Wakil Rektor IV UIN Maliki Malang Menilai Selebrasi Kelulusan Gen Z Wajar dan Tak Berlebihan
Wakil Rektor IV UIN Maliki Malang menilai tren selebrasi kelulusan Gen Z merupakan hal wajar sebagai bentuk syukur, namun pendidikan tetap harus menjadi fokus utama.
MALANG – Wakil Rektor IV Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang), Prof Abdul Hamid menyoroti selebrasi Gen Z pasca sidang kelulusan.
Menurutnya, hal itu merupakan proses yang wajar dalam menunjukkan prestasi dan perjuangan yang telah dilalui.
Melalui sesi pemotretan berjam-jam, dekorasi khusus, hingga rangkaian konten yang telah disiapkan untuk diupload di media sosial sejatinya adalah cara mereka dalam mengungkapkan syukur, bukan berlebihan.
Prof Abdul Hamid menilai, fenomena ini tidak terjadi pada generasi 1980-an hingga 1990-an. Menurutnya, generasi dulu cukup bersyukur, bangga, dan lega karena berhasil menuntaskan perjuangan akademiknya.
“Generasi dulu ketika lulus skripsi yang mereka bersyukur, bangga, dan lega, tetapi tidak sampai ada sesi pemotretan berjam-jam atau rencana konten untuk diunggah di media sosial,” ujarnya.
Ia menilai setiap generasi tumbuh di lingkungan sosial, budaya, dan teknologi yang berbeda.
Perbedaan cara merayakan kelulusan bukan berarti perubahan karakter individu, tetapi proses transformasi budaya yang sedang berlangsung.
Ia mengatakan, dalam konteks kelulusan, perayaan pasca sidang bukan sekadar ungkapan kegembiraan pribadi, tetapi menjadi bagian dari proses untuk menampilkan identitas diri.
“Buket bunga, balon, selempang, toga, dokumentasi profesional, hingga unggahan media sosial merupakan simbol-simbol yang menyampaikan pesan bahwa sebuah perjuangan telah berhasil dituntaskan,” tambahnya.
Hal ini semakin relevan dengan konteks masyarakat digital, di mana masyarakat saat ini sedang mengalami transformasi dari culture of experience menuju culture of representation.
Masyarakat digital menganggap peristiwa belum lengkap apabila belum didokumentasikan. Dokumentasi bukan sekadar arsip, tetapi menjadi bagian dari pengalaman itu sendiri.
Meski demikian, Prof. Abdul Hamid juga menyampaikan bahwa fenomena ini dapat juga menjadi ruang refleksi.
Sejatinya, kelulusan bukanlah garis akhir perjuangan, tetapi pintu masuk menuju kehidupan yang jauh lebih panjang.
“Perayaan adalah hal yang wajar sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras, tetapi selebrasi sebaiknya tidak menggeser makna pendidikan itu sendiri,” imbuhnya.
Lanjutnya, pendidikan memiliki makna kuat dalam membangun ilmu pengetahuan, karakter, integritas, dan tanggung jawab sosial.
Perjalanan akademik itulah yang terlihat. bukan dari seberapa banyak buket bunga yang didapatkan.
Tetapi bagaimana ilmu yang diperoleh diterjemahkan menjadi solusi bagi persoalan masyarakat, bagaimana integritas dijaga ketika menghadapi tantangan kehidupan, dan bagaimana pengetahuan digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Ia menilai Gen-Z memiliki banyak potensi. Mereka kreatif, adaptif terhadap teknologi, cepat belajar, dan mampu membangun jejaring secara global.
Hal tersebut yang harus dimanfaatkan bersama kedalaman ilmu, etika akademik, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Sementara itu, media sosial sebagai sarana menyebarkan inspirasi, membangun kolaborasi, dan memperluas manfaat, bukan sekadar ruang untuk mempertontonkan pencapaian.
“ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan, integritas akademik yang dijaga, serta kontribusi nyata kepada masyarakat akan tetap hidup jauh setelah euforia kelulusan berakhir,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

