TIMES JATIM, MALANG – style="text-align:justify">Siapa sangka batok kelapa yang selama ini dianggap limbah tak bernilai, justru mampu menjelma menjadi karya seni bernilai tinggi. Di tangan Mukhammad Arifin, pria asal Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, batok kelapa disulap menjadi lukisan estetik yang harganya mencapai puluhan juta rupiah.
Ide kreatif tersebut sudah dirintis Arifin sejak 1996 silam. Berawal dari keprihatinannya melihat tumpukan limbah batok kelapa di lingkungan sekitar, akibat banyaknya pedagang kelapa. Ia berinisiatif memanfaatkan limbah tersebut menjadi karya seni lukis yang unik dan bernilai jual tinggi.
Menurut penuturan Arifin, sapaannya, proses pembuatan lukisan dari batok kelapa ini tidaklah sederhana. Batok kelapa yang baru diambil terlebih dahulu dipisahkan dari kulit arinya, kemudian dicuci hingga bersih. Setelah itu, batok dijemur di bawah sinar matahari sampai benar-benar kering sebelum siap diolah.
Tahapan berikutnya adalah pembuatan pola lukisan. Arifin menyusun satu per satu pecahan batok kelapa sesuai desain yang telah ditentukan. Ia memadukan batok kelapa muda dan tua untuk menghasilkan gradasi warna alami. Setiap lukisan membutuhkan waktu pengerjaan sekitar dua hingga tiga bulan, bahkan bisa lebih lama tergantung tingkat kerumitan motif.
Salah satu lukisan batok kelapa "Gus Dur" yang laku dengan harga 18 juta. (FOTO: Instagram @mukhammadarifin3)
Pola yang ia buat biasanya sosok tokoh nasional atau dunia, hewan, hingga kaligrafi.
Ketelitian dan fokus tinggi menjadi kunci utama dalam pengerjaan karya tersebut. Setiap detail harus dikerjakan secara presisi agar hasil akhir menyerupai pola dan memiliki nilai estetika tinggi.
Meski berasal dari limbah, nilai jual lukisan karya Arifin tergolong fantastis. Salah satu karyanya yang berjudul “Gus Dur” terjual dengan harga Rp18 juta setelah dikerjakan selama kurang lebih lima bulan. Sementara lukisan bertema “Soekarno” bahkan laku hingga Rp25 juta.
Untuk memasarkan karyanya, Arifin memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Instagram melalui akun @mukhammadarifin3. Selain itu, ia juga kerap mengikuti pameran seni. Tak hanya masyarakat umum, sejumlah pejabat pun menunjukkan ketertarikan terhadap lukisan batok kelapa tersebut.
“Masyarakat antusias, mereka malah kaget kalau ternyata batok kelapa bisa dijadikan seni bernilai indah seperti ini,” ujarnya.
Hingga kini, Arifin telah menghasilkan sekitar 40 karya lukisan dari batok kelapa. Niat awalnya untuk mengurangi limbah justru berkembang menjadi inovasi seni yang mengangkat nilai budaya dan kreativitas lokal.
Ia berharap karyanya semakin dikenal luas oleh masyarakat. Kepada generasi muda, Arifin berpesan agar tidak pernah berhenti berkarya dan berinovasi, sehingga seni dan budaya lokal bisa terus berkembang dan naik kelas, meskipun berangkat dari bahan sederhana seperti limbah batok kelapa. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Ferry Agusta Satrio |