TIMES JATIM, MALANG – Di tengah riuh notifikasi ponsel dan derasnya arus informasi instan, buku sering kali tampak seperti perabot tua di sudut rumah: ada, tetapi jarang disapa. Ia tidak berisik, tidak menuntut perhatian, dan tidak memikat dengan kilatan cahaya layar. Namun justru di situlah letak martabatnya.
Buku tidak menjajakan sensasi, melainkan menawarkan perjalanan sunyi ke dalam cara berpikir yang lebih dalam. Sayangnya, dalam wacana pengembangan keilmuan hari ini, buku kerap ditaksir sekadar sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi.
Taksiran kita terhadap buku sering kali terlalu ekonomis dan pragmatis. Buku dinilai dari seberapa cepat ia bisa mengantarkan gelar, memenuhi daftar pustaka, atau menebalkan portofolio akademik. Ia diperas menjadi angka kredit, direduksi menjadi kutipan, lalu dilupakan begitu tugas selesai.
Padahal, dalam sejarah peradaban, buku adalah lokomotif pengetahuan. Ia menggerakkan zaman, melahirkan revolusi berpikir, dan membentuk watak intelektual suatu generasi. Ketika buku diperlakukan hanya sebagai alat administrasi akademik, di situlah pengembangan keilmuan mulai kehilangan rohnya.
Ilmu pengetahuan sejatinya tidak tumbuh dari hafalan kilat atau ringkasan satu halaman. Ia tumbuh dari pergulatan panjang dengan gagasan, dari dialog sunyi antara pembaca dan penulis, dari kesabaran menelusuri argumen yang berliku.
Buku menyediakan ruang itu. Ia seperti ladang luas tempat benih ide ditanam, disiram, lalu dibiarkan tumbuh pelan-pelan. Tanpa buku, ilmu akan menjadi tanaman hidroponik: cepat tumbuh, tetapi rapuh akarnya.
Namun, realitas hari ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Banyak ruang akademik lebih memuja kecepatan daripada kedalaman. Mahasiswa dituntut produktif, dosen dikejar target publikasi, sementara buku-buku tebal berdebu di rak perpustakaan, seperti saksi bisu yang tak lagi didengar kesaksiannya. Wacana keilmuan pun kerap berputar di permukaan, sibuk mengutip tanpa sempat mengunyah, rajin menyebut teori tanpa benar-benar memahaminya.
Di sinilah pentingnya menaksir ulang makna buku. Buku bukan sekadar benda mati yang berisi huruf-huruf kecil. Ia adalah hasil perenungan panjang, pertaruhan intelektual, bahkan kadang pengorbanan hidup seseorang.
Di balik satu buku, ada tahun-tahun riset, kegagalan, kegelisahan, dan keberanian untuk berpikir berbeda. Membacanya dengan tergesa sama saja seperti menonton matahari terbit sambil berlari: cahaya memang terlihat, tetapi keindahannya terlewat.
Pengembangan keilmuan yang sehat membutuhkan relasi intim dengan buku. Bukan relasi transaksional, melainkan relasi dialogis. Buku dibaca bukan hanya untuk diambil kesimpulannya, tetapi untuk diperdebatkan, dipersoalkan, bahkan disanggah. Dari situlah lahir pemikiran baru. Tanpa proses ini, ilmu akan mandek menjadi dogma, bukan dinamika.
Lebih jauh, cara kita menaksir buku juga mencerminkan cara kita memandang ilmu itu sendiri. Jika buku dianggap beban, maka ilmu pun hanya akan menjadi kewajiban. Tetapi jika buku dipandang sebagai sahabat berpikir, ilmu akan tumbuh menjadi petualangan.
Generasi muda, khususnya mahasiswa, perlu diajak melihat buku bukan sebagai musuh tidur atau penyebab mata lelah, melainkan sebagai jendela untuk memahami dunia dan diri sendiri.
Memang, zaman telah berubah. Teknologi menghadirkan kemudahan akses luar biasa. Jurnal, e-book, dan artikel ilmiah tersedia dalam sekali klik. Namun kemudahan ini sering menipu. Informasi melimpah, tetapi pemahaman justru menipis.
Kita kenyang data, tetapi lapar makna. Buku, dengan ritmenya yang lambat dan disiplin, mengajarkan cara berpikir yang tidak tergesa, tidak serampangan, dan tidak mudah puas.
Dalam konteks ini, menaksir buku berarti juga menaksir masa depan keilmuan kita. Jika buku terus disingkirkan, maka ilmu akan tumbuh pincang: tinggi batangnya, tetapi kosong batangnya. Kita akan melahirkan banyak sarjana, tetapi sedikit pemikir. Banyak penulis, tetapi minim perenung. Banyak publikasi, tetapi miskin kebijaksanaan.
Sudah saatnya ruang-ruang akademik mengembalikan buku ke tempat terhormatnya. Perpustakaan tidak cukup menjadi bangunan sunyi, tetapi harus menjadi pusat kehidupan intelektual. Diskusi buku perlu dihidupkan, budaya membaca dipelihara, dan proses memahami dihargai lebih tinggi daripada sekadar menghasilkan output.
Buku bukan hanya alat untuk menambah pengetahuan, tetapi cermin untuk menguji kedalaman berpikir. Cara kita memperlakukan buku hari ini akan menentukan wajah ilmu pengetahuan esok hari.
Apakah ia akan menjadi menara kokoh yang dibangun dari batu-batu pemahaman, atau hanya rumah kardus yang tampak megah tetapi mudah roboh diterpa angin zaman. Di situlah taksir kita terhadap buku menjadi taruhan besar bagi masa depan keilmuan.
***
*) Oleh : Imam Syafi’i, Ketua LPIK UNISMA Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |