Komisi IV DPR RI Kawal Penyaluran 29.500 Ton Pupuk Subsidi Perikanan di Gresik
Komisi IV DPR RI pastikan 29.500 ton pupuk subsidi perikanan masuk program nasional saat kunjungi petambak di Manyar, Gresik.
Gresik – Komisi IV DPR RI mendorong pemerintah untuk mempercepat penyaluran pupuk subsidi bagi sektor perikanan budidaya. Komitmen ini ditegaskan saat rombongan wakil rakyat menyerap aspirasi petani tambak di Desa Betoyoguci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Senin (23/2/2026).
Kunjungan yang dipimpin Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, ini turut dihadiri Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani beserta jajaran terkait guna mendengarkan langsung kendala yang dihadapi para petambak di lapangan.
Panggah Susanto menyampaikan bahwa aspirasi petambak yang diusulkan Pemkab Gresik telah dibahas dalam Panja Pupuk dan resmi masuk ke dalam rekomendasi subsidi nasional.
“Alhamdulillah, tahun ini kebutuhan pupuk untuk budidaya perikanan sudah masuk dalam program subsidi sekitar 29.500 ton secara nasional. Ke depan, kami akan fokus pada pembenahan data agar distribusi tepat sasaran,” ujar Panggah.
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, dalam sambutannya menekankan bahwa sektor perikanan merupakan komoditas andalan Gresik di tengah masifnya industrialisasi. Saat ini, Gresik memiliki luas tambak mencapai 28 ribu hektare dan 39 ribu hektare lahan pertanian.
"Selama ini para petambak mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk. Dengan kunjungan Komisi IV DPR RI ini, kami optimistis persoalan pupuk untuk petambak segera mendapatkan solusi konkret," tutur pria yang akrab disapa Gus Yani tersebut.
Kendala Klasik Petani Tambak
Dalam pertemuan tersebut, persoalan ketersediaan pupuk subsidi menjadi sorotan utama. Kepala Desa Betoyoguci, Muhammad Suhel, yang mewakili para petambak mengungkapkan bahwa distribusi pupuk kerap tidak menentu dan menjadi kendala klasik tahunan.
“Selama ini kondisinya sulit; kadang ada uang tapi barangnya tidak ada, atau barangnya ada tapi petani sedang tidak punya uang. Kami berharap pupuk subsidi benar-benar tersedia tepat waktu dan distribusinya lancar,” ungkap Suhel.
Selain pupuk, Suhel juga mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan normalisasi atau pengerukan Sungai Corong. Anak Sungai Bengawan Solo yang membelah desa tersebut mengalami pendangkalan serius yang menghambat sirkulasi air tambak.
“Jika sungai didalami, kami optimistis produksi meningkat. Harapannya, dalam setahun petambak bisa panen hingga tiga kali,” tambahnya.
Ia juga menitipkan aspirasi terkait perlunya kestabilan harga pasca-panen agar hasil budidaya tetap menguntungkan dan harga tidak dipermainkan oleh spekulan atau tengkulak.
Sebagai informasi, Desa Betoyoguci memiliki luas lahan 375 hektare, di mana 350 hektare merupakan lahan tambak. Sebanyak 125 petambak setempat telah tergabung dalam kelompok tani. Secara teknis, setiap hektare tambak membutuhkan sekitar 2 kuintal pupuk SP-36 dan 3 kuintal urea per tahun untuk membudidayakan komoditas bandeng, udang vaname, udang windu, serta ikan bader. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



