Pameran Simulakra #2, Lukisan Saiful Yatim Lempar Kritikan Tajam Kerusakan Hutan
12 pelukis menampilkan karya terbaik mereka dalam pameran seni rupa bertema kritik sosial bertajuk "Simulakra #2" di Galeri Prabangkara Surabaya.
SURABAYA – Sejumlah pelukis kembali menampilkan karya terbaik mereka dalam pameran seni rupa bertajuk "Simulakra #2" di Galeri Prabangkara Surabaya. Pameran ini berlangsung mulai 24-30 Juni 2026.
Sebagaimana tema menembus batas realitas dan ilusi, karya 12 seniman dari berbagai aliran seakan memanjakan mata sekaligus memantik nalar kritis.
Pameran 'Simulakra #2' memang hadir sebagai ruang refleksi kolektif. Dua belas seniman berhasil membawa perspektif, keresahan, dan interpretasi visual yang sangat personal namun saling bertautan.
Salah satunya adalah karya pelukis asal Jember, Saiful Yatim. Seniman kawak tersebut berhasil menyuguhkan kritik moral atas kerusakan alam melalui lukisan monokromatik "Para Penguasa Tambang Negara" dan "Raksasa-raksasa Perusak Hutan Nusantara" berukuran 150x200 cm. Lukisan ini seolah menggambarkan kekuatan adidaya tak tersentuh di balik tirani.
Lewat karya itu, konsep Simulakra mewujud nyata dengan satir visual yang sangat tajam sekaligus memukau. Tampilan jalinan padat fitur mitologis. Namun, narasi sakral makhluk spiritual Nusantara ini diinterupsi oleh cap adminstratif "Dephut" dan nomor SK di sudut kanvas.
Lukisan lain yang ia tampilkan berjudul "Suradira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti" berukuran serupa.
Saiful Yatim begitu teliti menjalin ratusan karakter pewayangan dan fitur jenaka Punakawan yang berdesakan memenuhi seluruh ruang kanvas monokrom. Komposisi ini merepresentasikan hilangnya narasi agung menjadi sebuah peradaban yang bising.
Berbeda dengan dua karya lainnya, lukisan berjudul "Stop Deforestasy" berukuran 140x140 cm menampilkan kanvas penuh warna ekspressionis dan melankolis melalui wajah perempuan berhias etnik.
Latar belakang lanskap alam hijau kontras dengan ekskavator serta alat berat yang menyusup di sela-sela pepohonan. Lukisan potret ini seakan menjadi sebuah iklan konservasi.
"Kalau mereka tak memahami ekosistem, belajarlah memahami hak hidup plasma nutfahnya. Mereka tak mampu menggunakan imajinya, sudah tau bencana gelondongan bernomor masih diokupasi. Sementara ekosistem yang hancur masih terlantar," ungkap pensiunan guru seni rupa ini, Jumat (26/6/2026).
Saiful Yatim mengaku setiap karyanya adalah renungan dan kegelisahan batin melihat isu-isu faktual. Ia memang dikenal kerap melemparkan kritik sosial tajam lewat lukisan.
"Inspirasinya mengalir dan lahir begitu saja lalu saya tuangkan di kanvas," katanya.
Dalam beberapa waktu terakhir usai pensiun, hari-harinya sibuk dengan kuas dan kanvas. Melukis baginya telah menjadi jalan hidup menikmati waktu. Ia memastikan tak akan berhenti berkarya dan terus menularkan semangat itu kepada anak-anak didiknya.
Kehadiran karya Saiful Yatim di ruang seni Simulakra yang diselenggarakan oleh K5 Art Project ini turut diramaikan oleh perupa lain dari berbagai daerah.
Ada Paul Hendo. Ia membawa karya bertajuk "Yang Berjalan dengan Pikirannya" berupa lukisan monolog visual yang sunyi namun menghentak. Sosok monokromatis bertubuh legam mendekap topi anyaman bambu dan lukisan berjudul "Rame ing Pamrih Sepi ing Gawe".
Karya menarik lain datang dari Sutrisno dengan lukisan berjudul "Tujuh Turunan" berupa susunan vertikal karakter topeng pewayangan. Kemudian seni lukis abstrak karya Saiful Bachri bertajuk "Sebuah Ilusi" dan "Perjalanan Rohani".
Mengangkat tajuk "Simulakra #2", pameran ini sungguh mengeksplorasi batas yang kian kabur antara realitas asli dan representasi buatan di era modern.
Melalui beragam pendekatan medium seni rupa, para seniman mencoba merespons bagaimana citra, ilusi, dan persepsi bentukan media sering kali dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri.
"Kami ingin mengajak masyarakat penikmat seni tidak hanya sekadar mengagumi estetika, tetapi juga kritis dalam membaca realitas sosial yang penuh dengan distorsi informasi di sekitar kita," ujar Budiamin, S.Pd., M.Pd., selaku ketua pelaksana Pameran "Simulakra #2".
Ia menjelaskan, pameran ini menampilkan karya-karya terpilih dari 12 seniman lintas generasi yang memiliki karakter visual kuat dan rekam jejak artistik yang solid.
Mulai Ahmad Zaeni, Aryasatya Janitra Reswara, Budiamin, Esthi Hayati, Feri Widyo, Hary Eko, Imam Su'udy, Markus Karang Surojo, Paul Hendro, Saiful Yatim, Sutrisno, dan Yudi Hariyanto
K5 Art Project mengundang seluruh kritikus seni, kolektor, akademisi, serta masyarakat umum untuk hadir dan mengapresiasi pameran ini. Pameran terbuka gratis setiap hari hingga 30 Juni 2026, sesuai dengan jam operasional galeri.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

