TIMES JATIM, MALANG – Setiap pergantian tahun selalu membawa ilusi yang sama: bahwa waktu bisa diulang, bahwa kegagalan bisa ditinggal begitu saja di halaman kalender lama. Tahun baru hadir seperti pintu yang diyakini membuka kemungkinan, meski sering kali kita melangkah dengan beban yang sama.
Namun di balik ritual resolusi dan slogan “awal baru”, sesungguhnya ada dinamika serius yang sedang berlangsung di berbagai sektor kehidupan: negara, pasar, institusi pendidikan, dunia kerja, hingga ruang personal warga.
Persiapan menyambut tahun baru tidak pernah netral. Ia selalu memuat kepentingan, kecemasan, dan harapan yang saling bertaut. Di sektor pemerintahan, tahun baru dibaca sebagai momentum penataan ulang prioritas.
Rencana kerja disusun, anggaran dirapikan, program diganti istilahnya. Namun tantangannya selalu sama: apakah perubahan itu substantif, atau sekadar kosmetik birokrasi yang berulang dari tahun ke tahun.
Sering kali, tahun baru menjadi etalase optimisme kebijakan. Target-target ambisius diumumkan, peta jalan dirancang, visi dipajang rapi. Tetapi publik belajar dari pengalaman bahwa tidak semua persiapan berujung pada perbaikan. Ada jarak antara perencanaan dan kenyataan, antara dokumen dan dampak.
Di titik inilah tahun baru seharusnya dibaca bukan sebagai panggung janji, melainkan sebagai ruang evaluasi yang jujur: apa yang gagal, mengapa gagal, dan siapa yang bertanggung jawab.
Di sektor ekonomi dan dunia usaha, tahun baru hadir sebagai medan spekulasi dan kalkulasi. Pelaku industri membaca tren, UMKM mengatur ulang strategi, korporasi menyusun target pertumbuhan.
Kata “adaptasi” menjadi mantra. Digitalisasi, efisiensi, dan inovasi diulang-ulang sebagai solusi. Namun di balik itu, tersimpan kegelisahan besar: pasar yang makin tak pasti, daya beli yang fluktuatif, dan kompetisi yang semakin kejam.
Persiapan ekonomi sering kali lebih siap di level wacana ketimbang perlindungan nyata. Yang kuat menyiapkan ekspansi, yang kecil sibuk bertahan. Tahun baru, bagi sebagian pelaku usaha kecil, bukan tentang peluang, melainkan soal bertahan hidup. Maka pertanyaannya bukan siapa yang paling siap menyambut tahun baru, tetapi siapa yang paling rentan ditinggalkan oleh sistem.
Di dunia kerja, pergantian tahun memicu gelombang refleksi personal sekaligus struktural. Banyak individu menyiapkan peningkatan keterampilan, berpindah karier, atau sekadar berharap kondisi kerja lebih manusiawi.
Sementara itu, institusi menyiapkan restrukturisasi, target produktivitas, bahkan efisiensi tenaga kerja. Tahun baru menjadi ruang negosiasi sunyi antara harapan pekerja dan logika keuntungan.
Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: persiapan menyambut tahun baru sering kali asimetris. Ada yang mempersiapkan lompatan, ada yang hanya menyiapkan bantalan agar tidak jatuh lebih dalam. Negara, dunia usaha, dan institusi sosial dituntut membaca ketimpangan ini, bukan malah menutupinya dengan narasi optimisme kosong.
Sektor pendidikan pun tak luput dari ritual persiapan. Kurikulum disesuaikan, program baru diluncurkan, jargon pembelajaran masa depan digaungkan. Namun di lapangan, tantangan mendasarnya masih sama: akses yang belum merata, kualitas guru yang timpang, dan beban sosial-ekonomi yang menghambat anak-anak belajar secara utuh. Tahun baru sering kali lebih cepat hadir di spanduk sekolah daripada di ruang kelas pinggiran.
Di sinilah pentingnya membaca tahun baru sebagai kesempatan menata ulang orientasi, bukan sekadar mengganti kalender. Pendidikan seharusnya menyiapkan manusia, bukan hanya lulusan. Persiapan yang sejati bukan pada sistem yang terlihat canggih, tetapi pada keberanian menjawab ketimpangan yang sudah lama diketahui.
Di ruang sosial dan kultural, masyarakat menyiapkan tahun baru dengan cara yang beragam. Ada yang merayakan, ada yang merenung, ada pula yang cemas. Media sosial dipenuhi resolusi, sementara di sudut lain kota, orang-orang menyiapkan tahun baru dengan hitung-hitungan kebutuhan hidup. Tahun baru menjadi cermin yang memantulkan realitas sosial secara telanjang: siapa yang punya ruang untuk berharap, dan siapa yang hanya punya ruang untuk bertahan.
Persiapan menyambut tahun baru juga terjadi di ruang personal. Individu menata ulang tujuan hidup, hubungan, dan arah diri. Namun sering kali, resolusi personal dibebani oleh tuntutan struktural yang tak berubah.
Kita diminta lebih produktif di tengah sistem yang tak selalu adil, diminta lebih optimis di tengah ketidakpastian yang nyata. Di titik ini, tahun baru bisa menjadi tekanan baru, bukan pembebasan.
Karena itu, menyambut tahun baru seharusnya tidak melulu tentang percepatan, tetapi juga tentang keberanian memperlambat. Berhenti sejenak untuk membaca ulang arah, mengoreksi kesalahan, dan mengakui batas. Persiapan terbaik bukanlah yang paling ramai diumumkan, tetapi yang paling jujur dalam menjawab realitas.
Tahun baru sejatinya bukan tentang mengganti angka, melainkan menata ulang makna. Ia bukan jaminan perubahan, tetapi kesempatan. Apakah kesempatan itu diambil dengan kesungguhan atau sekadar dijadikan ritual, sepenuhnya bergantung pada keberanian kolektif kita untuk belajar dari yang lalu.
Sebab tanpa refleksi yang dalam, tahun baru hanya akan menjadi putaran waktu yang berulang baru di kalender, lama di persoalan.
***
*) Oleh : Baihaqie, Kader HMI dan Mahasiswa Hukum Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |