TIMES JATIM – Bayangkan seorang ulama yang mampu menghipnotis ribuan jamaah dengan suara lantang, humor segar, dan pesan mendalam. Bahkan mampu menjelaskan Pancasila melalui tradisi tahlilan yang akrab di telinga masyarakat. Di Kabupaten Blitar, sosok itu tidak lain adalah KH Yasin Yusuf, yang dijuluki "Singa Podium" karena kemampuannya memukau khalayak tanpa pamrih.
Bukan hanya sebagai tokoh NU yang fenomenal pada masanya, melainkan juga pejuang gigih menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah dan memperkuat jiwa kebangsaan di tengah tantangan zaman.
Kiprah Hidup: Dari Santri hingga Tokoh Dakwah yang Disegani
KH Yasin Yusuf lahir pada tahun 1934 di Kecamatan Kademangan, Blitar, dari keluarga Kiai Yusuf yang dikenal kaya dan dermawan. Semasa remaja tahun 1953, Kiai Yasin Yusuf menyelesaikan pendidikan formal di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Blitar sekaligus menuntut ilmu di Pesantren Dawuhan Kota Blitar (sekarang Pesantren Bustanu Muta'allimin Blitar) yang dipimpin KH Zahid Syafi'i.
Perjalanan dakwahnya dimulai dengan menghadapi tantangan berat, terutama di wilayah Blitar bagian selatan yang kala itu dikuasai oleh paham komunis PKI. Namun, Kiai Yasin Yusuf tetap tegas dan berani menyebarkan ajaran Aswaja tanpa pandang bulu, dengan prinsip bahwa dakwah adalah jalan untuk membawa kebenaran (al-Haq) dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Aktivitasnya tidak hanya terbatas pada panggung dakwah. Sebagai tokoh NU, juga aktif dalam struktur organisasi. Pernah menjabat sebagai Ketua MWC NU Kademangan dan juga masuk jajaran Syuriyah PCNU Blitar. Pada Muktamar NU ke-27 di Sukorejo, Asembagus, Situbondo tahun 1984, juga turut menyaksikan keputusan penting pengakuan Pancasila sebagai dasar negara yang final. Bahkan, juga kerap diundang ke Istana Negara pada masa Presiden Soekarno untuk mengisi acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan halal bi halal, membuktikan pengaruhnya melampaui batas wilayah.
Kemasyhuran dalam Berdakwah: Gaya yang Menggugah dan Menyentuh
KH Yasin Yusuf mendapatkan julukan "Singa Podium" bukan tanpa alasan. Gaya berbicara yang lugas, komunikatif, dan diselingi humor segar membuatnya sangat dicintai masyarakat akar rumput. Dalam buku KH Yasin Yusuf: Tokoh NU yang Kharismatik dan Ikhlas yang ditulis oleh anggota ISNU Blitar, digambarkan sebagai orator ulung yang mampu meracik kata-kata menjadi retorika yang menghentakkan dan menggerakkan hati.
Kemampuannya menarik perhatian khalayak terlihat dari antusiasme jamaah yang selalu memenuhi setiap lokasi pengajiannya, datang dari berbagai penjuru daerah. Beliau bahkan sering menggunakan tiruan suara dalam ceramah untuk mempermudah pemahaman, tanpa pernah mengurangi esensi ilmu agama yang disampaikan. Selama 34 tahun berturut-turut, beliau tak pernah absen memberikan ceramah pada perayaan haul Sunan Bonang di Tuban—meski tanpa diundang panitia.
Namun, kemasyhurannya bukan hanya karena kemampuan berbicara. KH Yasin Yusuf dikenal sebagai sosok yang selalu mendatangi pelosok desa untuk berdakwah, tanpa pernah memasang tarif atau meminta imbalan apapun. Bahkan ketika acara ceramah hanya dihadiri belasan orang akibat hujan deras, tetap tampil dengan penuh semangat, karena baginya, jumlah jamaah tidak menjadi ukuran keberhasilan dakwah.
Keikhlasan yang Tak Tertandingi: Pengabdian Tanpa Pamrih
Keikhlasan KH Yasin Yusuf menjadi inti dari seluruh kiprahnya. Kisah ini diperkuat oleh pertemuannya dengan KH Hamid Pasuruan, seorang waliyullah yang terkenal. Saat KH Hamid menyatakan bahwa ganjaran dakwahnya akan sangat besar, beliau menjawab dengan rendah hati, "Nggih, menawi ikhlas." KH Hamid kemudian menimpali, "Menawi jenengan mboten ikhlas, pun mboten payu," yang kemudian menjadi pengingat akan pentingnya ketulusan dalam beribadah.
Bukti nyata keikhlasannya terlihat dalam berbagai kejadian. Pernah saja diundang berceramah tiga kali berturut-turut di Surabaya oleh seseorang yang sengaja tidak mengadakan selawatan dalam acara. Meskipun demikian, KH Yasin Yusuf tetap hadir tanpa mengeluh dan akhirnya membuat pihak pengundang menyadari kesalahannya, lalu meminta maaf dan memberikan selawatan yang tertunda.
Keikhlasannya juga tercermin dalam sikapnya terhadap jabatan. Meskipun berulang kali ditawari posisi yang lebih tinggi di kepengurusan NU tingkat cabang, wilayah, maupun pusat, beliau memilih tetap menjabat sebagai Ketua MWC NU Kademangan sepanjang hidupnya. Baginya, pengabdian lebih utama daripada kedudukan—khidmat di NU bukan tentang mengejar pangkat, melainkan tentang berbakti kepada umat.
Penafsiran Pancasila yang Unik: Menyambungkan Agama dan Negara
Salah satu kontribusi penting KH Yasin Yusuf adalah penafsiran Pancasila melalui tradisi tahlilan yang banyak diamalkan masyarakat NU. Beliau pernah menyampaikan, "Kalau kita ingin melihat pelaksanaan Pancasila yang benar dan tepat, maka lihatlah orang-orang tahlilan yang biasanya diamalkan."
Setiap sila Pancasila dikaitkan dengan aspek dalam tahlilan:
- Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dari pembacaan Surat Al-Ikhlas.
- Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab terwujud dalam keterbukaan acara bagi semua orang tanpa pembedaan.
- Persatuan Indonesia terlihat dari kesetaraan tempat duduk dan bacaan dzikir yang sama.
- Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat muncul dari musyawarah memilih pemimpin tahlil.
- Keadilan Sosial terwujud dalam pembagian "berkat" yang sama rata untuk semua peserta.
Menurut HM. Maskur, Ketua Lembaga Lukmanul Hakim milik almarhum, penafsiran ini menunjukkan bahwa ulama NU selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga Pancasila dari ancaman radikalisme, karena Pancasila adalah warisan Nusantara yang menjadi tali pemersatu bangsa.
KH Yasin Yusuf wafat pada 6 Juli 1992 dan dimakamkan di Makam Auliya Desa Tambak Ngadi, Kediri, berdampingan dengan tokoh NU lainnya. Meskipun telah lama tiada, warisannya tetap hidup melalui nilai-nilai yang beliau tanamkan: keikhlasan dalam berbakti, kesetaraan antar manusia, dan semangat persatuan yang menguatkan negara.
Teladannya menjadi inspirasi khususnya bagi generasi muda NU dan seluruh umat Islam untuk berdakwah dengan penuh cinta, menghubungkan ajaran agama dengan nilai kebangsaan, serta menjalankan setiap tugas dengan ketulusan hati. (*)
| Pewarta | : Imam Kusnin Ahmad |
| Editor | : Bambang H Irwanto |