Majukan Pendidikan Indonesia
Tidak ada bangsa besar tanpa pendidikan yang kuat. Dan pendidikan yang kuat tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kebijakan yang berpihak, guru yang dimuliakan, serta masyarakat yang peduli.
Bojonegoro – Setiap kali berbicara tentang masa depan Indonesia, kita hampir selalu menyebut pendidikan sebagai kunci. Pendidikan disebut sebagai jalan keluar dari kemiskinan, jembatan menuju kemajuan, bahkan fondasi peradaban. Namun pertanyaannya sederhana: sudahkah kita benar-benar memajukan pendidikan, atau baru sebatas mengulang retorika?
Anggaran pendidikan kita bukan kecil. Setiap tahun, porsi besar dari APBN dialokasikan untuk sektor ini. Program berganti, kurikulum diperbarui, istilah-istilah baru bermunculan. Tetapi di banyak daerah, terutama wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), realitasnya masih sama: ruang kelas rusak, kekurangan guru, akses internet terbatas, dan fasilitas belajar yang jauh dari layak.
Memajukan pendidikan Indonesia tidak bisa hanya diukur dari angka partisipasi sekolah atau peringkat internasional. Ia harus dilihat dari kualitas pengalaman belajar anak-anak di ruang kelas. Apakah mereka merasa aman? Apakah mereka didorong berpikir kritis? Apakah mereka diperlakukan sebagai subjek yang merdeka, bukan sekadar objek kurikulum?
Masalah pertama yang perlu dibereskan adalah ketimpangan. Pendidikan di kota besar melaju cepat dengan dukungan teknologi dan sumber daya melimpah. Sementara di pelosok, guru merangkap banyak mata pelajaran, buku terbatas, dan pelatihan minim. Jika kesenjangan ini terus dibiarkan, pendidikan justru memperlebar jarak sosial, bukan menjembataninya.
Guru adalah jantung pendidikan. Namun kita sering menempatkan guru dalam posisi serba sulit. Administrasi menumpuk, tuntutan kurikulum tinggi, sementara dukungan pengembangan profesional belum merata. Kita ingin guru kreatif dan inovatif, tetapi tidak selalu menyediakan ruang dan pelatihan yang memadai.
Memajukan pendidikan berarti memuliakan guru. Bukan sekadar menaikkan kesejahteraan—meski itu penting—tetapi juga membangun sistem pendampingan dan penguatan kapasitas yang berkelanjutan. Guru perlu didukung untuk terus belajar, berefleksi, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Selain guru, kurikulum juga perlu berpihak pada masa depan. Dunia berubah cepat. Keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital menjadi kebutuhan dasar. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada hafalan dan ujian. Ia harus melatih anak-anak memecahkan masalah nyata.
Namun pembaruan kurikulum tanpa kesiapan di lapangan hanya akan menjadi beban baru. Perubahan harus disertai pelatihan, pendampingan, dan evaluasi yang jujur. Jangan sampai sekolah menjadi laboratorium eksperimen kebijakan tanpa arah yang jelas.
Teknologi adalah peluang sekaligus tantangan. Digitalisasi pendidikan membuka akses luas terhadap sumber belajar. Anak di desa bisa mengakses materi dari universitas ternama. Guru bisa mengikuti pelatihan daring tanpa harus meninggalkan kelas. Namun tanpa pemerataan infrastruktur, digitalisasi bisa menciptakan jurang baru.
Karena itu, memajukan pendidikan Indonesia juga berarti membangun ekosistem. Infrastruktur harus merata. Akses internet harus menjangkau pelosok. Perangkat belajar harus tersedia. Tanpa itu, visi transformasi digital hanya akan dinikmati sebagian kecil wilayah.
Tak kalah penting adalah pendidikan karakter. Kita sering terjebak pada angka-angka akademik, tetapi lupa bahwa sekolah juga tempat membentuk integritas, empati, dan tanggung jawab sosial. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi cerdas, tetapi juga generasi beretika.
Kasus kekerasan di sekolah, perundungan, hingga intoleransi menjadi alarm bahwa pendidikan karakter tidak boleh dipinggirkan. Sekolah harus menjadi ruang aman dan inklusif. Guru dan kepala sekolah perlu menjadi teladan, bukan hanya pengelola administrasi.
Memajukan pendidikan juga menuntut kolaborasi. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan orang tua harus terlibat. Pendidikan adalah urusan bersama. Ketika semua pihak merasa memiliki, perubahan akan lebih mudah terwujud.
Di tingkat kebijakan, konsistensi menjadi kunci. Pendidikan membutuhkan stabilitas arah. Terlalu sering ganti kebijakan tanpa evaluasi mendalam justru membuat sekolah kebingungan. Reformasi harus dirancang jangka panjang, bukan sekadar mengikuti siklus politik.
Kita juga perlu berani melakukan evaluasi jujur. Apakah program yang diluncurkan benar-benar berdampak? Apakah dana yang digelontorkan efektif? Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi bagian dari tata kelola pendidikan.
Majukan pendidikan Indonesia bukan slogan musiman. Ia adalah kerja panjang yang membutuhkan kesabaran dan komitmen. Hasilnya mungkin tidak instan. Tetapi investasi di pendidikan adalah investasi paling strategis bagi masa depan bangsa.
Bayangkan Indonesia dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Generasi yang hari ini duduk di bangku sekolah akan menjadi pemimpin, profesional, dan pengambil keputusan. Jika hari ini mereka mendapatkan pendidikan berkualitas, masa depan bangsa akan lebih cerah. Jika tidak, kita sedang menabung masalah.
Karena itu, mari kita geser fokus dari seremoni ke substansi. Dari wacana ke implementasi. Dari janji ke bukti. Memajukan pendidikan Indonesia berarti memastikan setiap anak, di kota maupun di pelosok, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Tidak ada bangsa besar tanpa pendidikan yang kuat. Dan pendidikan yang kuat tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari kebijakan yang berpihak, guru yang dimuliakan, serta masyarakat yang peduli.
Baca juga
Jika kita sungguh-sungguh ingin Indonesia maju, maka tidak ada jalan lain: pendidikan harus menjadi prioritas nyata, bukan sekadar prioritas di atas kertas. Karena dari ruang-ruang kelas sederhana itulah masa depan Indonesia sedang ditulis.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



