Komitmen Ramah Disabilitas, Unesa Fasilitasi Kelas Mengaji Isyarat Selama Ramadan
Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menggelar program Mengaji Al-Qur’an Bahasa Isyarat selama Ramadan 2026 sebagai wujud komitmen kampus ramah disabilitas.
SURABAYA – Bulan suci Ramadan menjadi momentum bagi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk memperkuat komitmen sebagai kampus ramah disabilitas. Salah satunya melalui program "Mengaji Al-Qur’an Bahasa Isyarat" yang kembali diselenggarakan sepanjang Ramadan 2026.
Kegiatan yang berlangsung setiap Senin dan Kamis di Masjid Baitul Makmur, Kampus Ketintang ini merupakan kolaborasi strategis antara Komunitas Tuli, Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI), dan Pusat Unggulan Iptek (PUI) Disabilitas Unesa.
Kasubdit PUI Disabilitas Unesa, Budiyanto, menjelaskan bahwa program ini bertujuan memperkuat literasi keagamaan yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, mengaji bagi mahasiswa disabilitas bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya meningkatkan ketakwaan secara setara.
“Bagi kita mungkin mengaji itu sederhana, tetapi bagi teman-teman disabilitas ini adalah bentuk ibadah sekaligus upaya meningkatkan kesejahteraan spiritual. Kami ingin memastikan Ramadan dapat dijalani secara setara dan bermakna,” ujar Budiyanto, Selasa (3/3/2026).
Program yang diinisiasi sejak 2024 dan berjalan efektif mulai tahun lalu ini diikuti sekitar 30 peserta pada tahun ini. Meski mayoritas merupakan mahasiswa tuli Unesa, kelas ini juga terbuka bagi masyarakat umum.
"Motor penggerak kegiatan ini adalah Komunitas Tuli Unesa. Pengajarnya terdiri dari mahasiswa tingkat akhir yang telah tersertifikasi dalam penguasaan bahasa isyarat Al-Qur’an," tambahnya.
Metode Adaptif dan Visual
Metode pembelajaran dirancang secara adaptif dengan pendekatan visual dan gestural. Berbeda dengan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) konvensional yang menggunakan metode oral, kelas ini menitikberatkan pada visualisasi gerakan tangan yang merepresentasikan huruf hijaiyah.
Budiyanto menerangkan, pengajar mengombinasikan standar bahasa isyarat Arab dengan penyesuaian konteks Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) agar materi lebih mudah dipahami peserta.
Dukungan juga datang dari UKM Peduli Disabilitas Unesa. Nanda, salah satu mahasiswa pendamping, mengungkapkan bahwa organisasinya berperan memastikan proses belajar berlangsung efektif melalui asistensi personal.
"Sejak 2026, UKM Peduli Disabilitas telah resmi berdiri secara mandiri untuk menjalankan fungsi pendampingan dan advokasi di lingkungan kampus," kata Nanda.
Sementara itu, Akbar, mahasiswa S-1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) angkatan 2022 sekaligus pendiri Komunitas Tuli Unesa, menceritakan perjuangannya merintis program ini. Ia bahkan belajar secara mandiri agar bisa menjadi instruktur yang kompeten.
“Awalnya saya belajar secara mandiri agar bisa menjadi pengajar. Sekarang alhamdulillah sudah berjalan rutin setiap Ramadan,” ungkap Akbar.
Dalam praktiknya, para peserta dipandu melafalkan huruf hijaiyah melalui bahasa isyarat. Mereka juga diminta maju satu per satu untuk memperagakan hafalan di depan pengajar.
Melalui inisiatif ini, Unesa berhasil menghadirkan ekosistem ibadah yang aksesibel. Hal ini membuktikan bahwa praktik keagamaan dapat dijalankan secara adaptif tanpa mengurangi esensi spiritualitas bagi setiap individu. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



