TIMES JATIM, BOJONEGORO – Di ruang kelas hari ini, papan tulis tak lagi menjadi satu-satunya pusat perhatian. Di tangan para murid, gawai menyala; di kepala mereka, algoritma bekerja. Dunia anak didik dibentuk oleh konten cepat, visual, emosional, dan repetitif.
Dalam lanskap seperti ini, guru yang memilih masuk ke ruang kreatif konten bukan sekadar mengikuti tren, melainkan sedang berhadapan dengan sebuah pertaruhan besar: apakah konten menjadi alat mendidik, atau justru menggerus martabat pendidikan itu sendiri.
Fenomena guru yang aktif membuat konten baik di media sosial, platform video, maupun kanal digital lainnya tidak bisa dibaca hitam-putih. Di satu sisi, ia membuka jalan baru bagi pembelajaran yang kontekstual. Di sisi lain, ia menyimpan risiko reduksi peran guru menjadi sekadar kreator hiburan. Di titik inilah analisis harus diletakkan secara jujur dan berimbang.
Konten kreatif, jika dipahami secara pedagogis, sejatinya adalah metode. Ia adalah jembatan, bukan tujuan. Guru yang cakap membaca zaman akan menyadari bahwa anak didik hari ini belajar tidak hanya dari buku, tetapi dari visual, narasi singkat, dan pengalaman yang dekat dengan keseharian mereka.
Ketika guru mengemas materi pelajaran dalam bentuk video pendek, infografik, atau cerita visual, ia sedang menjemput dunia murid, bukan menunggu murid datang ke dunia guru.
Namun persoalan muncul ketika logika konten bergeser dari mendidik ke mengejar validasi. Likes, views, dan engagement berpotensi menggeser orientasi. Konten pendidikan yang semestinya menumbuhkan daya pikir bisa tergelincir menjadi sensasi instan. Di sinilah guru diuji: apakah ia masih berdiri sebagai pendidik, atau telah larut sebagai entertainer.
Guru yang mendidik melalui konten kreatif sejatinya harus memegang tiga prinsip utama. Pertama, substansi. Konten bukan sekadar lucu, ringan, atau viral, tetapi membawa makna, pengetahuan, dan nilai. Kreativitas tanpa substansi hanya melahirkan kegaduhan, bukan pembelajaran.
Kedua, etika. Murid bukan objek konten. Privasi, martabat, dan relasi kuasa harus dijaga. Ketiga, keberlanjutan. Konten harus menjadi bagian dari proses belajar yang utuh, bukan potongan lepas yang berdiri sendiri.
Di tengah derasnya arus digital, konten kreatif bisa menjadi sarana membumikan nilai. Guru dapat menanamkan karakter, kejujuran, kerja keras, dan empati melalui cerita sederhana yang relevan dengan kehidupan murid. Di titik ini, konten menjadi medium pendidikan karakter yang hidup tidak menggurui, tetapi menyentuh.
Masalahnya, tidak semua guru disiapkan untuk ruang ini. Banyak yang terjun ke dunia konten tanpa bekal literasi digital yang memadai. Akibatnya, batas antara ruang privat dan publik kabur. Pendidikan berisiko kehilangan kesakralannya ketika setiap aktivitas kelas direkam tanpa refleksi etik. Negara dan institusi pendidikan tidak boleh membiarkan guru berjalan sendirian di medan baru ini.
Perlu ada kebijakan yang berpihak, bukan membatasi secara kaku, tetapi membimbing secara bijak. Pelatihan literasi digital bagi guru menjadi kebutuhan mendesak. Bukan sekadar cara mengedit video, melainkan cara berpikir kritis tentang dampak konten, relasi kuasa, dan tanggung jawab sosial seorang pendidik.
Guru kreatif sejatinya bukan guru yang paling viral, melainkan guru yang paling relevan. Ia tahu kapan konten diperlukan, kapan keheningan lebih bermakna. Ia paham bahwa tidak semua pelajaran harus direkam, dan tidak semua momen harus dibagikan. Ada ruang-ruang pendidikan yang hanya layak hidup di antara guru dan murid, bukan di linimasa publik.
Lebih jauh, konten kreatif guru seharusnya mendorong kemandirian berpikir murid, bukan ketergantungan. Konten yang baik tidak memberi semua jawaban, tetapi memancing pertanyaan. Tidak memanjakan, tetapi menantang. Tidak mempersingkat akal, tetapi melatih nalar.
Di tengah krisis keteladanan, kehadiran guru di ruang digital justru bisa menjadi contoh etika bermedia. Guru dapat menunjukkan bahwa media sosial tidak harus penuh caci maki, hoaks, dan pamer diri. Ia bisa menjadi oase rasionalitas dan kesantunan di tengah kebisingan digital. Di sinilah peran guru melampaui kelas: mendidik publik, bukan sekadar murid.
Guru yang mendidik dengan aktivitas kreatif konten adalah guru yang sadar zaman tanpa kehilangan nilai. Ia berdiri di antara tradisi dan teknologi, antara kedalaman dan kecepatan. Konten baginya bukan panggung, melainkan alat. Bukan tujuan, melainkan jalan.
Pendidikan tidak boleh kalah oleh algoritma. Justru di sanalah guru dibutuhkan: untuk memastikan bahwa di balik layar yang terang, tetap ada cahaya akal dan nurani yang menyala.
***
*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |