https://jatim.times.co.id/
Berita

Lukisan Gus Mus dan Beny Dewo di Pameran Mangsa Kalasubo Surabaya

Senin, 02 Februari 2026 - 22:01
Displai Pameran Lukisan Mangsa Kalasubo Tak Sembarangan, Usung Filosofi Tingkat Tinggi Pengunjung menikmati lukisan karya Beny Dewo dan lukisan Gus Mus dalam pameran Mangsa Kalasubo di Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Senin (2/2/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, SURABAYA – Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PWNU Jawa Timur menggelar pameran lukisan nasional bertajuk Mangsa Kalasubo di Gedung Galeri Dewan Kesenian Surabaya, Balai Pemuda.

Pameran dalam rangka Harlah 1 Abad NU ini berlangsung mulai 30 Januari-8 Februari 2026 mendatang dan menampilkan 15 karya pelukis ternama dari berbagai aliran. 

Agung Tatto, art director pendisplay dalam pameran Mangsa Kalasubo berhasil melahirkan sebuah ruang galeri dengan sentuhan filosofi tingkat tinggi. Penataan karya menggambarkan perjalanan batin menuju dunia transendental yang begitu menenangkan. 

"Menata ini saya bikin tiga konsep, ada kamadatu, rupadatu, sama arupadatu," ungkap Agung, Senin (2/2/2026).

Pengunjung-menikmati-lukisan-karya-Beny-Dewo-dan-lukisan-Gus-Mus-eq.jpgNabila Dewi Gayatri berpose berlatarbelakang dua lukisan karyanya dalam pameran Mangsa Kalasubo, Senin (2/2/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Konsep kamadatu berada pada sisi kiri saat memasuki pintu galeri, bagian tersebut mengangkat kehidupan manusia dan alam semesta. Rupadatu berada pada sisi kanan, berupa deretan lukisan surealis.

Sedangkan arupadatu menjadi magnet bagi pengunjung karena tatapan mata akan langsung tertuju ke arah sana ketika memasuki area.

"Nah, yang bagian sini sudah arupadatu, abstrak, dunia atas, maka poinnya di sini," ungkapnya seraya menunjukkan tembok partisi berwarna yang disebut sebagai vocal point penggambaran dunia langit, Senin (2/2/2026).

Tiga lukisan terpajang di deretan konsep arupadatu yang didesain oleh Agung itu. Yaitu lukisan KH Ahmad Mustofa Bisri alias Gus Mus menggunakan bahan akrilik di atas kanvas berukuran 25x30 centimeter. Lukisan abstrak gabungan elemen warna dan emas tanpa judul itu dibuat pada 2022 lalu.

"Lukisan Gus Mus ini adalah sentra pointnya arupadatu, sudah abstrak, tanpa rupa," ungkap Agung.

Penyelenggara bahkan meminta izin kurang lebih satu bulan untuk menampilkan lukisan koleksi pribadi tersebut.

Gus Mus sendiri merupakan seorang ulama, penyair, pelukis, dan budayawan terkemuka Indonesia. Beliau dikenal produktif melahirkan karya sastra yang unik dan reflektif. 

Di samping lukisan Gus Mus, ada lukisan Ipay Katili berjudul Bulalo Limutu Al-Anbiya Ayat 30 berukuran 130x160 centimeter. Lukisan tersebut menggunakan teknik mix media dengan penonjolan relief huruf Arab dan dibuat pada 2018. 

Lukisan Beny Dewo berjudul Mahabbah melengkapi sentra arupadatu dunia atas sejajar dengan lukisan Gus Mus dan Ipay Katili. Beny menggunakan bahan akrilik di atas kanvas berukuran 100x120 centimeter. Ia membuat karya tersebut pada tahun lalu.

Lukisan Beny Dewo kali ini dominan oleh warna hijau, dan tak ketinggalan lingkaran membentuk pola tensor sebagai ciri khas karyanya. Ka'bah menjadi pusat dalam pergerakan kosmos. Goresan Beny Dewo seolah melampaui gravitasi batin penikmatnya.

Sementara Agung Tatto sendiri mengusung karya berjudul Heaven in Hell berupa gambar 'malaikat' yang disiksa di neraka. Sebuah personifikasi hitam putih sifat manusia, yang seakan ingin tampak baik dan sempurna. Namun, di balik itu semua, mereka diam-diam kerap tersandera oleh kesombongan.

Lukisan berbentuk kanvas setengah lingkaran ini menarik perhatian karena menggunakan pena teknik yang membutuhkan ketelitian dan keahlian. Agung bahkan membubuhkan tanda tangan menggunakan mesin khusus.

Pelukis dengan latar belakang arsitektur tersebut sebenarnya membuat dua karya dengan tema yang sama namun dengan judul kebalikannya, Hell in Heaven, setan yang disiksa di surga. 

Karya menarik lainnya adalah milik Kusdian Purnomo berjudul Tindih yang menggunakan teknik gambar, pensil, dan cermin di kanvas. 

Kemudian Woro Indah Lestari, mengusung lukisan berjudul Penjaga Hikmat yang digambarkan sebagai sosok bertubuh buku tanpa rupa dengan akar kuat melindunginya. Jamur, lebah, hidangan, musik, dan semesta tanpa batas. 

Pengunjung-menikmati-lukisan-karya-Beny-Dewo-dan-lukisan-Gus-Mus-b.jpgAgung Tatto bersama lukisan karyanya berjudul Heaven in Hell dalam pameran Mangsa Kalasubo, Senin (2/2/2026). (Foto: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Pelukis Nasirun, menampilkan lukisan cat minyak di atas kanvas berjudul Sinci (Tribute to Gus Dur). Lukisan berukuran 180x150 centimeter itu dibuat pada rentang waktu 2021-2022. Pelukis kelahiran 1965 tersebut masih tetap produktif menghasilkan karya hingga saat ini.

Nabila Dewi Gayatri, sang pelukis Gus Dur, membawakan lukisan berjudul Nishabda berbahan akrilik di atas kanvas berukuran 110x150 centimeter.  

Nishabda memiliki makna hening di tengah dunia materialistis. Lukisan itu bergambar tangan simbol hasrat keduniawian menarik kain terlilit pada tubuh perempuan yang sedang khusyuk sembahyang di tengah keriuhan. 

"Menggambarkan bahwa dalam kondisi dunia saat ini, kalau kita rajin beribadah, pasti hidup kita akan diberkahi Allah," kata Nabila.

Satu lukisan lagi buatannya berjudul Nishabda #2 memiliki makna saat manusia ingin mencapai makrifat, maka perlu menaiki tangga, melewati jalan berliku, menuju keheningan selayaknya suasana di angkasa.

"Saya meyakini nggak akan ada orang bisa mencapai makrifatulloh tanpa syariat," ujarnya.

Maka, tak heran apabila Lesbumi PWNU Jatim melestarikan seni dan budaya sebagai simbol menyampaikan gagasan manusia tentang kisah peradaban dan rasa rindu kepada Tuhan.  

Sebagaimana pameran Mangsa Kalasubo berlambang buah pisang tengadah, ibarat bulan sabit terbalik sebagai puncak menuju rasa pada Yang Agung. Masih ada sejumlah lukisan yang bisa dinikmati selama pameran berlangsung.

Seperti karya Jopram berjudul Panen Hari Ini, bergambar ikan dalam tangkapan, lukisan Joni Ramlan berjudul Life, lukisan Cadio Torompo Ariyadi berjudul Generasi Pembibit Bukan Pembabat, lukisan Acep Zam Zam Noor berjudul Ibu Pertiwi di Bawah Bulan Merah, dan lukisan Norida Chanafia berjudul Bayangan. 

Kemudian, ada pula lukisan Toto Muhammad Setiawan berjudul Jejak Waktu dan I Gede Putra Udiyana menampilkan karya lukis berjudul Legong Dance.

Sekretaris Lesbumi PWNU Jawa Timur, Nabila Dewi Gayatri, mengungkapkan, seni rupa menjadi medium refleksi sekaligus harapan di tengah dinamika sosial bangsa.

"Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang luar biasa dari berbagai pulau. Warisan ini termanifestasi dalam beragam karya, mulai dari tari, seni rupa, teater, hingga sastra, baik lisan maupun tulisan," kata Nabila.

Sementara tema Mangsa Kalasubo diangkat dari khazanah pitutur atau folklor sebagai gambaran masa kemakmuran dan keadilan usai melewati masa kalabendu. Tema itu sekaligus simbol datangnya masa cerah bagi Indonesia. (*)

Pewarta : Lely Yuana
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.