Kopi TIMES

Memahami Gender secara Moderat

Sabtu, 14 Oktober 2023 - 08:36
Memahami Gender secara Moderat Ahmad Raziqi M.E. (Alumni UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dosen STIS Darul Falah Bondowoso)

TIMES JATIM, BONDOWOSO – Gender merupakan fenomena sosial yang menarik untuk diperbincangkan. Gender membuka wawasan bagi perempuan dan laki-laki untuk memiliki peran sosial yang adil. Akan tetapi, masih banyak sebagian  pihak beranggapan bahwa gender harus setara. 

Kesetaraan gender menjadi kampanye besar bagi pihak perempuan yang merasa peran sosialnya dibatasi oleh laki-laki melalui feminisme. Sedangkan laki-laki juga tidak kalah menyuarakan kesetaraan gender melalui maskulinitas ketika peran sosialnya dirasa didominasi oleh perempuan. 

Tentunya dengan demikian akan melahirkan kondisi dikotomi peran sosial antara perempuan dan laki-laki. Sebenarnya kedunya hanya perlu mengkotemplasikan kodrat mereka dan membijaksanakan diri. Bahwa antara laki-laki dan perempuan itu memiliki peran yang adil dalam aspek sosial. Ingat bahwa adil itu tidak harus sama.

Dalam Webster’s New World Dictionary gender dimaknai dengan “perbedaan yang jelas antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku”. Pembahasan tentang gender perlu kita akui adalah hal yang masih baru bukan? Shorwalter mengemukakan wacana gender mulai gembar gembor diperbincangkan di awal tahun 1977, tatkala di kota London sekelomok feminis menolak menggunakan Patriarchal atau sexist. Mereka kemudian menggantinya dengan diskursus gender. 

Dalam buku Sex  and Geender Introduction Hilary M. Lips mengartikan bahwa gender sebagai suatu intensi budaya terhadap laki-laki dan  perempuan. Kemudian kaum feminis, seperti Lindsey beranggapan semua ketetapan masyarakat mengenai maskulinitas atau feminitas seseorang dan  juga mengarah terhadap aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek non biologis lain.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata gender belum masuk dalam pembendaharaan kata. Akan tetapi gender sudah banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Sehingga kata gender lazim dipakai di Instansi negara seperti di kementerian negara urusan peran wanita dengan ejaan gender. 

Nazaruddin umar misalkan mendefinisikan gender sebagai bentuk penafsiran mental dan kultur terhadap perbedaan kelamin. Konsepsi gender diperuntukan sebagai identifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi sosial budaya. Sementara Ann Oakley menganggap gender adalah pembeda selain aspek biologis, tetapi lebih pada perilaku yang diciptakan oleh laki-laki dan perempuan itu sendiri dengan fase sosial dan kultural yang panjang sehingga melembaga di tengah masyarakat.

Instruksi Presiden No 9 Tahun 2000 disebutkan bahwa konsepsi gender mengacu terhadap peran dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan yang terjadi akibat dari dan dapat berubah oleh keadaan sosial dan budaya masyarakat. 

Secara sederhana dapat dipahami dari berbagai definisi diatas bahwa gender adalah konsep yang diperuntukan dalam mengidentifikasi perbedaan laki-laki  dan  perempuan dilihat dari segi pengaruh sosial budaya. Gender merupakan rekayasa masyarakat atau konstruksi sosial dan bukan ranah yang bersifat kodrati.

Dari pemahaman diatas dapat dimengerti bahwa kesetaraan gender akan melahirkan konsekuensi konflik akibat pengkotak-kotakan peran bagi laki-laki dan perempuan. Gender juga melahirkan ideologi feminisme dan maskulinitas yang berakibat kepada fanatisme ideologi jika tidak memahaminya secara moderat.

Memahami gender secara moderat adalah mempelajari serta mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai moderat. Karena gender merupakan konstruk sosial yang membedakan laki-laki dan perempuan secara peran, diperlukan sikap moderat didalamnya. Karena perbedaan jika tidak dijembatani oleh sikap moderat akan menimbulkan ketimpangan yang merugikan entah kepada laki-laki atau perempuan.

Mempraktikkan gender secara moderat artinya adalah menggunakan pendekatan sikap tengah-tengah dan berimbang dalam menanggapi peran sosial antara laki-laki dan perempuan. Sikap moderat dalam gender akan melahirkan keseimbangan, pikiran rasional dan inklusif terhadap berbagai gagasan yang ada tentang peran sosial antara laki-laki dan perempuan. 

Nilai-nilai moderat seperti keterbukaan (inklusif) terhadap berbagai ide, pandangan dan menghargai budaya yang berbeda tentang gender. Bergender secara moderat juga diperlukan pikiran rasional tentang peran perempuan dan laki-laki yang sebenarnya harus saling melengkapi bukan mendominasi apalagi mendiskriminasi. Sehingga peran sosial antara laki-laki dan perempuan perlu diarahkan terhadap keseimbangan gender.

Maka dari itu, sikap toleran terhadap laki-laki dan perempuan dalam persoalan peran, akan menciptakan pemahaman gender secara moderat, artinya bisa saja tugas laki-laki dikerjakan perempuan ataupun sebaliknya dengan batasan-batasan tertentu diluar hal yang bersifat kodrati. 

Sehingga wujud nyata keadilan gender akan terlaksana ketika laki-laki dan perempuan sadar dengan dirinya sendiri yang perlu saling melengkapi untuk tanggung jawab sosial, tanpa adanya intimidasi dan ekstrimisme pembelaan atas feminisme versus maskulinitas.

Dengan demikian peran perepuan dan laki-laki yang paling bijaksana adalah saling melengkapi melalui peran sosial yang sama dengan cara mereka masing-masing. Guna menyelesaikan kompleksitas problematika sosial yang terus dinamis. Laki-laki dan perempuan tidak perlu membuang waktu untuk berdebat persoalan maskulinisme dan feminisme karena akan mengakibatkan dominasi peran diantara keduanya. Paling mendasar adalah bagaimana laki-laki dan perempuan harus sadar bahwa mereka memiliki peluang yang sama dalam aspek sosial.

Dari hal tersebut ketika laki-laki yang dikatakan identik rasional membela secara mati-matian maskulinisme akan mengakibatkan diskriminasi pada perempuan. Demikian perempuan yang dikatakan identik emosional jika harus mati-matian membela feminisme maka akan memiliki konsekuensi diskriminatif pada pihak laki-laki. 

Jadi, agar tidak ribet dan jatuh dalam perdebatan soal gender. Perlu di tanamkan pada diri kita sebagai laki-laki dan perempuan, untuk selalu moderat dalam memahami dan menerapkan gender. Perlu diingat bahwa gender akan terlaksana ketika laki-laki dan perempuan saling bersatu padu dalam mengisi peran sosialnya. 

Jika laki-laki belum mampu mengemban peran sosialnya. Maka jangan ragu untuk meminta bantuan peran dari perempuan, sebaliknya jika perempuan belum mampu mengemban peran sosialnya, maka mintalah bantuan laki-laki. Agar terjadi keharmonisan dan sama-sama saling berperan dalam kehidupan sosial secara adil.

***

*) Oleh: Ahmad Raziqi M.E. (Alumni UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember dan Dosen STIS Darul Falah Bondowoso)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

Pewarta :
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.