Ketua Umum Fatayat NU Wafat, Ribuan Santri di Jombang Iringi Pemakaman
Ketua Umum PP Fatayat NU 2022–2027 Margaret Aliyatul Maimunah atau Ning Lia wafat di RS Fatmawati dan dimakamkan di Denanyar, Jombang, diiringi ribuan pelayat.
JOMBANG – Kabar duka datang dari keluarga besar Fatayat Nahdlatul Ulama. Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU masa khidmah 2022–2027, Margaret Aliyatul Maimunah atau yang akrab disapa Ning Lia, wafat di Rumah Sakit Fatmawati, Minggu pagi pukul 08.25 WIB.
Almarhumah sebelumnya menjalani perawatan intensif selama 12 hingga 13 hari di ruang ICU rumah sakit tersebut sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
Jenazah tiba di rumah duka di lingkungan Pondok Pesantren Al Bisyri, Denanyar, Kabupaten Jombang, sekitar pukul 23.00 WIB menggunakan ambulans. Suasana haru menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Mambaul Maarif Denanyar sejak Minggu malam hingga Senin dini hari.
Ribuan santri, tokoh ulama, dan masyarakat memadati area pondok untuk memberikan penghormatan terakhir. Bendera putih terpasang di gerbang rumah duka, sementara karangan bunga dari sejumlah pejabat nasional berjajar di sekitar lokasi.
Sebelum dimakamkan, jenazah disalatkan di Masjid Jami Pondok Pesantren Mambaul Maarif. Salat jenazah dipimpin oleh Marzuki Mustamar dan diikuti para santri, ulama, serta masyarakat yang memenuhi masjid. Lantunan tahlil dan doa mengiringi prosesi pemberangkatan jenazah menuju kompleks pemakaman pondok pesantren setempat.
Ning Lia dikenal sebagai sosok aktivis perempuan yang konsisten berkhidmat di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia memulai perjalanan organisasinya dari Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), kemudian aktif di Fatayat NU, hingga dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU periode 2022–2027.
Selain aktif di organisasi keagamaan, almarhumah juga tercatat sebagai Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menunjukkan komitmennya terhadap isu perlindungan perempuan dan anak.
Putri pasangan KH Mohammad Faruq dan Hj Lilik Chodijah Aziz Bisri ini merupakan keturunan ulama kharismatik Bisri Syansuri. Sejak kecil, Ning Lia menempuh pendidikan di lingkungan pesantren, mulai dari jenjang TK, MI, MTsN, hingga MAN di Denanyar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S1 di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Kakak kandung almarhumah, KH Sholahuddin Taufiqurrahman, menyebut Ning Lia sebagai pejuang organisasi yang total mengabdikan diri di Nahdlatul Ulama.
“Beliau adalah pejuang organisasi, khidmah di NU mulai dari IPPNU kemudian Fatayat, karena memang secara biologis dan darah dari Mbah Bisri Syansuri,” ujarnya kepada awak media, Senin (2/3/2026) dini hari.
Pihak keluarga berharap seluruh warga Nahdliyin dan masyarakat luas turut mendoakan almarhumah agar segala amal ibadah dan pengabdiannya diterima serta diampuni Allah SWT.
"Kepergian Ning Lia meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga besar pesantren Denanyar, tetapi juga bagi kader Fatayat NU dan masyarakat yang selama ini mengenalnya sebagai sosok perempuan tangguh, bersahaja, dan berdedikasi dalam perjuangan sosial-keagamaan," ucapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.




