Festival Nasi Krawu KWGe Akan Hadirkan Teater Jurnalis
Festival Tumpeng Nasi Krawu yang dihelat selama dua hari pada Sabtu-Minggu (27-28/6/2026) akan diisi oleh serangkaian acara, mulai lomba mewarnai, bazar UMKM, hingga berbagai pelayanan masyarakat.
Gresik – Festival Nasi Krawu Vol-4 yang digelar Komunitas Wartawan Grissee (KWGe) segera hadir di Wisata Edukasi Gresik Universal Science (GUS) Balongpanggang, Gresik pada Minggu (28/6/2026) mendatang.
Selain ada tumpeng berisi 3.000 nasi krawu dan layanan publik, kegitan ini juga akan menampilkan teater jurnalis yang akan dibawakan oleh Didik Hendriyono, Didik Cahyono (Dyo) serta Moch Sugeng.
Ketua KWGe, Miftahul Arif mengatakan, panggung teater bertajuk ‘Bangkit dari Kematian’ sengaja digelar dalam puncak Festival Tumpeng Nasi Krawu untuk menghibur para pengunjung yang hadir.
“Ada tiga aktor yang akan tampil, semuanya adalah anggota KWGe yang selama ini sudah sangat piawai menampilkan peran dalam panggung teater. Kami hadirkan panggung teater ini ini secara khusus untuk menghibur para pengunjung dan tamu undangan yang hadir," kata Miftah.
Menurut Miftah, panggung teater bukan sekadar memainkan peran. Melainkan belajar mendalami dan mengenali emosi, bekerja sama, disiplin, dan yang terpenting, berani tampil di depan banyak orang.
Proses menuju panggung pun tidak mudah, karena membutuhkan skill dan persiapan yang matang. “Tentu nantinya teater ini akan jadi pertunjukan yang spektakuler,” terang dia.
Selain panggung teater, lanjut Miftah, Festival Tumpeng Nasi Krawu yang dihelat selama dua hari pada Sabtu-Minggu (27-28/6/2026) akan diisi oleh serangkaian acara, mulai lomba mewarnai, bazar UMKM, hingga berbagai pelayanan masyarakat, seperti administrasi kependudukan dan lain-lain.
“Banyak acara dan hiburan serta layanan yang ada di Festival Tumpeng Nasi Krawu. Bahkan nanti juga ada penobatan oleh rekor MURI dengan gunungan nasi krawu terbanyak di Indonesia,” tutupnya
Tema Teater
Sementara panggung pertunjukan bertajuk ‘Bangkit dari Kematian’ itu memiliki makna yang cenderung membawa pesan moral, yakni Kematian bukanlah akhir, melainkan pengingat bahwa waktu manusia terbatas.
Pesan utamanya adalah mendorong untuk hidup penuh makna, mengajarkan agar tidak menyia-nyiakan waktu, fokus pada kebaikan, dan selalu mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang akan datang.
Waktu Sangat Terbatas: Kematian adalah kepastian yang tidak mengenal usia. Pesan ini mengingatkan kita untuk tidak menunda perbuatan baik dan terus memperbaiki diri.
Harta Tidak Dibawa: Saat ajal menjemput, semua hal duniawi akan ditinggalkan. Ini mengajarkan kita untuk lebih menghargai hubungan antarmanusia dan pencapaian spiritual daripada sekadar materialisme.
Warisan Kebaikan: Ketika seseorang meninggal, kenangan tentang kebaikan merekalah yang akan terus hidup. Hal ini memotivasi kita untuk meninggalkan dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Penyadar Kesombongan: Kesadaran akan kematian meruntuhkan sifat egois, kesombongan, dan cinta dunia berlebihan.
Persiapan Menuju Kekekalan: Kematian adalah jembatan menuju fase kehidupan selanjutnya. Pesan ini menekankan pentingnya keyakinan dan amal ibadah sebagai bekal. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

