TIMES JATIM, PACITAN – Desa Gedompol, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, kembali menggelar Festival Kampung Wayang Beber warisan Majapahit yang sarat makna pada Minggu (31/8/2025) malam.
Acara budaya tahunan ini diawali dengan tarian khas wayang beber yang mengisahkan perjalanan Joko Kembang Kuning dalam mencari Dewi Sekar Taji. Tarian tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sarat pesan tentang ketabahan dan ketangguhan.
Sebelum prosesi dimulai, pembawa acara mengumumkan larangan bagi perempuan hamil dan wanita yang sedang berhalangan untuk mendekati area banjar tempat ruwatan berlangsung.
Larangan ini berlaku bagi warga setempat maupun tamu dari luar daerah, sebagai bagian dari kesakralan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ruwatan dipimpin oleh dalang Supani, yang membawakan prosesi sakral tersebut dengan penuh khidmat. Setelah itu, acara berlanjut dengan upacara adat kirab penyatuan 13 tanah dan sumber mata air, hingga puncaknya pagelaran wayang kulit semalam suntuk.
Kepala Desa Gedompol, Susanto, menjelaskan bahwa festival ini rutin digelar sejak 2022 usai pandemi Covid-19. Tradisi ruwatan menjadi awal rangkaian kegiatan sebelum kirab dan pertunjukan wayang.
“Ada satu tarian yang sudah kami patenkan. Gerakan dan iringannya murni karya anak-anak Gedompol dengan konsep untuk wayang beber. Selain seniman lokal, ada juga tokoh dan pegiat wayang beber yang kami undang,” kata Susanto.
Menurutnya, meski lapangan Nolodremo sempat becek akibat hujan, antusiasme masyarakat tidak surut. Lokasi acara dialihkan ke Lapangan Dusun Bedali. Warga tetap berbondong-bondong datang, bahkan banyak yang menjadi pedagang dadakan memanfaatkan momen keramaian.
“Harapannya, selain mengedukasi masyarakat, ini adalah pertunjukan untuk memperkenalkan wayang beber secara luas agar semakin dicintai. Nilai spiritual dan kesakralan tetap kita jaga,” tegas Susanto.
Ruwatan dan Kirab Adat
Prosesi Ruwatan Wayang Beber Desa Gedompol. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Prosesi ruwatan dimulai ketika tokoh adat Sunyono memecahkan kendi pembuka dengan ucapan “bismillah”.
Selanjutnya, Kendi berisi air suci dari 13 dusun yang telah disiapkan sebelumnya dipecahkan kembali oleh Kades Gedompol sebagai simbol penyatuan doa dan harapan keselamatan bagi seluruh warga.
Susanto menegaskan bahwa upacara adat ini bukan sekadar tradisi budaya, tetapi juga doa bersama menyongsong musim tanam.
“Biasanya beberapa minggu ke depan sudah memasuki musim tanam padi. Acara ini bentuk syukur kepada Allah SWT atas keselamatan yang diberikan, sekaligus tolak bala agar kita dijauhkan dari mara bahaya maupun pagebluk,” ungkapnya.
Selain ritual utama, Pemerintah Desa Gedompol juga menggelar pertunjukan Seni Reog sejak siang tadi.
Warisan Sejarah Majapahit
Sebelumya, dalang muda yang merupakan trah ke-13 dari Raden Joko Kembang Kuning, Tri Hartanto pernah menjelaskan makna sejarah wayang beber.
“Wayang beber ini menceritakan kisah cinta antara Raden Panji Joko Kembang Kuning dengan Dewi Sekar Taji, dan kami sangat bangga akan warisan ini,” tuturnya.
Keunikan wayang beber terletak pada 24 gulungan kisah, dengan satu gulungan terakhir yang tetap tersegel hingga kini. Hartanto, seorang pegiat budaya, menyebut bahwa warisan Gedompol ini lebih tua dibanding wayang beber Reno Mangun Joyo dari era Kartasura.
“Wayang beber Joko Kembang Kuning yang diwariskan kepada Tri Hartanto usianya lebih tua sekitar 350 tahun. Bahannya dari kayu daluang di Dusun Karang Talun,” jelas Hartanto.
Sakral dan Religius
Peragaan Joko Kembang Kuning dan Dewi Sekar Taji dalam upacara adat Ruwatan Wayang Beber Gedompol Pacitan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Pelestarian wayang beber di Desa Gedompol tak hanya bernilai seni, tetapi juga spiritual. Kepercayaan masyarakat melarang perempuan hamil mendekati area ruwatan karena diyakini bisa membawa dampak buruk, bahkan keguguran.
Selain itu, air suci dari 13 dusun yang dijadikan satu diyakini sebagai wasilah doa agar warga mendapat keselamatan dan berkah. Prosesi ini menciptakan suasana religius yang memadukan adat Jawa dengan nilai spiritualitas Islam.
Kirab budaya pun semakin memikat dengan pakaian adat Blarang Khas Pacitan yang dikenakan peserta. Sang dalang dengan penuh wibawa membawakan gulungan pusaka, menambah kesan magis yang mengingatkan pada kejayaan leluhur.
Sementara itu, mewakili Bupati Indrata Nur Batuaji, Kepala Disparbudpora Pacitan, Turmudi mengapresiasi upaya Pemdes Gedompol melestarikan warisan budaya tak benda.
"Saya yakin ke depan tradisi dan budaya ini akan semakin maju. Apa yang dilakukan Desa Gedompol inilah yang menjadi tolak ukur desain kebudayaan kita nanti," ucapnya.
Sebelum puncaknya, penyerahan wayang kulit kepada Ki Dalang Sigit Setiawan dari ISI Surakarta juga dilakukan secara simbolik.
Akhirnya, Festival Kampung Wayang Beber Pacitan tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya dan wisata. Bagi warga Gedompol, acara ini adalah cara untuk merawat warisan leluhur sekaligus mempererat kebersamaan di tengah arus modernisasi. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Festival Kampung Wayang Beber Pacitan, Cara Pemdes Gedompol Jaga Warisan Majapahit yang Sarat Makna
Pewarta | : Yusuf Arifai |
Editor | : Faizal R Arief |