TIMES JATIM, MALANG – Universitas Brawijaya (UB) memperkuat komitmen internasionalisasi pendidikan pascasarjana melalui seminar program double degree dan joint degree yang berkolaborasi dengan perguruan tinggi luar negeri. Kegiatan ini digelar di Gedung Algoritma Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB, Senin (2/2/2026).
Seminar bertajuk “Seminar for Graduate School: Driving Global Competitiveness in Graduate Education Through Joint/Double Degree Program” tersebut memaparkan konsep serta mekanisme program joint degree dan double degree. Joint degree dimaknai sebagai program studi yang sama ditempuh mahasiswa di dua perguruan tinggi, sementara double degree memungkinkan mahasiswa menempuh program studi berbeda di masing-masing perguruan tinggi mitra.
Upaya internasionalisasi ini ditandai dengan kolaborasi UB bersama Universiti Putra Malaysia (UPM) dan National Central University (NCU) Taiwan. Melalui kerja sama tersebut, UB menargetkan percepatan pengembangan kebijakan dan implementasi program pascasarjana berstandar global.
Wakil Rektor I Bidang Akademik UB, Prof. Imam Santoso, menyampaikan bahwa mahasiswa akan didorong untuk menempuh sebagian masa studi di luar negeri sebagai bagian dari penguatan kompetensi akademik dan jejaring internasional.

Salah satu daya tarik program ini adalah skema biaya. Mahasiswa tidak diwajibkan membayar UKT di kampus luar negeri yang nilainya dapat mencapai sekitar Rp30 juta. Mahasiswa cukup membayar UKT di UB, namun tetap berkesempatan memperoleh dua gelar akademik dari perguruan tinggi mitra.
Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. Benny Bandanadjaja, S.T., M.T., selaku Director of Directorate of Learning and Student Affairs, Directorate General of Higher Education; Dr. Agam Bayu Suryanto, S.E., M.BA., Head of Scholarship Partnership and Program Development Division; serta Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop., Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University.
Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Aji Setyanto, M.Litt., menilai program ini berpotensi memberikan dampak positif bagi berbagai pihak. Bagi mahasiswa, program double dan joint degree membuka akses pengalaman akademik internasional dengan daya saing global. Sementara bagi institusi, kolaborasi ini dinilai berkontribusi pada peningkatan peringkat universitas, capaian Indikator Kinerja Utama (IKU), serta penguatan publikasi riset internasional.
“Kegiatan ini memberikan banyak dampak positif bagi banyak pihak, sehingga tidak ada ruginya,” ujarnya. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Imadudin Muhammad |