TIMES JATIM, MALANG – Peran organisasi kemahasiswaan (Ormawa) sebagai lembaga pembina kader pemimpin muda tak bisa diragukan lagi.
Sebagai "miniature Indonesia", Ormawa diharapkan mampu melahirkan generasi pemimpin yang tidak hanya memiliki kapasitas kepemimpinan mumpuni, tetapi juga mengakar pada nilai-nilai idealisme, keagamaan, dan kebangsaan.
Hal ini menjadi fokus utama dalam Retret Organisasi Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) yang digelar pada 13–14 Januari 2026 di Markas Angkatan Udara Batu, Malang.
Kegiatan yang diikuti oleh 65 orang peserta—meliputi ketua DEMA, SEMA, Himpunan Mahasiswa Program Studi, serta pengurus UKM/UKK dan aktivis mahasiswa lainnya—dibuka dengan arahan dari Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Ruchman Basuri.
Sebagai aktivis mahasiswa tahun 1998, ia menekankan bahwa mahasiswa harus menjadi pemimpin yang tangguh, adaptif, dan memiliki pemahaman mendalam terhadap kondisi masyarakat serta masalah kebangsaan.
“Kata kuncinya adalah para aktornya harus mempunyai sikap idelisme yang kuat di tengah godaan politik praktis dan pragmatis,” tegas Ruchman.
Menurutnya, pemimpin yang baik adalah mereka yang mengetahui kondisi yang dipimpin—baik organisasi, anggota, maupun lingkungan strategisnya—sehingga dapat menghasilkan kebijakan dan keputusan yang tepat.
Materi retret juga mengulas tata kelola organisasi kemahasiswaan di lingkungan Kementerian Agama, dengan konsep bahwa Ormawa berperan sebagai kawah candradimuka dalam pembelajaran kepemimpinan.
Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi diskusi dan tanya jawab, khususnya terkait penerapan prinsip kepemimpinan dalam aktivitas organisasi sehari-hari.
Ruchman berharap para pimpinan Ormawa mampu menginternalisasi nilai kepemimpinan yang visioner, responsif, dan berorientasi pada pelayanan yang dijiwai idealisme. Selain itu, ia juga menyampaikan berbagai layanan beasiswa Kementerian Agama untuk jenjang S1, S2, dan S3 baik di dalam maupun luar negeri.
“Mantan aktivis yang menjadi sarjana harus terus belajar hingga jenjang studi lanjut agar mampu mengoptimalkan perannya di masyarakat. S2 menjadi keharusan di tengah persaingan sumber daya manusia secara nasional, dan peluang bagi para aktivis sangat terbuka lebar,” tambahnya.
Ketua Tim Kemahasiswaan sekaligus Ketua Panitia, Romi Faslah, menjelaskan bahwa retret ini merupakan bagian dari upaya strategis kampus untuk mencetak kader pemimpin muda yang solid secara internal dan memiliki wawasan tata kelola organisasi yang baik.
“Semangatnya adalah mencetak pemimpin mahasiswa yang memegang kuat nilai-nilai keagamaan, profesionalisme, kebangsaan, serta pengabdian (Khidmah),” ujarnya. (*)
| Pewarta | : Imam Kusnin Ahmad |
| Editor | : Wahyu Nurdiyanto |