TIMES JATIM, MALANG – Indonesia lahir bukan dari satu suara, satu wajah, atau satu kepentingan. Ia dilahirkan dari ribuan lidah yang berbeda bunyi, ratusan budaya yang berbeda warna, dan berjuta mimpi yang tak selalu searah.
Namun para pendiri bangsa dulu percaya pada satu hal: perbedaan bukan alasan untuk tercerai, melainkan bahan bakar untuk berjalan bersama. Dari sanalah satu cita dirumuskan Indonesia yang merdeka, adil, dan bermartabat.
Satu cita itu tertulis rapi di pembukaan UUD 1945, tetapi ia sesungguhnya hidup dalam keringat petani, doa nelayan, kapur tulis guru, dan suara serak buruh yang pulang larut malam. Ia bukan hanya slogan di podium, melainkan janji panjang yang diwariskan lintas generasi. Sayangnya, janji sering lebih mudah diucapkan daripada ditepati.
Hari ini, Indonesia masih berdiri, tetapi sering berjalan pincang. Kita kuat dalam angka, lemah dalam rasa. Kaya sumber daya, miskin kepercayaan. Ramai jargon persatuan, sunyi praktik keadilan. Satu cita sering terjebak menjadi satu kalimat indah yang dipajang saat upacara, lalu dilipat kembali ketika kekuasaan mulai berhitung untung dan rugi.
Di ruang publik, persatuan kerap dikerdilkan menjadi keseragaman. Yang berbeda dicurigai, yang kritis dilabeli pembangkang, yang miskin disuruh sabar. Padahal, satu cita bukan berarti satu suara. Ia justru menuntut keberanian untuk mendengar suara yang tidak nyaman, jeritan yang tidak viral, dan kesedihan yang tidak masuk statistik.
Indonesia dalam satu cita seharusnya berarti: anak desa tidak kalah bermimpi dari anak kota, guru honorer tidak lebih cemas dari pejabat bergaji besar, dan hukum tidak lebih tajam ke bawah daripada ke atas. Persatuan tanpa keadilan hanyalah foto keluarga dengan senyum dipaksa.
Kita sering membanggakan diri sebagai bangsa besar, tetapi lupa membesarkan manusia di dalamnya. Jalan tol tumbuh lebih cepat daripada rasa aman. Gedung tinggi menjulang, tetapi harapan di kampung-kampung sering tertinggal di tanah becek. Satu cita seharusnya tidak diukur dari panjang beton, melainkan dari pendeknya jarak antara kebijakan dan penderitaan rakyat.
Politik pun kerap menggadaikan mimpi kolektif demi ambisi pribadi. Saat musim pemilu, rakyat dipeluk seperti keluarga. Setelah kursi didapat, mereka kembali menjadi angka dalam tabel. Satu cita berubah menjadi alat kampanye, bukan kompas kebijakan.
Padahal, bangsa ini tidak kekurangan kecerdasan, tidak pula kekurangan sumber daya. Yang sering langka adalah kejujuran untuk mengakui luka dan keberanian untuk memperbaikinya. Kita lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga rasa percaya. Lebih rajin merawat kekuasaan daripada merawat harapan.
Namun, Indonesia tidak pernah benar-benar kehabisan cahaya. Di balik hiruk-pikuk elite, masih ada warga yang menanam toleransi di halaman rumahnya, guru yang mengajar dengan gaji setipis kertas, relawan yang datang sebelum kamera media. Mereka adalah penjaga senyap satu cita.
Satu cita bukan milik pemerintah semata, bukan pula milik partai atau segelintir tokoh. Ia milik tukang becak yang ingin anaknya sekolah, milik ibu pasar yang ingin harga stabil, milik mahasiswa yang ingin didengar tanpa dicurigai. Ia hidup dalam harapan kecil yang terus menolak padam.
Indonesia dalam satu cita berarti berani mengoreksi diri tanpa merasa terhina. Berani berbeda tanpa saling meniadakan. Berani adil meski itu menyakitkan sebagian pihak yang selama ini terlalu nyaman.
Persatuan sejati bukan ketika semua diam, tetapi ketika semua diberi ruang bicara. Keadilan sejati bukan ketika hukum tampak tegas, tetapi ketika ia berlaku sama. Kemajuan sejati bukan ketika grafik naik, tetapi ketika kecemasan rakyat turun.
Jika satu cita hanya berhenti di baliho dan pidato, ia akan menjadi legenda kosong. Tetapi jika ia turun menjadi kebijakan yang berpihak, pendidikan yang merata, hukum yang jujur, dan ekonomi yang tidak meninggalkan yang lemah, maka Indonesia bukan sekadar negara ia menjadi rumah.
Dan rumah yang baik bukan yang paling mewah, tetapi yang membuat penghuninya merasa aman untuk bermimpi, jujur untuk mengeluh, dan kuat untuk berharap. Di situlah satu cita seharusnya tinggal.
***
*) Oleh : Mahsun Arifandy, Pengurus Ikatan Mahasiswa Raas.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |