Pacitan Dibayangi Kekeringan, Krisis Air Bersih Meluas Hingga Petani Merana
Selain kawasan pinggiran kota, ancaman kekeringan juga dilaporkan mulai menggerogoti wilayah pelosok lain.
PACITAN – Dampak kemarau panjang yang melanda Kabupaten Pacitan sejak April 2026 lalu makin mengkhawatirkan.
Kondisi ekstrem ini memicu krisis air bersih yang meluas di berbagai kecamatan, membakar lahan pertanian, hingga memukul sektor peternakan warga.
Dampak krisis ini dirasakan nyata oleh Widiarto (47), warga Desa Nanggungan. Ia mengeluhkan minimnya pasokan air yang membuat ladang pertanian merana.
Rumput gajah yang diandalkannya untuk pakan ternak kini mulai mengering dan berubah warna menjadi kecokelatan.
Meski desanya berada persis di hamparan aliran Sungai Grindulu, hal itu tidak menjadi jaminan. Sumur-sumur milik warga ikut mengering seiring menyusutnya debit air sungai.
"Soalnya sungainya sekarang semakin dangkal. Akhirnya sumur warga juga terdampak," ujar Widiarto saat ditemui di lokasi.
Ia menambahkan, wilayah desanya memang selalu menjadi langganan krisis air saban tahun.
Kondisi serupa dialami warga Dusun Bedayu, Desa Bolosingo, Kecamatan Pacitan. Di wilayah ini, krisis air bersih bahkan sudah merayap sejak awal musim kemarau.
Sekretaris Desa Bolosingo, Munawan, membenarkan bahwa pasokan air bersih di kawasannya sudah sangat kritis.
Sejumlah sumur bantuan yang pernah dibangun pemerintah pun tak berkutik dan ikut mengering. "Sementara iya. Sekitar 50 KK terdampak," ungkap Munawan saat dikonfirmasi, Selasa (21/7/2026).
Munawan menjelaskan, dusun yang terdiri dari dua RT dengan total 55 KK tersebut memang kerap menjadi langganan kekeringan tahunan karena debit sumber air lokal yang tidak memadai saat hujan absen dalam waktu lama.
Jeritan serupa datang dari warga Dusun Kwaron, Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan. Tri Anjar Waluyo, warga setempat, mengaku sangat khawatir dengan stok air baku yang kian menipis untuk kebutuhan harian maupun pertanian.
"Air baku sudah mulai menipis stoknya. Padahal buat kebutuhan sehari-hari saja kembang-kempis, tanaman banyak yang daunnya mengering," kata Anjar.
Sama seperti Nanggungan, Desa Tambakrejo yang sejatinya berada dekat aliran Sungai Grindulu tetap tak luput dari bencana kekeringan tahunan.
Anjar menilai, persoalan ini tak lepas dari kerusakan lingkungan di area sekitar.
"Dugaan eksploitasi alam berlebihan tanpa dibarengi dengan konservasi lingkungan bikin ketahanan air tiap tahun merosot," tegasnya.
Selain kawasan pinggiran kota, ancaman kekeringan juga dilaporkan mulai menggerogoti wilayah pelosok lain.
Di antaranya Desa Kendal di Kecamatan Punung, serta Dusun Krajan dan Dusun Ploso di Desa Klepu, Kecamatan Donorojo, yang warganya kini mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

