Cinta Terlarang dan Sumpah Dua Kubu, Mengapa Mitos Mirah Golan di Ponorogo Tak Pernah Pudar?
Ilustrasi jejak perseteruan tokoh sakti Ki Ageng Mirah dan Ki Ageng Honggolono yang menjadikan mitos Mirah Golan di Ponorogo. (Foto: Disbudparpora Ponorogo)

Cinta Terlarang dan Sumpah Dua Kubu, Mengapa Mitos Mirah Golan di Ponorogo Tak Pernah Pudar?

Di antara hamparan sawah hijau dan aliran sungai yang tenang di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tersimpan sebuah garis batas tak kasat mata namun setajam belati. Garis itu memisahkan dua desa yang bertetangga dekat, Desa Golan

TIMES Jatim,Sabtu 6 Desember 2025, 08:57 WIB
9.5K
M
M. Marhaban

PONOROGODi antara hamparan sawah hijau dan aliran sungai yang tenang di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, tersimpan sebuah garis batas tak kasat mata namun setajam belati. Garis itu memisahkan dua desa yang bertetangga dekat, Desa Golan dan Desa Mirah.

​Bagi orang luar, kedua desa ini tampak biasa saja. Namun bagi warga setempat, ada "tembok tebal" yang dibangun oleh sejarah kelam masa lalu. 

Inilah kisah tentang Mitos Mirah Golan, sebuah legenda "Romeo dan Juliet" versi Jawa yang menyisakan pantangan berat hingga detik ini. ​Bukan sekadar dongeng pengantar tidur, mitos ini hidup, bernapas, dan "mengawasi" keseharian warga. Pelanggaran terhadap pantangan ini dipercaya bukan hanya membawa sial, tapi petaka yang nyata.

​Jejak Perseteruan Dua Tokoh Sakti

​Akar dari mitos ini bermula dari perseteruan dua tokoh sakti pendiri desa, Ki Ageng Honggolono dari Golan dan Ki Ageng Mirah dari Mirah. Keduanya memiliki perbedaan prinsip yang tajam, baik dari segi keyakinan maupun cara pandang.

​Namun, ironi takdir mempertemukan anak-anak mereka. Joko Lancur (putra Ki Ageng Honggolono) dan Siti Amirah (putri Ki Ageng Mirah) jatuh cinta. Kisah asmara ini tidak mendapat restu, berujung pada kematian tragis keduanya, dan terucapnya sumpah serapah dari sang orang tua yang patah hati dan murka.

​Sumpah itulah yang kini menjadi ugeman (pegangan) warga. Ada beberapa pantangan utama yang konon tak boleh dilanggar, di antaranya:

​Warga Golan dan Mirah dilarang besanan (menikah).
​Dilarang mengisi air dari desa tetangga.
​Jenis masakan/oleh-oleh tertentu (seperti kedelai/batik) dilarang dibawa melintasi batas desa.

​Suara hati 
​Suyono (75), salah satu sesepuh di wilayah Ponorogo, menatap nanar ke arah sungai yang membelah kedua wilayah tersebut saat ditemui sore kemarin, Jumat (6/12/2025). Wajahnya serius ketika ditanya mengenai kebenaran mitos ini di era digital.

​"Nak, iki dudu masalah percaya utawa ora (Nak, ini bukan masalah percaya atau tidak). Ini soal menghormati leluhur. Sudah banyak kejadian, mereka yang nekat melanggar, rumah tangganya hancur berantakan. Ada yang sakit-sakitan tanpa sebab, bangkrut, bahkan sampai meninggal dunia," ujar Suyono kepada TIMES Indonesia, dengan suara parau namun tegas.

​Menurutnya, kearifan lokal ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga keselamatan anak cucu.

​"Wong tuwo kuwi 'sabda pandita ratu'. Apa yang diucapkan leluhur dulu, energinya masih ada sampai sekarang. Jangan sekali-kali menantang 'walat' (kualat)," tambahnya sembari membetulkan letak kopiahnya.

Ketaatan yang mengakar ​meski zaman sudah modern dan Ponorogo telah berkembang pesat, nyatanya statistik pernikahan antar kedua desa ini nyaris nihil. Ketaatan ini terjadi secara organik, ​banyak pemuda-pemudi setempat yang memilih mundur teratur jika mengetahui pasangannya berasal dari desa "musuh" tersebut. Ketakutan akan kegagalan rumah tangga dan sanksi sosial jauh lebih besar daripada logika asmara modern.

​Selain soal pernikahan, dalam acara hajatan atau kenduri, warga juga sangat berhati-hati. Misalnya, warga Golan pantang membawa barang bawaan berupa kayu dan kedelai ke Desa Mirah, begitu pun sebaliknya. Jika dilanggar, dipercaya nasi yang dimasak tidak akan matang atau acara akan kacau balau.

​Bagi Suyono, mitos Mirah Golan adalah aset tak benda yang unik. "Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tutur lisan (oral tradition) dalam membentuk struktur sosial masyarakat Jawa.

​Kisah Joko Lancur dan Siti Amirah menjadi pengingat bahwa ego sektoral dan dendam masa lalu bisa berdampak panjang hingga ratusan tahun lamanya," ujarnya.

Kini, warga Golan dan Mirah hidup berdampingan secara damai dalam urusan administrasi dan pergaulan sehari-hari, namun "tembok" aturan adat itu tetap berdiri kokoh tak tersentuh.

"​Mitos Mirah Golan membuktikan satu hal, di tanah Jawa, masa lalu tidak pernah benar-benar mati. Ia hidup berdampingan dengan masa kini, menjaga batas-batas yang tidak boleh dilangkahi," tutur Suyono. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita ini juga tayang di portal nasional

Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

Baca di sini
Penulis:M. Marhaban
|
Editor:Ferry Agusta Satrio

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.