https://jatim.times.co.id/
Opini

Isra Mikraj dalam Budaya Religi Islam

Kamis, 15 Januari 2026 - 18:53
Isra Mikraj dalam Budaya Religi Islam Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD negeri 4 Sawojajar.

TIMES JATIM, MALANG – Bagi umat Islam, Isra Mikraj bukan sekadar peristiwa sejarah yang dicatat dalam kitab-kitab sirah. Ia adalah perjalanan spiritual yang hidup, bergerak, dan terus berdenyut dalam kebudayaan umat hingga hari ini. 

Setiap kali bulan Rajab tiba, kisah tentang perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus langit hingga Sidratul Muntaha, kembali diceritakan, bukan hanya dari mimbar masjid, tetapi juga dari ruang-ruang budaya: pengajian kampung, tradisi tahlilan, pembacaan maulid, hingga obrolan keluarga di teras rumah.

Isra Mikraj adalah peristiwa langit yang membumi. Ia turun dari dimensi ilahi ke dalam bahasa manusia, lalu menjelma menjadi ingatan kolektif umat. Dalam tradisi Nusantara, peristiwa ini tidak hanya dipahami sebagai mukjizat, tetapi juga sebagai penanda kedekatan antara Tuhan, nabi, dan manusia biasa yang menjalani hidup dengan segala luka dan harapannya.

Perjalanan itu terjadi pada saat Nabi berada di titik paling sunyi dalam hidupnya. Tahun itu dikenal sebagai tahun kesedihan. Khadijah, istri yang menjadi penopang jiwa, wafat. 

Abu Thalib, pelindung dari tekanan Quraisy, pergi menyusul. Dakwah di Thaif ditolak dengan lemparan batu. Di tengah luka itulah, langit seperti membuka pintunya. Nabi diangkat, bukan untuk melarikan diri dari dunia, tetapi untuk dikuatkan sebelum kembali menghadapinya.

Dalam perspektif budaya religi, Isra Mikraj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari luka. Bahwa kedekatan dengan Tuhan sering justru muncul setelah manusia jatuh ke titik paling rendah. Maka umat Islam tidak merayakan Isra Mikraj sebagai pesta, melainkan sebagai perenungan: tentang sabar, tentang teguh, tentang tetap berjalan meski dunia terasa sempit.

Kisah Buraq yang membawa Nabi menembus ruang dan waktu juga hidup dalam imajinasi kolektif umat. Ia bukan sekadar makhluk bersayap, melainkan simbol bahwa perjalanan ruhani selalu melampaui logika sehari-hari. 

Dalam banyak ceramah kampung, Buraq digambarkan sebagai kendaraan cahaya. Dalam sastra Islam klasik, ia menjadi metafora percepatan batin. Dalam budaya pesantren, kisah ini diajarkan sebagai bukti bahwa iman tidak selalu tunduk pada hukum fisika, tetapi pada keyakinan.

Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Adegan ini sering diceritakan ulang dalam pengajian sebagai simbol estafet kenabian, sekaligus penegasan bahwa risalah Islam bukan agama yang berdiri sendiri, tetapi lanjutan dari mata air yang sama: tauhid. 

Dalam budaya religi umat, bagian ini menumbuhkan rasa persaudaraan lintas zaman, bahwa iman adalah perjalanan panjang umat manusia mencari Tuhan yang satu.

Puncak Mikraj, ketika Nabi menerima perintah salat, menjadi inti dari seluruh perjalanan. Tidak ada perintah zakat, puasa, atau haji yang turun di langit. Hanya salat. Dalam bahasa budaya, ini seolah pesan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, manusia perlu satu ruang sunyi untuk berdialog langsung dengan Penciptanya. Lima waktu salat adalah jejak kecil dari perjalanan agung itu, fragmen langit yang ditanam di bumi.

Karena itu, di banyak kampung, peringatan Isra Mikraj selalu dikaitkan dengan ajakan memperbaiki salat. Bukan hanya benar gerakannya, tetapi hadir hatinya. Tradisi ini menunjukkan bagaimana peristiwa kosmik diterjemahkan menjadi etika harian. Langit tidak dibiarkan jauh, tetapi ditarik masuk ke sajadah.

Menariknya, Isra Mikraj tidak hanya hidup dalam teks agama, tetapi juga dalam ekspresi budaya. Di sebagian daerah, ada tradisi kenduri Rajab. Di tempat lain, ada pembacaan syair-syair pujian tentang perjalanan Nabi. 

Anak-anak diajak mendengar kisah itu seperti dongeng suci, yang menanamkan keberanian, kesetiaan, dan cinta pada Rasul sejak dini. Inilah cara budaya bekerja: mengikat ajaran langit ke dalam ingatan bumi.

Dalam dunia modern yang serba cepat dan rasional, kisah Isra Mikraj sering diperdebatkan secara logika. Ada yang bertanya bagaimana mungkin tubuh manusia menembus langit dalam satu malam. 

Namun bagi budaya religi, pertanyaan itu bukan untuk dijawab dengan rumus, melainkan dengan makna. Bahwa manusia tidak hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk spiritual yang rindu pulang.

Isra Mikraj mengingatkan bahwa agama bukan sekadar kumpulan hukum, tetapi perjalanan batin. Nabi Muhammad SAW tidak hanya membawa wahyu, tetapi juga menapaki sunyi, luka, dan kesetiaan, sebelum akhirnya membawa pulang hadiah berupa salat untuk umatnya.

Maka setiap kali Isra Mikraj diperingati, yang sebenarnya kita rayakan bukan hanya peristiwa masa lalu, melainkan harapan masa kini: bahwa di tengah dunia yang sering terasa bising dan melelahkan, selalu ada jalan sunyi menuju langit, selama manusia masih mau menundukkan kepala dan melangkahkan hati.

***

*) Oleh : Abdul Aziz, S.Pd., Guru SD negeri 4 Sawojajar.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.