TIMES JATIM, MALANG – Bagi sebagian orang Indonesia, sekolah di luar negeri masih terdengar seperti cerita dari brosur beasiswa: indah, jauh, mahal, dan terasa tidak membumi. Ia sering dipersepsikan sebagai privilese segelintir anak kota, anak pejabat, atau mereka yang lahir dari keluarga berlapis dolar.
Padahal, di balik paspor, visa, dan ruang kelas berbahasa asing itu, tersimpan satu hal yang jauh lebih penting: cara baru memandang ilmu pengetahuan, kehidupan, dan diri sendiri.
Pendidikan di luar negeri bukan semata soal gedung kampus megah atau teknologi canggih. Ia adalah perjumpaan dengan budaya belajar yang berbeda. Di banyak negara, mahasiswa tidak diperlakukan sebagai botol kosong yang harus diisi, melainkan sebagai subjek yang diajak berpikir, membantah, dan meragukan. Dosen bukan menara gading yang suci dari kritik, tetapi mitra dialog yang bisa diperdebatkan argumennya. Ruang kelas berubah menjadi arena pertukaran gagasan, bukan sekadar ruang hafalan.
Di situlah banyak pelajar Indonesia mengalami “kejutan kebudayaan akademik”. Mereka dipaksa keluar dari kebiasaan diam, takut salah, dan sungkan pada otoritas. Tugas tidak lagi sekadar menyalin teori, tetapi menguji, menguliti, bahkan menggugatnya.
Plagiarisme dianggap dosa intelektual, bukan sekadar pelanggaran administratif. Ketekunan membaca dan menulis menjadi mata uang utama, bukan kedekatan dengan dosen atau kelihaian mencari bocoran soal.
Namun, inspirasi terbesar justru sering datang dari hal-hal sederhana. Dari mahasiswa yang bekerja paruh waktu membersihkan kafe tanpa merasa rendah diri. Dari dosen yang datang tepat waktu karena menghargai menit sebagai bentuk etika. Dari perpustakaan yang buka sampai larut malam dan dipenuhi wajah-wajah lelah yang tetap setia pada buku. Dari sistem yang tidak sempurna, tetapi berusaha adil pada siapa pun yang mau belajar.
Pendidikan di luar negeri juga mengajarkan arti kemandirian yang sesungguhnya. Tidak ada ibu yang menyiapkan sarapan, tidak ada keluarga yang siap menjadi tempat mengeluh setiap malam. Semua harus diatur sendiri: uang, waktu, emosi, dan rindu.
Di negeri orang, mahasiswa Indonesia belajar menjadi dewasa bukan lewat ceramah moral, tetapi lewat antrean panjang, musim dingin yang menggigit, dan rekening bank yang harus dihitung dengan cermat.
Di tengah kesunyian kamar kos dan bunyi kereta yang asing, banyak yang menemukan jati diri. Mereka sadar bahwa Indonesia bukan pusat dunia, tetapi juga bukan halaman belakang peradaban.
Mereka belajar melihat bangsanya dengan jarak: mencintai tanpa menutup mata, mengkritik tanpa kehilangan rasa memiliki. Nasionalisme tidak lagi sebatas upacara, melainkan kesadaran bahwa tanah air adalah rumah yang ingin mereka perbaiki, bukan sekadar tempat pulang saat gagal.
Sayangnya, pengalaman ini masih sering diperlakukan sebagai prestise pribadi, bukan modal sosial. Kisah sukses studi di luar negeri kerap berhenti sebagai cerita motivasi di media sosial, bukan sebagai energi untuk membenahi sistem pendidikan di dalam negeri.
Padahal, yang dibutuhkan Indonesia bukan sekadar lebih banyak lulusan luar negeri, tetapi lebih banyak keberanian untuk meniru etos belajarnya: kejujuran akademik, budaya membaca, keberanian berpikir kritis, dan penghargaan pada kerja keras.
Inspirasi pendidikan luar negeri seharusnya tidak melahirkan generasi yang merasa lebih tinggi, tetapi generasi yang lebih rendah hati. Mereka yang pulang bukan membawa kesombongan, melainkan kegelisahan: mengapa riset di kampus kita minim dukungan, mengapa guru sering dibebani administrasi, mengapa perpustakaan sepi, mengapa diskusi kalah ramai dari gosip politik. Kegelisahan inilah yang seharusnya menjadi bahan bakar perubahan.
Kita tidak harus mengirim semua anak bangsa ke luar negeri untuk menjadi maju. Tapi kita bisa menanamkan semangat yang sama: sekolah yang merdeka dari ketakutan, kampus yang ramah pada perbedaan pendapat, guru yang dihormati bukan karena ditakuti, dan mahasiswa yang bangga pada karya, bukan pada gelar. Pendidikan tidak boleh lagi menjadi pabrik ijazah, melainkan kebun tempat pikiran tumbuh liar dan berbuah.
Di tengah keterbatasan anggaran, birokrasi yang berliku, dan kebijakan yang sering berganti wajah, inspirasi dari luar negeri tetap penting sebagai cermin. Bukan untuk meniru secara buta, tetapi untuk bercermin: sejauh mana kita menghargai ilmu, sejauh mana kita memuliakan guru, sejauh mana kita memberi ruang pada kejujuran dan kerja keras.
Berpendidikan di luar negeri bukan soal pergi jauh, tetapi soal pulang membawa terang. Terang untuk menerangi ruang kelas yang masih gelap oleh formalitas. Terang untuk membakar malas membaca. Terang untuk mengusir budaya mencontek yang bersembunyi di balik nilai tinggi.
Jika cahaya itu benar-benar dibawa pulang, maka satu paspor pelajar bisa menjadi lilin kecil bagi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih manusiawi dan bermartabat.
***
*) Oleh : Raga Arya, International Master Student in Republic of China.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |