TIMES JATIM, MALANG – v class="_63c77b1 ds-message" style="--panel-width:0px">
Budidaya selada air menjadi salah satu komoditas pertanian yang menjanjikan di Desa Gubuk Klakah, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.
Sayuran yang mengandalkan aliran air ini memiliki harga stabil di pasaran dan masa panen yang relatif singkat, yakni setiap dua bulan sekali.
Salah satu petani sukses di wilayah tersebut adalah Ibu Suminah (53).
Perjalanannya dimulai sebagai buruh panen selama bertahun-tahun sebelum akhirnya memiliki lahan sendiri. “Awalnya saya hanya buruh panen. Sepuluh tahun terakhir baru mengelola lahan sendiri,” tuturnya, Senin (2/2/2026).
Kini, dalam setiap periode panen dua bulanan, Ibu Suminah mampu menghasilkan 5.000 hingga 7.000 ikat besar selada air. Harga jual di tingkat petani mencapai Rp10.000 per ikat besar, yang terdiri dari 12 ikat kecil berukuran segenggaman tangan orang dewasa.
Ibu Suminah mengelola usaha pertanian ini bersama suaminya, Pak Michael (63), serta ketiga putranya, Sandi, Zainul, dan David.
Mereka secara aktif mengembangkan budidaya selada air dengan sistem yang mengandalkan air mengalir, salah satu kunci keberhasilan komoditas ini.
Dengan permintaan pasar yang stabil dan sistem budidaya yang tepat, selada air menjadi komoditas unggulan dan sumber penghasilan berkelanjutan bagi keluarga Ibu Suminah serta petani lainnya di kawasan Poncokusumo. (*)