TIMES JATIM, MALANG – Sebanyak 58 siswa SDN 4 Sukowilangun, Kecamatan Kalipare, Kabupaten Malang, terpaksa menjalani kegiatan belajar mengajar (KBM) di rumah warga setelah atap bangunan sekolah ambruk pada Minggu (11/1/2026). Kondisi ini membuat aktivitas pembelajaran tidak lagi bisa dilakukan di lingkungan sekolah demi alasan keselamatan.
Ambruknya atap bangunan diduga kuat akibat kondisi bangunan yang sudah rapuh dan tidak pernah mendapatkan peremajaan dalam waktu lama. Total terdapat empat ruangan yang terdampak, terdiri dari tiga ruang kelas siswa dan satu ruang guru.
Kepala SDN 4 Sukowilangun Kalipare, Sugiono, menjelaskan bahwa tanda-tanda kerusakan sebenarnya sudah terlihat sejak pertengahan tahun 2025. Kerusakan awal tampak pada bagian plafon yang mulai berlubang.
“Bulan Juli itu sudah terlihat kerusakan, mulai dari plafon-plafon yang berlubang. Setelah dicek ke atas, kuda-kuda atapnya sudah patah dan rapuh, ditambah tembok-temboknya memang sudah retak,” ujar Sugiono.
Mengetahui kondisi tersebut, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Koordinator Wilayah Pendidikan (Korwil), pemerintah desa, kecamatan, hingga komite sekolah, untuk mencari solusi perbaikan.
Namun kondisi bangunan terus memburuk. Pada Agustus 2025, kerusakan semakin parah hingga akhirnya pada September sekolah secara resmi mengajukan proposal perbaikan ke Korwil Pendidikan, Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, serta Bupati Malang.
“Bulan 8 kondisinya semakin parah. Bulan 9 kami ajukan proposal dan laporan ke Korwil, lalu ke Bupati dan Dinas Pendidikan. Waktu itu KBM masih tetap berlangsung di lokasi,” jelasnya.
Seiring waktu, atap bangunan mulai turun dan membahayakan keselamatan. Akhir September, siswa kelas VI terpaksa dipindahkan terlebih dahulu. Saat libur sekolah Desember 2025, kondisi bangunan semakin mengkhawatirkan.
“Selama liburan justru semakin parah. Guru-guru tetap piket, jadi tahu kondisi bangunan setiap hari,” lanjut Sugiono.
Menjelang masuk semester baru, pihak sekolah kembali melakukan koordinasi untuk menentukan lokasi pembelajaran yang lebih aman. Hasilnya, diputuskan untuk merelokasi KBM ke rumah warga yang berada tidak jauh dari sekolah.
“Kalau tetap di sekolah itu berbahaya. Akhirnya kita cari lokasi terdekat dan ketemu rumah warga yang kosong, lalu kita pinjam. Sejak awal semester, 5 Januari kemarin, KBM sudah pindah ke rumah warga,” katanya.
Rumah yang digunakan untuk sementara tersebut merupakan milik nenek salah satu guru di SDN 4 Sukowilangun. Empat ruangan di sekolah yang terdampak. tiga ruang kelas dan satu ruang guru, saat ini dikosongkan demi keselamatan.
Kondisi ini menjadi sorotan serius, mengingat keterbatasan fasilitas belajar dapat berdampak pada kualitas pendidikan siswa. Pihak sekolah berharap pemerintah daerah segera memberikan solusi permanen, agar para siswa dapat kembali belajar dengan aman dan layak di gedung sekolah mereka sendiri. (*)
| Pewarta | : Achmad Fikyansyah |
| Editor | : Imadudin Muhammad |