TIMES JATIM, MALANG – Di banyak rumah sederhana, kesuksesan anak tidak selalu dimulai dari buku tebal atau kursus mahal. Ia sering lahir dari hal-hal yang tampak remeh: doa lirih di sepertiga malam, tangan kasar yang mengusap kepala sebelum berangkat sekolah, atau nasihat pendek yang diulang seperti lagu lama. Bagi sebagian orang, itulah “jimat” orang tua bukan benda mistik, melainkan kekuatan sunyi yang bekerja pelan-pelan, tetapi panjang umurnya.
Di tengah dunia yang memuja angka dan gelar, kita kerap lupa bahwa fondasi manusia dibangun bukan di ruang seminar, melainkan di dapur dan ruang tamu. Anak belajar tentang jatuh dan bangkit bukan dari teori motivasi, tetapi dari cara ayahnya pulang membawa letih tanpa mengeluh, atau dari ibunya yang tetap tersenyum meski dompet tipis seperti daun kering di musim kemarau.
Jimat itu bernama teladan. Ia tidak berisik, tidak bercahaya, tidak bisa dipamerkan di media sosial. Tetapi diam-diam menempel di kepala anak seperti bayangan yang setia. Ketika orang tua jujur, anak belajar bahwa jalan pintas hanya memendekkan jarak, tetapi memanjangkan masalah. Ketika orang tua sabar, anak tahu bahwa maraton hidup tidak bisa dimenangkan dengan napas pendek.
Sebagian orang tua menyimpan jimat lain: kepercayaan. Kepercayaan bahwa anaknya bukan cetakan orang lain. Bukan proyek ambisi yang harus selesai sebelum tetangga membeli mobil baru. Kepercayaan itu seperti pupuk yang tidak terlihat, tetapi membuat akar tumbuh kuat sebelum batang berani menantang angin.
Anak yang dibesarkan dengan kepercayaan tidak tumbuh sebagai pengejar tepuk tangan, tetapi sebagai pejalan yang tahu arah. Ia tidak mudah roboh oleh komentar, tidak gampang mabuk oleh pujian. Di dadanya tertanam kompas kecil: nilai yang dititipkan tanpa pidato panjang.
Ada pula jimat bernama kegagalan yang dibiarkan. Orang tua yang bijak tidak selalu menjadi pemadam kebakaran setiap kali anak tersandung. Mereka tahu, luka kecil adalah guru yang lebih jujur daripada ceramah panjang. Mereka membiarkan anak jatuh, asal tahu cara berdiri. Mereka menahan tangan, agar kaki anak belajar menapak.
Ironisnya, di zaman modern, banyak orang tua justru sibuk mencari jimat instan: sekolah elit, les berlapis, sertifikat bertumpuk seperti menara kartu. Semua itu tidak salah. Tetapi tanpa jimat dasar doa, teladan, kejujuran, dan kasih yang tidak bersyarat kesuksesan hanya menjadi bangunan tinggi tanpa fondasi, megah tetapi rapuh.
Kesuksesan seperti itu mudah retak ketika diterpa krisis. Mudah sombong ketika naik sedikit. Mudah putus asa ketika jatuh satu kali. Karena tidak pernah diajari bahwa hidup bukan garis lurus, melainkan peta penuh tikungan.
Doa orang tua, yang sering dianggap klise, sebenarnya adalah kontrak paling tua antara langit dan bumi. Ia tidak tercatat di notaris, tidak berbentuk materai, tetapi dipercaya lintas generasi.
Anak boleh lupa rumus, boleh lupa nama guru, tetapi jarang lupa nada suara ibunya ketika menyebut namanya dalam doa. Di situlah jimat sejati bekerja: bukan membuat anak kebal dari masalah, tetapi membuatnya tidak sendirian saat menghadapinya.
Kesuksesan anak sejatinya bukan hanya soal jabatan atau saldo rekening. Ia juga tentang kemampuan menjaga hati tetap waras ketika dunia gila, tetap jujur ketika dusta menguntungkan, tetap rendah ketika tinggi sudah digenggam. Dan kualitas semacam itu jarang lahir dari ambisi, lebih sering dari rumah yang penuh nilai.
Maka, ketika kita melihat seseorang berdiri tegak di tengah badai, jangan hanya memuji kecerdasannya. Bisa jadi, di belakangnya ada orang tua yang diam-diam menanam jimat: doa yang tidak putus, teladan yang tidak dipamerkan, dan cinta yang tidak bersyarat.
Jimat itu tidak berkilau, tidak bisa diuji laboratorium, dan tidak tercantum di rapor. Tetapi tanpanya, kesuksesan sering hanya menjadi topeng mahal bagi jiwa yang rapuh.
***
*) Oleh : Jakfar Shodiq, Mahasiswa Internasional Master Program in National Pingtung University Taiwan.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |