TIMES JATIM, BONDOWOSO – Baru-baru ini Presiden Prabowo Subianto menegaskan Gerakan Nasional Gentengisasi. Hal itu bertujuan untuk memperindah wajah Indonesia.
Dalam pernyataannya di sejumlah media massa, Presiden Prabowo juga menilai atap dari seng rentan berkarat, panas dan tidak enak dipandang.
Program gentengisasi nasional tersebut ternyata dirancang dengan melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) sebagai ujung tombak produksi.
Namun gerakan itu juga menjadi dilema, karena gerai KDMP sendiri dibangun dengan menggunakan atap seng.
Seperti di salah satu gerai KDMP di Kabupaten Bondowoso yang sudah selesai dibangun dan siap beroperasi. Pantauan di lokasi, atap gerai yang berlokasi di Jalan Raya Jember-Bondowoso itu menggunakan seng yang dicat warna merah hati.
Pengusaha genteng lokal Bondowoso, DS berharap, agar KDMP menggunakan produk mereka untuk atap gerai. Namun kenyataannya bangunan KDMP menggunakan seng atau spandek.
"Tidak ada mas (KDMP yang menggunakan genteng, red), menggunakan spandek," katanya saat dikonfirmasi.
Menurut pemilik produksi Genteng Desa Kalianyar itu, seandainya KDMP menggunakan genteng, maka bisa membantu pengusaha lokal seperti dirinya.
Ia juga menegaskan, pembuatan genteng itu tidak mudah. Namun harga jual saat ini relatif murah. Yakni Rp 800 ribu per 1000 genteng. Harga tersebut jika pembeli membawa angkutan sendiri. Jika diantar ke lokasi, maka ada tambahan biaya ongkos kirim.
Saat ini kata dia, bahan dasar untuk membuat genteng juga mahal. Seperti tanah, kayu bakar dan sekamnya.
Ia mengungkapkan, harga tanah satu pikap Rp 120 ribu. "Satu pikap paling jadi 800 genteng ," paparnya, Selasa (3/2/2026).
Sementara untuk kayu Rp 600 ribu satu pikap. Kayu satu pikap tersebut digunakan untuk membakar 6.000 genteng. "Untuk sekam dibutuhkan uang 450 ribu rupiah untuk sekali bakar," paparnya.
Ia memaparkan, tungku pembakaran berkapasitas 6.000 genteng dalam sekali bakar. Oleh karena itu kata dia, dalam sekali bakar, dibutuhkan biaya sekitar Rp 3 juta lebih. Mulai dari biaya tanah, kayu dan sekam. "Jadi mepet hasilnya mas," imbuhnya.
Ia juga mengungkapkan, di tengah musim hujan seperti ini, produksi biasanya lebih lama, karena genteng tidak cepat kering. Bahkan untuk saat ini, satu minggu belum tentu kering, apalagi tidak ada panas sama sekali.
Sementara kalau musim panas biasanya dua hari sudah kering. Sebab setelah dicetak, genteng harus dijemur sebelum akhirnya dibakar.
"Tapi untuk dibakar harus menunggu sampai genteng berjumlah 6000. Kalau ndak nyampek 6000 kan nunggu beberapa hari," paparnya .
Bahkan agar bisa satu kali bakar lanjut dia, harus menunggu satu bulan lebih karena proses pengeringannya lama. Apalagi musim hujan seperti saat ini.
"Sebenarnya kalau proses pembakarannya di tungku hanya butuh 10 jam," ungkapnya.
Ia memaparkan, saat ini genteng miliknya dijual ke warga untuk pembuatan rumah pribadi. Sementara permintaan dari proyek tertentu tidak ada.
Selain itu, penjualan genteng saat ini terbilang lesu. Biasanya, dirinya bisa menjual 12 ribu genteng per bulan, namun belakangan ini baru bisa menjual 6.000, bahkan bisa di bawahnya.
Ia berharap, proyek strategis pemerintah tidak lagi menggunakan atap seng tapi seharusnya menggunakan genteng yang dibeli dari pengusaha lokal.
Bahkan ia mengaku pernah menawarkan produknya untuk dipakai dalam pembangunan KDMP, namun justru ditolak dan mereka tetap pakai spandek.
"Banyak yang ngusulkan sudah mas (ke kontraktornya, red), ke mandornya, ke tukangnya," ungkapnya.
Namun lanjut dia, kemungkinan karena standardisasinya harus pakai seng, akhirnya pakai seng semua.
"Sekarang penjualan genteng lesu, gak normal mas," pungkasnya. (*)
| Pewarta | : Moh Bahri |
| Editor | : Imadudin Muhammad |