Langgher Seppo di Ponpes Jhegeteh Bondowoso Tetap Tegak Sejak Ratusan Tahun Silam
Salah satu ikon bersejarah di Pondok Pesantren Jhegeteh adalah surau tua yang dikenal dengan sebutan Langgher Seppo.
TIMESINDONESIA – Salah satu ikon bersejarah di Pondok Pesantren Jhegeteh adalah surau tua yang dikenal dengan sebutan Langgher Seppo. Dalam bahasa Madura, sebutan tersebut berarti langgar atau surau tua.
Meski telah berdiri sekitar 251 tahun, bangunan ini masih kokoh dan terus difungsikan sebagai tempat belajar serta beribadah para santri. Warga sekitar juga kerap memanfaatkannya untuk berbagai kegiatan keagamaan.
Bangunan berukuran sekitar 15 x 15 meter itu didominasi material kayu. Mulai dari tiang penyangga hingga lantainya dibuat dari kayu pilihan.
Lantainya sendiri dibuat menggantung sekitar satu meter dari permukaan tanah, sehingga menyerupai rumah panggung.
Salah satu Majelis Keluarga Ponpes Jhegeteh, Kiai Mas Muhammad Hizbullah Noer Cholil, menjelaskan, beberapa bagian bangunan memang pernah direnovasi karena termakan usia. Namun, tiang penyangga utama dipastikan masih asli sejak pertama kali langgar tersebut didirikan ratusan tahun lalu.
“Tiang penyangga utamanya masih asli sejak langgar ini dibangun. Ada empat tiang utama, dan itu bukan kayu hasil gergajian, tapi dipahat langsung,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Mas Hizbul itu juga mengungkapkan, bangunan Langgher Seppo sempat diusulkan untuk direnovasi total menjadi bangunan baru oleh Bupati Bondowoso saat itu, Bupati Mashoed. Namun rencana tersebut ditolak oleh keluarga besar pesantren serta para alumni.
Akhirnya, bangunan tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya. Renovasi yang dilakukan hanya sebatas perawatan ringan, seperti memperbaiki atap agar tidak bocor atau mengganti lantai yang mulai rapuh.
“Renovasi hanya untuk menjaga agar tetap aman digunakan, misalnya memperbaiki atap atau lantai yang dikhawatirkan ambruk,” jelasnya.
Sejak awal berdirinya Pondok Pesantren Jhegeteh hingga sekarang, Langgher Seppo tidak pernah berpindah fungsi. Tempat ini selalu digunakan sebagai pusat kegiatan santri, baik untuk belajar kitab maupun beribadah siang dan malam.
Pada masa awal berdirinya pesantren, penerangan di langgar tersebut hanya mengandalkan obor saat malam hari. Seiring perkembangan zaman, kini penerangannya sudah menggunakan listrik, namun suasana tradisionalnya tetap dipertahankan.
“Tempatnya tidak pernah berubah atau dipindah sejak dulu,” imbuhnya.
Menariknya, di dalam Langgher Seppo juga terdapat sebuah bedug berukuran sekitar 3 x 1,5 meter. Sekilas bedug itu tampak seperti bedug pada umumnya.
Namun, usia benda tersebut diyakini hampir sama tuanya dengan berdirinya Pondok Pesantren Jhegeteh, yakni telah bertahan selama ratusan tahun. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



