TIMES JATIM, PACITAN – SMPN 4 Pacitan meluncurkan inovasi literasi bertajuk “SEKAR BIMA SAKTI”, sebuah gerakan yang menggabungkan pelestarian bahasa Jawa dengan pemanfaatan media digital. Program ini menjadi upaya sekolah menjaga bahasa ibu tetap hidup di tengah derasnya arus teknologi.
SEKAR BIMA SAKTI merupakan akronim dari Semangat Berkarya Literasi, Terbit di Majalah, Surat Kabar, dan Media Berbasis Teknologi Informasi Komunikasi. Melalui program ini, siswa dibiasakan membaca dan menulis, khususnya menggunakan bahasa Jawa, lalu mendorong karya mereka dipublikasikan di media cetak maupun platform digital.
Inovasi tersebut melibatkan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari guru, siswa, hingga tenaga kependidikan. Literasi tidak ditempatkan sebagai kegiatan seremonial, melainkan diintegrasikan ke dalam pembiasaan harian, kegiatan kokurikuler, hingga proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Guru Pembina Literasi SMPN 4 Pacitan, Fitriyanto Wahyu Nugroho, menjelaskan bahwa sekolah secara khusus membiasakan siswa membaca majalah berbahasa Jawa sebagai rujukan utama.
“Kami membiasakan siswa membaca majalah Jawa, salah satunya Jaya Baya. Dari situ, siswa kemudian menulis cerita atau gagasan berdasarkan ide mereka sendiri,” ujarnya, Senin (5/1/2026).

Menurutnya, pemilihan bahasa Jawa dilakukan secara sadar agar siswa tidak tercerabut dari bahasa ibu mereka sendiri.
“Ini bagian dari upaya membiasakan baca-tulis dalam bahasa Jawa. Sekolah juga berlangganan majalah tersebut agar siswa punya referensi sekaligus ruang untuk mengirimkan karya mereka agar bisa dimuat lebih luas,” tambahnya.
Dukungan penuh juga datang dari pimpinan sekolah. Kepala SMPN 4 Pacitan, Any Suprapno, menyebut SEKAR BIMA SAKTI sebagai jembatan antara penguatan karakter budaya dan kemajuan teknologi.
“Kami tidak hanya mengejar prestasi akademik. Yang lebih penting, siswa punya karakter kuat dengan akar budaya lokal. Teknologi kami manfaatkan agar karya mereka bisa menjangkau pembaca yang lebih luas,” ungkapnya.
Program ini juga mendapat respons positif dari siswa. Marcella Anastasya, salah satu siswa yang aktif menulis, mengaku awalnya kesulitan menulis dalam bahasa Jawa yang baik dan benar.
“Awalnya memang sulit, tapi karena setiap hari membaca majalah Jawa di sekolah, ide-ide jadi lebih mudah muncul. Rasanya bangga saat tulisan saya terbit dan bisa dibaca banyak orang, apalagi lewat mading digital sekolah,” katanya.
Melalui SEKAR BIMA SAKTI, SMPN 4 Pacitan menegaskan bahwa literasi bahasa daerah tidak harus tertinggal oleh zaman. Justru, dengan sentuhan teknologi, bahasa ibu bisa menemukan ruang hidup baru di tengah generasi digital. (*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Hendarmono Al Sidarto |