TIMES JATIM, MALANG – Soendari Batik tampil memukau dalam perayaan 25th Anniversary Andre Modelling School dengan menghadirkan pertunjukan live membatik di hadapan para pengunjung. Aksi para pengrajin perempuan yang mengoleskan kuas pada kain batik menjadi daya tarik tersendiri, terlebih saat dipadukan dengan catwalk para model yang memamerkan koleksi batik khas Soendari Batik.
Direktur Soendari Batik, Satria Parama, menuturkan bahwa live membatik tersebut merupakan bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan peran penting pengrajin sekaligus membuktikan bahwa membatik bukanlah proses yang mudah.
“Mulai dari menggambar pola, mencanting, hingga pewarnaan, semuanya membutuhkan ketelatenan dan waktu yang panjang,” ujar Satria.
Ia menegaskan bahwa edukasi tidak hanya ditujukan kepada pelanggan, tetapi juga kepada masyarakat luas. Sejalan dengan misi Soendari Batik, Satria berharap batik dapat terus eksis sebagai kesenian lintas generasi, tidak hanya melekat pada generasi lama, tetapi juga diminati oleh anak muda.
Kain batik bermotif topeng malangan by Soendari Batik. (FOTO: Soendari Batik for TIMES Indonesia)
“Kami memimpikan batik ini bisa dieksplorasi oleh teman-teman muda,” tuturnya.
Menurut Satria, regenerasi dalam kebudayaan Indonesia, khususnya batik, menjadi hal yang sangat penting. Ia mengakui bahwa minat generasi muda terhadap batik sebenarnya mulai tumbuh, terlihat dari gaya “berkain” yang kerap muncul di berbagai acara. Namun, keterlibatan langsung sebagai pengrajin batik masih tergolong minim.
Karena itu, Soendari Batik menjadikan regenerasi perajin sebagai fokus utama. Sejak beberapa waktu terakhir, mereka mulai menghimpun sumber daya manusia dari kalangan muda, terutama Generasi Z, untuk dilatih menjadi pengrajin batik. Langkah ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan batik sebagai warisan budaya Indonesia agar tidak dipandang kuno atau tertinggal zaman.
“Kami ingin pengrajin batik tidak hanya identik dengan orang sepuh saja, tetapi juga generasi muda,” imbuhnya.
Berdiri sejak 2013, Soendari Batik dikenal aktif mengedukasi masyarakat melalui berbagai event dan program kolaborasi. Mereka rutin menggelar pelatihan membatik bagi masyarakat umum. Terbaru, Soendari Batik mengadakan kegiatan piknik membatik di alam terbuka, dan ke depan berencana menyelenggarakan program membatik di situs-situs cagar budaya, seperti kawasan candi.
Tak hanya itu, Soendari Batik juga menjalin kolaborasi dengan sejumlah sekolah di Kota Malang untuk memperkenalkan batik sebagai bagian dari budaya Jawa kepada para siswa sejak dini.
Salah satu produk ready to wear by Soendari Batik. (FOTO: Soendari Batik for TIMES Indonesia)
Dari sisi produk, koleksi Soendari Batik didominasi oleh batik Malangan dengan motif yang terinspirasi dari flora, fauna, serta unsur budaya lokal, seperti motif termbesi, manyar, dan arca atau candi. Selain kain batik, Soendari Batik juga menghadirkan produk ready to wear berupa vest, hem, tunik, dan busana lainnya.
Penjualan Soendari Batik telah menjangkau pasar internasional, dengan galeri yang kerap dikunjungi wisatawan mancanegara. Masyarakat dapat melihat dan membeli koleksi Soendari Batik di galeri yang berlokasi di Jl. PTP II Permata Jl. Soekarno Hatta No. A2, Mojolangu, Lowokwaru, Kota Malang. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |