Jejak Sejarah Sarean Gede Semanten, Makam Pendiri Pondok Tremas Pacitan
Sarean Gede dikenal sebagai makam Mbah Kiai Abdul Manan Dipomenggolo. Ia merupakan sosok sentral di balik berdirinya Pondok Tremas.
PACITAN – Sarean Gede di Desa Semanten, Kabupaten Pacitan menjadi tempat peristirahatan terakhir KH Abdul Manan Dipomenggolo, pendiri Perguruan Islam Pondok Tremas.
Dari makam inilah jejak sejarah salah satu pesantren tertua di Pacitan dapat ditelusuri.
Sarean Gede dikenal sebagai makam Mbah Kiai Abdul Manan Dipomenggolo. Ia merupakan sosok sentral di balik berdirinya Pondok Tremas.
Awalnya, pesantren tersebut berada di Semanten. Namun sekitar tahun 1830-an, pesantren dipindahkan ke Desa Tremas.
Perpindahan itu bukan tanpa alasan. Selain faktor pernikahan beliau dengan putri Demang Tremas, pertimbangan wilayah juga menjadi faktor penting.
Semanten dinilai terlalu dekat dengan pusat pemerintahan Desa Nanggungan. Tremas dianggap lebih kondusif bagi para santri untuk belajar dan mendalami ilmu agama.
“Pondok Tremas awalnya dari Semanten, lalu sekitar tahun 1830-an pindah ke Tremas. Faktornya banyak, salah satunya kekeluargaan dan wilayah Semanten terlalu dekat dengan pusat pemerintahan Nanggungan,” ujar juru kunci malam, Muhammad Nasyiin, Kamis (19/2/2026).
Di kompleks Sarean Gede, tak hanya Mbah Abdul Manan yang dimakamkan. Sejumlah tokoh keluarga dan keturunannya juga bersemayam di sana, di antaranya Sayid Khasan, KH Besari, K Mahmud, dan KH Romli.
Masyarakat setempat menunjukkan penghormatan yang tinggi. Setiap tahun, haul digelar pada 23–27 Syawal, dengan puncak acara pada 27 Syawal. Ribuan jamaah biasanya memadati area makam.
“Tokoh utama di sini Mbah Abdul Manan. Haulnya luar biasa ramainya, puncaknya tanggal 27 Syawal,” kata Muhammad Nasyiin.
Peziarah yang datang didominasi alumni Pondok Tremas dari berbagai daerah di Jawa. Momentum haul, haflah akhirussanah, dan peringatan Maulid Nabi menjadi waktu paling ramai. Menjelang Ramadan, jumlah peziarah juga meningkat.
Tak hanya alumni, sejumlah majelis taklim dari Kabupaten Pacitan turut rutin berziarah. Tradisi ini terus hidup dan menjadi bagian dari denyut spiritual masyarakat sekitar.
Secara fisik, Sarean Gede telah mengalami renovasi beberapa kali. Menurut penuturan warga, pembaruan dilakukan dua hingga tiga kali sejak era 1980-an. Sebelumnya, tidak ada catatan pasti mengenai perbaikan bangunan makam tersebut.
Meski telah beberapa kali diperbarui, nilai sejarah dan kharisma tokoh yang dimakamkan di dalamnya tetap menjadi magnet utama.
Sarean Gede bukan sekadar kompleks pemakaman, melainkan simpul sejarah berdirinya Pondok Tremas dan jejak perjuangan dakwah di Pacitan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




