Kolaborasi UNTAG dan Warga Sememi Perkuat Perencanaan Drainase Surabaya
Tim CeCUR UNTAG Surabaya melibatkan warga RW 4 Sememi Kidul, Benowo, dalam pemutakhiran Surabaya Drainage Master Plan melalui pameran dan pemetaan partisipatif untuk memperkuat ketahanan kota berbasis pengalaman masyarakat.
SURABAYA – Pendekatan partisipatif dalam perencanaan kota kembali mendapatkan ruang praktik nyata melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat. Tim Center for Climate and Urban Resilience (CeCUR) Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya menghadirkan model pelibatan warga dalam proses pemutakhiran Surabaya Drainage Master Plan (SDMP) melalui Pameran Jurnal Kreatif bertajuk ‘Sesudah Hujan’ di RW 4 Sememi Kidul, Kecamatan Benowo.
Kegiatan ini dirancang bukan sekadar sebagai pameran dokumentasi banjir biasa, melainkan menjadi bagian dari rangkaian lokakarya sosial-ekonomi yang melibatkan warga secara aktif.
Melalui forum diskusi, pengumpulan cerita, hingga pemetaan partisipatif, masyarakat tidak lagi ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek yang memiliki pengetahuan lokal dan pengalaman langsung atas dinamika lingkungannya.
Dekan Fakultas Teknik UNTAG Surabaya, Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari transformasi peran perguruan tinggi dalam pembangunan kota. Beliau menyatakan bahwa perencanaan kota yang baik tidak boleh hanya mengandalkan data di atas kertas.
“Perencanaan kota yang baik tidak hanya berbasis data teknis, tetapi juga pengalaman warga. Apa yang dirasakan masyarakat menjadi variabel penting dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan,” ujar Retno menekankan pentingnya aspek humanis dalam pembangunan.

Gayung bersambut, Ketua RW 4 Sememi, Moch Tohir Muchsin, S.Pd., menilai bahwa keterlibatan aktif ini memberikan rasa memiliki yang kuat bagi warga terhadap program pembangunan.
Menurutnya, warga merasa didengar dan dihargai karena pengalaman mereka kini menjadi bagian dari rekomendasi kebijakan resmi.
Model yang diterapkan oleh CeCUR UNTAG Surabaya ini mencakup tiga tahapan utama yang dimulai dari eksplorasi pengalaman warga melalui diskusi kelompok. Langkah tersebut dilanjutkan dengan pemetaan sosial-ekonomi partisipatif untuk mengidentifikasi dampak banjir terhadap mata pencaharian serta infrastruktur. Puncaknya adalah diseminasi hasil dalam bentuk pameran terbuka yang berfungsi sebagai ruang refleksi sekaligus edukasi lintas generasi.
Pameran ‘Sesudah Hujan’ ini pun menjadi medium transparansi dan akuntabilitas publik yang nyata. Di sini, warga dapat melihat langsung bagaimana narasi dan data yang mereka sampaikan diterjemahkan menjadi bahan kajian relevan bagi pembaruan drainase kota. Fenomena ini memperlihatkan bahwa ketahanan kota tidak hanya dibangun melalui infrastruktur fisik, tetapi juga melalui penguatan kapasitas sosial dan pengetahuan lokal masyarakat.
Sentimen positif juga datang dari salah satu warga senior, Anisa, yang mengungkapkan bahwa kegiatan ini membantu generasi muda memahami sejarah lingkungan tempat tinggal mereka.
“Anak-anak sekarang jadi tahu bahwa kampung ini pernah mengalami masa sulit, dan kita bisa bangkit bersama,” tuturnya dengan penuh harap.
Secara lebih luas, model yang menjadikan Sememi sebagai laboratorium sosial ini menunjukkan bahwa kolaborasi akademisi dan komunitas dapat menghasilkan perencanaan yang lebih kontekstual dan responsif. Dengan posisi kampus sebagai fasilitator dan warga sebagai mitra strategis, model partisipatif ini berpotensi besar untuk direplikasi di wilayah lain agar pembangunan kota ke depan semakin inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



