SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren Catat 83 Persen Lulusan Diterima Perguruan Tinggi, 4 Siswa Lolos Kampus Luar Negeri
Capaian tersebut masih berpotensi bertambah karena sejumlah siswa masih menunggu hasil seleksi jalur mandiri maupun proses penerimaan lainnya.
MALANG – SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren kembali mencatatkan capaian dalam penempatan lulusannya ke perguruan tinggi.
Hingga Sabtu (20/6/2026), sebanyak 100 dari total 120 siswa kelas XII atau sekitar 83,33 persen telah diterima di berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri bahkan sekolah kedinasan.
Kepala SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren, Ani Rahmawati, SPd, MPd, menjelaskan, capaian tersebut masih berpotensi bertambah karena sejumlah siswa masih menunggu hasil seleksi jalur mandiri maupun proses penerimaan lainnya.
“Per Sabtu ini sudah 100 siswa yang diterima perguruan tinggi. Angka ini masih terus berkembang karena beberapa siswa masih menunggu pengumuman dan proses seleksi jalur lainnya” ujarnya.
Ani menjelaskan, dari jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), sebanyak 30 siswa berhasil lolos atau mencapai 62,5 persen dari jumlah siswa yang berhak mengikuti seleksi tersebut.
Sementara melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), sebanyak 33 siswa diterima dengan persentase kelulusan mencapai 41,25 persen. Ia menambahkan bahwa pihaknya menargetkan 100 persen siswa dapat lolos di perguruan tinggi.

Capaian tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Selain perguruan tinggi negeri, sejumlah siswa juga berhasil menembus sekolah kedinasan dan perguruan tinggi luar negeri.
“Alhamdulillah ada empat siswa yang sudah diterima di perguruan tinggi luar negeri. Selain itu ada yang lolos sekolah pelayaran dan beberapa siswa yang masih berjuang mengikuti seleksi Akpol,” imbuhnya.
Bagi siswa yang masih berproses mencapai kampus impian, pihak sekolah melalui wali kelas juga melakukan pendampingan berkelanjutan.
Mereka tetap melakukan komunikasi intensif dengan siswa dan orang tua untuk memastikan proses pendaftaran hingga penerimaan berjalan lancar.
“Meskipun anak-anak kami sudah lulus, para wali kelas tetap memberikan pendampingan dengan melakukan komunikasi bersama siswa dan wali murid secara kontinyu,” jelasnya.
Ani menyebut keberhasilan ini tidak lepas dari program “Kelas Masa Depan” yang diterapkan sejak siswa duduk di kelas X.
Program tersebut mengintegrasikan pendampingan akademik, psikotes, konsultasi karier, hingga perencanaan studi lanjutan yang melibatkan siswa, orang tua, dan wali kelas melalui komunikasi tripartit.
“Sejak awal kami punya program “Kelas Masa Depan”, jadi anak-anak kami kawal mulai kelas 10, mereka nanti ingin masuk universitas mana, jurusan apa, kami adakan psikotes, juga diskusi bersama dalam forum Tri-Partit (Guru, Orang tua dan Siswa),” imbuhnya.
Dalam program tersebut, siswa yang menargetkan perguruan tinggi luar negeri maka sekolah memberikan pendampingan khusus persiapan IELTS sejak kelas X.
Sementara untuk calon peserta sekolah kedinasan juga mendapat pembinaan tambahan bekerja sama dengan lembaga eksternal untuk mempersiapkan tes akademik maupun fisik.
Selain fokus pada capaian akademik, SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren juga membekali siswa dengan enam profil lulusan, yakni agamis, qurani, pemimpin negarawan, scientist, multilingual, dan berprestasi.
Pada aspek agamis, Ani menjelaskan bahwa lulusan SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren sudah dibiasakan beribadah dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami meyakinkan wali murid bahwa lulusan kami sudah dibiasakan beribadah, termasuk bacaan shalat, gerakan, dan itu sudah dinilai sehari-hari,”katanya.
Selain itu, ia menambahkan untuk aspek Qur’ani, 23 siswa yang baru lulus kemarin merupakan seorang Tahfidz. Sehingga, Al-Qur’an mereka sudah terverifikasi.
Selanjutnya, untuk profil pemimpin negarawan, Ani menambahkan lulusannya memiliki tingkat disiplin yang tinggi. Lanjutnya, para siswa sudah dibiasakan tepat waktu ketika beraktivitas di mahad atau sekolah.
Untuk poin scientist, Ani menambahkan hal tersebut terbukti dengan banyaknya siswa yang diterima di perguruan tinggi.
“Poin ini terbukti dengan anak-anak yang banyak diterima di perguruan tinggi, mereka kreatif, komunikatif, dan kolaboratifnya luar biasa,” imbuhnya.
Untuk poin multilingual, sekolah juga mewajibkan Bahasa Inggris dan Arab sebagai program wajib, kemudian dilanjutkan dengan penguatan bahasa Jerman, Jepang, dan Mandarin melalui kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan.
Di bidang bahasa Mandarin, sejumlah siswa berhasil meraih nilai sempurna pada ujian HSK. Sementara pada program Bahasa Jepang dan TOEFL ITP, hasil yang dicapai siswa juga menunjukkan peningkatan yang signifikan.
“Semua penilaian bahasa para siswa dilakukan oleh pihak eksternal sebagai bentuk akuntabel kami kepada orang tua,” jelasnya.
Ani meyakini, dengan bekal enam profil lulusan tersebut dapat menjadi bekal yang cukup untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
“Kami berharap, apa yang sudah diajarkan oleh sekolah, mahad dapat menjadi bekal yang cukup ketika di perguruan tinggi, bagaimana mandirinya anak-anak, kolaboratifnya, hingga tanggung jawab mereka nanti,” pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

