https://jatim.times.co.id/
Opini

Ketika Prestasi Sekolah Perlu Dikenal

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:06
Ketika Prestasi Sekolah Perlu Dikenal Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

TIMES JATIM, BOJONEGORO – Di banyak sekolah, prestasi lahir hampir setiap bulan. Siswa menjuarai lomba, guru mencetak inovasi pembelajaran, kepala sekolah membangun sistem manajemen yang rapi, dan komunitas sekolah bergerak dengan semangat perubahan. 

Namun, semua itu sering berhenti di pagar sekolah. Diketahui oleh warga internal, dibanggakan dalam rapat, lalu menguap tanpa jejak di ruang publik. Padahal, di era digital, prestasi yang tidak dipublikasikan ibarat menyalakan lilin di siang hari: terang, tetapi tak terlihat.

Publikasi kegiatan sekolah bukan sekadar soal pamer. Ia adalah cara sekolah berbicara kepada masyarakat, menyampaikan identitas, nilai, dan kualitas yang dimiliki. Di tengah persaingan lembaga pendidikan yang semakin ketat, branding bukan lagi milik dunia bisnis semata, melainkan kebutuhan strategis dunia pendidikan.

Sekolah hari ini tidak hanya dinilai dari papan nama dan gedungnya, tetapi dari jejak digitalnya. Orang tua mencari informasi melalui mesin pencari, media sosial, dan portal berita. Calon siswa menilai sekolah dari apa yang tampak di layar gawai mereka. 

Pemerintah daerah, mitra industri, hingga perguruan tinggi membaca reputasi sekolah dari seberapa aktif dan kredibel ia hadir di ruang publik. Di sinilah publikasi memainkan peran penting: menjembatani kerja keras di ruang kelas dengan pengakuan di ruang sosial.

Banyak sekolah sebenarnya kaya prestasi, tetapi miskin narasi. Kegiatan luar biasa hanya diabadikan dalam foto grup WhatsApp, laporan internal, atau papan mading yang jarang dibaca. Akibatnya, sekolah kehilangan peluang besar untuk membangun kepercayaan publik.

Padahal, satu berita tentang siswa juara lomba sains bisa mengangkat citra sekolah sebagai pusat akademik. Satu liputan tentang inovasi guru bisa memperkuat identitas sekolah sebagai ruang pembelajaran kreatif. Satu dokumentasi kegiatan sosial bisa menampilkan wajah sekolah yang humanis dan berkarakter. Publikasi adalah cara mengubah peristiwa menjadi makna.

Lebih jauh, branding prestasi sekolah tidak semata berdampak pada jumlah pendaftar. Ia juga berpengaruh pada mentalitas internal. Siswa akan merasa dihargai ketika karyanya diakui publik. 

Guru akan lebih termotivasi ketika inovasinya diapresiasi. Sekolah akan tumbuh dengan rasa percaya diri, bukan sekadar rutinitas administratif. Budaya publikasi menciptakan ekosistem kebanggaan yang sehat.

Tentu, publikasi tidak harus selalu lewat media nasional. Website sekolah, media sosial resmi, kanal YouTube, hingga kerja sama dengan media lokal sudah cukup untuk membangun visibilitas. Yang penting bukan seberapa besar medianya, tetapi seberapa konsisten narasinya.

Namun, publikasi yang baik tidak lahir dari asal unggah. Ia membutuhkan pengelolaan: tim kecil, alur dokumentasi, kemampuan menulis dasar jurnalistik, serta etika informasi. 

Prestasi harus ditulis apa adanya, tanpa dilebih-lebihkan, tanpa manipulasi, tanpa mengaburkan fakta. Branding yang kuat justru lahir dari kejujuran dan kontinuitas.

Di sisi lain, sekolah yang abai terhadap publikasi perlahan akan tertinggal dalam persepsi publik, meskipun kualitas internalnya baik. Dalam dunia yang bergerak cepat, yang terlihat sering dianggap lebih ada daripada yang diam. Ini bukan soal memburu popularitas, tetapi menjaga eksistensi.

Sekolah adalah ruang pembentukan masa depan. Ia mendidik generasi, menanam nilai, dan mencetak kompetensi. Ketika semua itu tidak dikomunikasikan keluar, sekolah seperti bekerja dalam senyap, besar dalam sunyi, tetapi kecil dalam ingatan publik.

Karena itu, kepala sekolah hari ini tidak cukup hanya menjadi manajer kurikulum, tetapi juga arsitek reputasi lembaga. Guru tidak hanya pengajar di kelas, tetapi juga aktor perubahan yang layak dikenalkan. Siswa bukan sekadar peserta didik, tetapi duta prestasi yang membawa nama sekolah ke ruang sosial.

Publikasi kegiatan sekolah adalah jendela. Lewat jendela itu, masyarakat melihat bagaimana pendidikan dijalankan, bagaimana nilai dibentuk, bagaimana prestasi dirawat. Tanpa jendela, sekolah seperti rumah megah tanpa cahaya.

Sudah saatnya sekolah tidak lagi merasa cukup dengan bekerja baik, tetapi juga berani bercerita tentang kebaikan itu. Bukan untuk menyombongkan diri, melainkan untuk menginspirasi, membangun kepercayaan, dan memperluas dampak pendidikan. Sebab di zaman ini, prestasi bukan hanya untuk diraih, tetapi juga untuk dikenalkan.

Dan sekolah yang mampu mengelola prestasinya menjadi narasi publik, sedang menanam investasi jangka panjang: reputasi, kepercayaan, dan masa depan.

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.