TIMES JATIM, MALANG – Menjadi warga Nahdlatul Ulama bukan sekadar mencantumkan identitas organisasi di kartu anggota atau mengibarkan bendera hijau-putih pada hari-hari besar. Menjadi warga NU adalah laku hidup. Ia tumbuh pelan-pelan, seperti akar pohon yang merambat diam-diam di bawah tanah, menguatkan batang peradaban tanpa ribut menuntut pengakuan.
Satu abad NU bukan sekadar penanda usia, melainkan bukti bahwa tradisi bisa bertahan tanpa membatu, dan perubahan bisa direngkuh tanpa kehilangan arah.
NU lahir dari rahim sejarah yang gelisah. Di masa ketika umat Islam Nusantara diguncang arus purifikasi, kolonialisme, dan pergeseran zaman, para kiai NU memilih jalan yang tampak sederhana tetapi dalam: merawat tradisi, menjaga sanad keilmuan, dan menautkan agama dengan realitas sosial.
Dari pesantren-pesantren sunyi, NU menjelma menjadi rumah besar yang menaungi doa-doa kampung, suara kentongan, tahlilan, selawat, hingga diskusi kebangsaan. Di sanalah agama tidak berdiri di menara gading, tetapi turun ke tanah, bersentuhan dengan debu kehidupan.
Menjadi warga NU berarti berdamai dengan keragaman. Di NU, perbedaan tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai rahmat yang perlu ditata. Khilafiyah tidak disulut menjadi bara, tetapi dikelola menjadi pelajaran.
Fikih tidak diperlakukan sebagai palu godam untuk menghakimi, melainkan sebagai kompas moral yang lentur mengikuti konteks. Dalam dunia yang kerap gemar membelah diri menjadi hitam dan putih, NU hadir sebagai ruang abu-abu yang justru manusiawi tempat nalar, tradisi, dan nurani duduk satu meja.
Satu abad perjalanan NU juga menunjukkan bahwa menjadi tradisional tidak identik dengan tertinggal. NU membuktikan bahwa menjaga warisan tidak berarti memunggungi masa depan.
Pesantren tetap mengajarkan kitab kuning, tetapi juga membuka diri pada sains, teknologi, dan isu-isu kontemporer. Warga NU diajak untuk berpijak pada kaidah lama yang masih relevan, sambil berani merumuskan jawaban baru atas persoalan zaman. Di sinilah tradisi bergerak, bukan membeku.
Dalam kehidupan sehari-hari, menjadi warga NU sering kali terasa sangat sederhana. Ia hadir dalam cara menyapa tetangga, menghormati orang tua, menyantuni yang lemah, dan menjaga harmoni sosial.
NU tidak membesarkan suara dengan retorika revolusioner, tetapi menanamkan nilai melalui keteladanan. Ia bekerja seperti air: tenang, meresap, tetapi mampu mengikis batu paling keras. Ketika radikalisme berteriak, NU memilih berdialog. Ketika fanatisme menutup pintu, NU membuka jendela.
Di tengah dunia digital yang serba cepat dan bising, nilai-nilai NU justru menemukan relevansinya kembali. Ketika media sosial mengubah perbedaan menjadi medan pertempuran, warga NU diajak untuk tabayun, menahan diri, dan tidak mudah terseret arus kebencian.
Ketika agama kerap direduksi menjadi slogan dangkal, NU mengingatkan bahwa iman adalah kedalaman, bukan sekadar penampilan. Menjadi warga NU berarti belajar sabar di zaman serba instan, belajar bijak di tengah banjir informasi.
Satu abad NU juga adalah satu abad keterlibatan kebangsaan. NU tidak pernah absen dalam sejarah Indonesia: dari resolusi jihad hingga menjaga keutuhan negara.
Bagi NU, cinta tanah air bukan jargon kosong, melainkan bagian dari iman yang hidup. Nasionalisme dan religiusitas tidak dipertentangkan, tetapi dirajut menjadi satu napas. Warga NU diajari bahwa beragama tidak boleh menjauhkan diri dari tanggung jawab sosial dan kebangsaan.
Namun, menyambut satu abad NU bukan hanya soal merayakan masa lalu. Ia juga undangan untuk bercermin. Menjadi warga NU hari ini menuntut keberanian untuk berbenah: memperkuat pendidikan, memperluas peran sosial, dan memastikan bahwa nilai-nilai keislaman yang ramah tetap relevan bagi generasi muda. Tantangan zaman terus berubah, dan NU tidak boleh puas hanya menjadi penjaga nostalgia. Tradisi harus terus diberi makna baru agar tetap hidup.
Menjadi warga NU adalah memilih jalan tengah yang sering kali sunyi tetapi bermakna. Jalan yang tidak tergoda ekstremisme, tidak larut dalam pragmatisme, dan tidak kehilangan akar spiritual.
Satu abad NU mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu datang dari gebrakan besar, melainkan dari kesetiaan merawat nilai, hari demi hari. Dalam kesederhanaan itulah NU bertahan, dan dari sanalah harapan masa depan disemai.
Menjadi warga NU berarti ikut menjaga api kecil itu agar tetap menyala cukup terang untuk menerangi sekitar, cukup hangat untuk menghidupi kemanusiaan.
***
*) Oleh : Thaifur Rasyid, S.H., M.H., Praktisi Hukum.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |