunyi yang tak pernah masuk For You Page.
Ironisnya, banyak anak muda mengejar sorotan karena dunia nyata terlalu pelit memberi panggung. Lapangan kerja sempit seperti celana lama, pendidikan mahal seperti tiket konser internasional, sementara janji kesejahteraan terdengar seperti lagu lama yang diputar ulang. Media sosial lalu menjadi pelarian: tempat di mana seseorang bisa merasa “ada”, meski hanya selama 30 detik.
Maka jangan heran jika kamera menjadi altar baru, followers menjadi jamaah, dan like menjadi doa yang ditunggu tiap malam. Di sana harga diri diukur dengan grafik, bukan dengan kontribusi. Jika angka naik, bahagia. Jika turun, krisis identitas. Mental anak muda pun dipaksa hidup dalam fluktuasi sinyal.
Kita sedang menyaksikan generasi yang pandai tampil, tapi sering lupa bertahan. Pandai mengedit, tapi gagap menghadapi realitas mentah. Pandai bicara di depan kamera, tapi canggung berdialog dengan tetangga. Dunia virtual memberi sayap, namun sering lupa mengajarkan cara mendarat.
Menjadi konten kreator seharusnya pilihan sadar, bukan pelarian massal. Ia bisa menjadi jalan berkarya, jika diiringi tanggung jawab. Ia bisa menjadi profesi mulia, jika tidak menjual kebodohan sebagai hiburan. Sebab kreativitas sejati bukan sekadar mencuri perhatian, melainkan menanam pengaruh yang sehat.
Anak muda tidak salah bermimpi besar. Yang keliru adalah ketika mimpi dipersempit menjadi layar 6 inci. Negeri ini terlalu luas untuk diwakili oleh kamera depan saja. Masa depan terlalu panjang untuk digantungkan pada algoritma yang tak pernah mengenal belas kasihan.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya ulang, bukan “berapa followers-mu?”, tapi “apa yang kau tinggalkan untuk sesamamu?”. Sebab kelak, ketika server padam dan aplikasi berganti nama, yang tersisa bukan jumlah views, melainkan jejak: apakah kita pernah membuat hidup orang lain sedikit lebih mudah, sedikit lebih waras, sedikit lebih manusia.
***
*) Oleh : Saipur Rahman, Mahasiswa Psikologi Pendidikan UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |