https://jatim.times.co.id/
Wisata

Seven Lakes Festival dan Jejak Peradaban 7000 Tahun di Tiris, Probolinggo

Minggu, 09 November 2025 - 17:45
Seven Lakes Festival dan Jejak Peradaban 7000 Tahun di Tiris, Probolinggo Penyaturan 7 Mata Air saat Grand Opening Seven Lakes Festival di Catwalk Apung Ranu Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo (Foto: Dokumen TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, PROBOLINGGORanu Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, Jatim, telah disulap menjadi panggung kolosal bagi Seven Lakes Festival 2025 yang mengundang decak kagum.

Dari 7 hingga 16 November, kemegahan Catwalk dan Panggung Terapung di tepian danau menjadi latar bagi Seven Lakes Fashion Festival. Semarak itu dikunci oleh tarian agung Sendratari Kolosal Amuksaning Dewi Rengganis.

Festival yang mengangkat tema "Menelusuri Jejak Dewi Rengganis, Merayakan Alam Probolinggo" ini sekilas hanya menjual keindahan Argopuro dan Lemongan. Padahal, yang dirayakan di Tiris bukan sekadar legenda.

Festival ini sejatinya sedang mengaktualisasikan sebuah warisan peradaban tertua di Jawa Timur, sebuah kehidupan yang berdenyut jauh sebelum Dewi Rengganis. Peradaban itu sudah dimulai manusia purba sejak 5000 tahun Sebelum Masehi (SM).

Gigi Petir di Tepian Danau

Di antara tawa riang pengunjung festival, tersimpan sebuah mitos yang diyakini penduduk lokal. Mereka sering menemukan artefak batu di sekitar ranu, sebuah benda purba yang diyakini memiliki kekuatan magis dan disebut "Gigih Kelap," istilah Bahasa Madura untuk Gigi Petir.

Seven-Lakes-Festival-3.jpgSejumlah pengunjung berfoto di atas catwalk apung Ranu Segaran, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo (Foto: Iqbal/TIMES Indonesia)

Masyarakat percaya, benda-benda itu adalah taring yang dilepaskan sambaran petir ke tanah. Mitos ini adalah jembatan yang menghubungkan kearifan lokal masa kini dengan jejak purba Tiris.

Benda-benda yang disakralkan sebagai "Gigi Petir" itu, secara tegas diidentifikasi arkeolog sebagai Beliung dan Belincung Neolitikum.

Peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, Gunadi Kasnowihardjo, dalam laporannya dalam kurun 2008 hingga 2011, menyebut artefak ini adalah ciri khas peralatan Zaman Batu Baru (Neolitikum). Benda purba ini berumur sekitar 7000 tahun.

Beliung batu Tiris bukanlah perkakas kasar dari zaman batu tua. Artefak itu memiliki asahan yang sudah halus dan terpoles (polished stone adze). Temuan ini membuktikan masyarakat Tiris purba telah mengenal teknologi batu yang maju, menggunakannya untuk pertanian dan pertukangan awal.

Arkeolog yang Bermukim di Tiris

Gunadi Kasnowihardjo memulai rangkaian penelitian bertajuk Permukiman Masa Lampau di Tepian Danau, dengan hipotesa kunci: kawasan danau secara alamiah menjadi titik fokus permukiman (settlement pattern).

Alasannya lugas: danau yang oleh masyarakat Probolinggo disebut ranu, menyediakan dua kebutuhan esensial berupa air dan ikan, yang mendorong manusia untuk menetap dan beralih menuju masyarakat produsen makanan (pertanian awal).

Proyek penelitian ini memakan waktu bertahun-tahun dan membutuhkan keseriusan ekstra di lapangan. Penelitian dimulai dari Ranu Gedang di Desa Ranu Gedang pada 2008, berlanjut ke Ranu Segaran di Desa Segaran pada 2009, dan diakhiri di Ranu Betok di Desa Ranuagung pada 2010.

Dalam setiap ranu, penelitian memakan waktu 12 hari. Selama itu, Gunadi dan timnya memilih bermukim langsung di rumah warga sekitar. Dari kerja keras yang didasari kedekatan pada masyarakat itu, didapati bukti kuat.

“Rata-rata di semua ranu, ditemukan empat sampai lima (artefak),” ujar Gunadi, merujuk pada temuan beliung dan belincung di kawasan ranu-ranu di Kecamatan Tiris.

Keberadaan Beliung Neolitikum membuktikan, wilayah Tiris yang diapit Gunung Lemongan dan Argopuro, merupakan salah satu situs permukiman awal yang stabil.

Temuan ini tidak hanya lokal. Gunadi Kasnowiharjo juga menghubungkannya dengan peta migrasi besar leluhur. Sebab beliung Neolitikum di Asia-Pasifik sering dikaitkan dengan penyebaran penutur bahasa Austronesia.

Karenanya, peradaban Tiris menjadi bagian dari narasi migrasi besar bangsa Asia Tenggara dan Pasifik.

Ketika pengunjung Seven Lakes Festival 2025 menikmati Lomba Memancing di Ranu Tlogoargo atau menyaksikan kegiatan Hiburan Gethek dan Tebar Jala, mereka secara tidak sadar sedang mengulang praktik ekonomi yang telah menghidupi kawasan ini selama tujuh milenium.

Filsafat Arkeologi di Panggung Festival

Gunadi merumuskan filosofi intinya: "Archaeology without its public is nothing." Baginya, hasil penelitian harus diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan hari ini demi generasi mendatang.

Seven-Lakes-Festival-2.jpgSalah satu lampiran laporan hasil penelitian tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta tentang Permukiman Masa Lampau di Tepian Danau (Foto: Iqbal/TIMES Indonesia)

Dan gelaran Seven Lakes Festival 2025 adalah implementasi sempurna dari filosofi ini. Warisan purba dihidupkan kembali melalui kegiatan kontemporer.

Festival ini menampilkan Petik Ranu/Larung Sesaji sebagai kelanjutan ritual syukur purba terhadap sumber air. Sementara Hyang Argopuro Coffee Festival dan produk hasil bumi lainnya, mencerminkan warisan masyarakat menetap yang ditandai dengan temuan gerabah di situs ranu.

Sisi pelestarian menjadi agenda utama. Prosesi Penyatuan 7 Mata Air saat Grand Opening adalah simbol kuat dari kesadaran lingkungan.

Prosesi ini langsung merangkul isu keberlanjutan (sustainability) dan kelestarian danau. Isu yang ironisnya, telah disinggung Gunadi dalam rencana riset lanjutannya mengenai faktor penyebab penyusutan air di Ranu Bethok.

Atau debit air Ranu Gedang yang disebut mengalami penurunan cukup signifikan hingga 80 meter dari permukaan semula.

Dengan demikian, setiap kegiatan di Festival, dari fashion show hingga Carnival Dewi Rengganis, sesungguhnya merayakan keberlanjutan sebuah peradaban.

Kapsul Waktu di Tiris

Saat para peserta Trail Run melintasi hutan, perbukitan, dan bebatuan di sekitar Ranu Segaran, mereka berjalan di atas jalur yang sama, di bentang alam yang sama, tempat seorang penutur Austronesia kuno mungkin menjatuhkan "Gigih Kelap" mereka ribuan tahun lalu.

Tiris, melalui Festival Tujuh Danau, tidak hanya menjual keindahan alam Probolinggo. Ia menjual sebuah kapsul waktu, sebuah kisah peradaban yang berlanjut.

Festival ini mengajarkan bahwa menjaga keindahan ranu hari ini berarti menjaga warisan nenek moyang Neolitikum.

Seven Lakes Festival 2025 adalah undangan untuk melihat Probolinggo bukan sebagai destinasi, melainkan sebagai laboratorium peradaban yang tak pernah berhenti hidup, dari seonggok beliung batu hingga panggung terapung yang megah. (*)

Pewarta : Muhammad Iqbal
Editor : Muhammad Iqbal
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.