TIMES JATIM, MALANG – Tekad kuat membawa Ipul Hadi, pemuda asal Turen, Kabupaten Malang, terbang ke Belanda demi memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia ke kancah global. Di Negeri Kincir Angin tersebut, Ipul sukses menjadi pengusaha sekaligus koki yang dikenal dengan julukan "Koki Kukuk" atau koki gila karena dedikasinya yang total.
Perjalanan ini bermula pada 2015. Setelah lulus dari sekolah perhotelan dan sempat bekerja di kapal pesiar, Ipul bersama rekannya, Raymond yang merupakan warga negara Belanda, memutuskan membuka restoran spesialisasi masakan Jawa modern bernama “Kokkie Londo”.
Awalnya, Ipul hanya membuka gerai kecil yang melayani pesan antar (delivery) dan bawa pulang (take away). Namun, seiring meningkatnya permintaan pelanggan, ia akhirnya mengekspansi usahanya dengan membuka restoran yang lebih luas di Harleem.

Restoran ini mengusung konsep daily fresh, di mana menu yang disajikan berbeda setiap harinya. Langkah ini diambil Ipul karena kepeduliannya terhadap isu sampah makanan (food waste).
“Kami sangat memperhatikan sampah makanan yang dibuang, padahal di luar sana banyak orang yang tidak bisa makan,” ujar Ipul saat diwawancarai di sela-sela waktu liburannya ke Indonesia.
Metode daily fresh terbukti efektif meningkatkan laba dan menjamin kualitas produk karena bahan yang digunakan selalu segar. Ipul menyajikan sebelas menu di display setiap hari, mulai dari urap rumput laut, pecel, hingga protein seperti ayam panggang, ikan, dan oseng tempe kerang.
Khusus hari Jumat, Ipul menetapkannya sebagai "Hari Ikan" dengan menu seperti tongkol bakar, kakap merah bumbu bali, pepes salmon, hingga sate lilit. Semua menu tersebut merupakan resep kreasi Ipul yang telah dimodernisasi. Uniknya, ia kerap menyematkan nama lokal Malang pada menunya, seperti Oges Ngalam Natales (Sego Malang Selatan), Sego Kali Dempo, hingga Sego Sumbermanjing Wetan.
“Makanan Indonesia itu sudah menjadi opsi kuliner utama bagi warga di sana jika mereka bingung ingin makan apa,” katanya.
Keunikan lain dari Kokkie Londo adalah kebijakan tidak menambah stok makanan (no restock). Hal ini membuat pelanggan harus berebut, bahkan melakukan pemesanan melalui sistem pre-order (PO).
“Saya buka jam 17.00 sore, tapi jam 12.00 siang menu terkadang sudah habis karena orang-orang sudah pesan duluan melalui WhatsApp. Saya memang tidak mau menambah stok agar kualitas terjaga,” imbuh pria berusia 40 tahun tersebut.
Meski mayoritas pelanggannya adalah warga lokal Belanda, Ipul tetap mempertahankan identitas Indonesia. Saat melayani, ia tampil totalitas mengenakan pakaian tradisional seperti kain jarik, blangkon, dan baju adat Jawa. Interior restoran pun dipenuhi ornamen khas Nusantara lengkap dengan aroma dupa untuk menghidirkan suasana otentik Indonesia.

Berkat dedikasinya, nama Ipul Hadi tercatat sebagai salah satu koki asal Indonesia yang berpengaruh di Belanda dalam buku Makanologie karya Yulia Pattopang dan Helena Smith. Buku tersebut merangkum kisah sukses 17 chef Indonesia yang berhasil membuat gebrakan kuliner di Belanda.
Melalui restorannya, Ipul berharap dapat mengobati rasa rindu akan masakan rumah, terutama bagi warga negara Indonesia yang sedang merantau dan belum bisa pulang ke tanah air. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Kisah Ipul Hadi, Pemuda Turen yang Sukses Kenalkan Kuliner Jawa di Belanda
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Deasy Mayasari |