Ribuan Pelajar di Bondowoso Semarakkan Pawai Lampion Tahun Baru Islam
Suasana malam di pusat Kota Bondowoso dipenuhi cahaya warna-warni dari ribuan lampion yang dibawa para pelajar dalam Pawai Lampion Muharram.
Bondowoso – Suasana malam di pusat Kota Bondowoso dipenuhi cahaya warna-warni dari ribuan lampion yang dibawa para pelajar dalam Pawai Lampion Muharram, Selasa (16/6/2026) malam. Kegiatan yang menjadi bagian dari Festival Muharram itu diikuti lebih dari seribu siswa dari berbagai jenjang pendidikan.
Dengan penuh antusias, para peserta berjalan mengelilingi sejumlah ruas jalan utama kota sambil membawa lampion hasil karya masing-masing sekolah. Beragam bentuk unik dan kreatif menghiasi pawai, mulai dari bulan sabit, bunga teratai, tumpeng, hingga lampion berbahan janur kuning yang dirangkai secara artistik.
Kreativitas para pelajar terlihat dari pemanfaatan bahan daur ulang dalam pembuatan lampion. Banyak peserta menggunakan botol plastik bekas, galon air mineral, hingga peralatan rumah tangga yang sudah tidak terpakai.
Salah satunya ditampilkan siswa SMP Negeri 5 Bondowoso yang menghadirkan lampion berbentuk bunga. Hiasan tersebut dibuat dari kombinasi sendok plastik dan galon bekas yang disulap menjadi karya bernilai estetis.
"Ini dari sendok bekas, dari galon bekas juga," ujar Imah, salah seorang siswi SMP Negeri 5 Bondowoso.

Sementara itu, SMP Negeri 7 Bondowoso memilih konsep berbeda dengan mengusung bahan alami yang lebih ramah lingkungan. Para siswa memanfaatkan janur kuning yang dianyam dan dibentuk menyerupai lampion, sehingga tampil unik di antara peserta lainnya.
Sepanjang perjalanan pawai, lantunan selawat dan lagu-lagu religi mengiringi langkah para peserta. Nuansa religius berpadu dengan semangat kebersamaan menjadikan peringatan Tahun Baru Islam terasa lebih hidup dan bermakna.
Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Safi’i, mengatakan pawai lampion tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga sarana untuk mengingat kembali makna hijrah Nabi Muhammad SAW sekaligus mengajak masyarakat menyambut tahun baru Islam dengan kegiatan yang positif.
Menurutnya, lampion dipilih karena memiliki filosofi yang erat dengan perjalanan hidup dan semangat perubahan ke arah yang lebih baik.
"Lampion itu bercahaya. Berharap perjalanan kita dalam menjalani kehidupan di tahun 1448 H ini terus bercahaya, terang benderang, dan penuh dengan keberuntungan," katanya.
Selain membawa pesan edukatif dan keagamaan, kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Ribuan warga yang memadati area pawai turut meramaikan lapak-lapak UMKM yang berjejer di sekitar lokasi kegiatan.
"Sehingga ada perputaran ekonomi di dalamnya," imbuh As’ad.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Taufan Restuanto, menjelaskan bahwa pawai lampion tahun ini diikuti 36 lembaga pendidikan yang terdiri atas 15 Sekolah Dasar (SD), 11 Sekolah Menengah Pertama (SMP), serta 9 SMA, SMK, dan MA.
"Ini merupakan rangkaian dari Festival Muharram," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pawai lampion bukan sekadar kegiatan berjalan malam sambil membawa hiasan lampu. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang menanamkan berbagai nilai positif kepada peserta didik.
Mulai dari membangun semangat gotong royong saat proses pembuatan lampion, mengembangkan kreativitas, hingga memperkuat karakter melalui penerapan tujuh kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
"Tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

