TIMES JATIM, MALANG – Nama Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI Marinir Nawawi mungkin kini lekat dengan jabatan strategis di tubuh TNI Angkatan Laut. Namun jauh sebelum menyandang bintang di pundaknya, ada beragam kisah perjuangan hidup yang dia lalui tanpa kenal lelah dan tekad yang kuat untuk mengejar mimpi di tengah keterbatasan ekonomi. Hal itulah yang menempanya menjadi seorang pribadi yang tangguh dan punya empati yang tinggi terhadap sosial.
Nawawi kecil hanyalah anak seorang petani di Desa Putukrejo, Kalipare, Kabupaten Malang. Untuk bisa bersekolah, setiap hari dia harus berjalan kiloan meter dengan medan yang naik turun, dan jalan yang ala kadarnya, kala itu.
Keinginannya untuk menjadi seorang serdadu, dimulai saat dia masih SMP. Waktu itu, dia mendengar ada istilah Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) di radio. Meski tak banyak tahu soal apa itu Akabri, namun sejak saat itu dia ingin masuk Akabri.
Brigjen Nawawi bersama ibu dan Wakil Bupati Malang Lathifah Shohib. (FOTO: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
"Waktu itu belum banyak TV. Yang punya hanya bebarapa orang. Keluarga saya tidak punya, sehingga yang banyak hanya radio," ucap Brigjen Nawawi mengenang.
Keinginan Nawawi yang kuat menjadi satu-satunya alasan dia terus berusaha tanpa lelah, utamanya dalam menempa fisik untuk menjadi yang terbaik. Meskipun kala itu dia bukan berasal dari golongan keluarga yang mapan secara ekonomi. Bahkan dia mengaku bahwa kala itu sepatu pun dia tidak memiliki. Namun keinginan Nawawi untuk menjadi seorang tentara telah tertancap kuat.
“Saya waktu SMP itu bilang ke teman-teman, cita -cita saya masuk Akabri, pokoknya kalau bukan Akabri, nggak mau,” katanya kepada TIMES Indonesia.

Meski tak punya fasilitas yang mumpuni, di sekolah, Nawawi dikenal sebagai siswa berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia kerap berada di peringkat atas kelas. Bahkan karena fisiknya yang terlatih secara alami, dia kerap kali memenangkan lomba lari di tingkat kecamatan.
“Saya memang nilainya cukup bagus pada saat sekolah dulu, selalu dapat ranking. Tapi bukan berarti saya merasa hebat,” ujarnya.
Memasuki bangku SMA, Nawawi mulai mempersiapkan diri secara fisik. Ia rutin berlari, memperkuat stamina. Bagi anak desa seperti dirinya, berjalan jauh dan aktivitas fisik berat bukan hal asing.
“Anak desa itu fisiknya sudah terbentuk dari medannya,” tuturnya.
Lulus dari SMA, dia kemudian berusaha mewujudkan mimpinya dengan ikut test Bintara TNI. Namun jalan menuju seragam hijau tidak langsung mulus. Ia sempat gagal saat mendaftar Bintara Angkatan Darat dan Bintara Angkatan Udara. Namun Kegagalan itu tidak membuatnya mundur. Justru pada percobaan berikutnya, ia nekat mendaftar Akabri.
“Kemudian pada saat daftar Akabri, saya kok langsung bisa sampai tes pusat. Oh, kalau begitu saya daftar Akabri aja lah, tidak perlu daftar Bintara. Tes yang keempat itulah saya baru masuk," ujarnya.
Takdir itulah mengubah seluruh hidupnya. Nawawi resmi diterima sebagai taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) pada tahun 1996 (Angkatan XLII).
Nawawi menegaskan, dirinya masuk TNI tanpa kursus mahal, tanpa jalur khusus, dan tanpa biaya besar. Ia hanya mengeluarkan uang untuk kebutuhan transportasi dan administrasi dasar.
“Kalau ada yang bilang masuk tentara harus habis uang banyak, saya cuma bisa ketawa. Ayam saja waktu itu saya nggak punya,” ujarnya.
Ia menilai anggapan bahwa masuk TNI harus dengan uang adalah isu keliru yang kerap kali masih beredar di masyarakat. Berdasarkan pengalamannya hingga level perwira tinggi, sistem seleksi berjalan objektif.
“Anaknya Panglima TNI saja bisa tidak lolos kalau ada masalah kesehatan. Jadi ini sebenarnya fair,” tegasnya.
Perjalanan karier Nawawi di Korps Marinir terbilang konsisten dan progresif. Meski berasal dari latar belakang desa, ia mampu bersaing dengan rekan-rekannya secara profesional. Saat sebagian rekan seangkatannya masih berpangkat Letnan Kolonel, Nawawi sudah melangkah lebih jauh.
“Kalau diukur dengan standar anak kampung seperti saya, ini sudah luar biasa buat saya,” katanya merendah.
Sejumlah jabatan strategis pernah diembannya, di antaranya Koorsmin Kasal (2021–2022), Dandenma Mabesal (2022), Dandenma Mabes TNI (2022–2024), Danpusdikbangspes Kodiklat TNI (2024–2025). Saat ini, Nawawi dipercaya menjabat sebagai Wakil Komandan Komando Daerah Angkatan Laut VII/Kupang, sekaligus menyandang pangkat Brigadir Jenderal TNI Marinir.
Menurut Nawawi, tantangan terbesar bagi calon prajurit saat ini bukan hanya fisik/jasmani saja, melainkan kesiapan akademik, psikologis dan mental ideologi. Ia menilai banyak anak desa kuat secara fisik, tetapi kurang terlatih menghadapi tes kognitif dan psikologi.
“Tes psikologi itu yang sering bikin kaget. Kalau tidak pernah latihan sebelumnya, hasilnya bisa dipastikan gagal,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan akses belajar yang kini semakin terbuka, baik melalui kursus resmi maupun pembelajaran daring. “Sekarang belajar bisa dari mana saja. Online, YouTube, semuanya ada,” katanya.
Keyakinan, Kata-Kata, dan Takdir
Nawawi percaya, apa yang diucapkan dengan keyakinan sering kali menemukan jalannya sendiri. Sejak kecil ia mengucapkan ingin menjadi Akabri, meski tak memahami maknanya. Ucapan itu menjadi nyata.
Prinsip yang sama ia terapkan kepada anak-anaknya. Ia pernah berpesan agar anaknya agar sekolah dan belajar bahasa Inggris dengan serius. Agar kelak bisa menempuh pendidikan di Belanda. Bertahun kemudian, sang anak benar-benar menempuh pendidikan hingga bekerja di Belanda.
“Saya sendiri kaget. Makanya ke anak itu harus berkata-kata yang baik,” ujarnya.
Kisah Brigjen TNI Mar Nawawi menjadi gambaran bahwa setiap anak memiliki peluang yang sama, tanpa memandang latar belakang ekonomi dan geografis. Dari desa di Kalipare, ia membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan keyakinan mampu membuka jalan yang semula terasa mustahil.
“Semua orang punya kesempatan. Tinggal mau belajar atau tidak,” katanya.
Perjalanan Nawawi bukan sekadar kisah sukses personal, melainkan potret harapan bagi generasi muda Kabupaten Malang dan Indonesia: bahwa mimpi besar dapat tumbuh dari tempat paling sederhana dan latar belakang ekonomi bukan penghalang untuk menembus batas tertinggi pengabdian kepada negara. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |