Gandeng TIMES Indonesia, IAI Attarmasi Pacitan Cetak Jurnalis Kampus Kritis Berintegritas
Pelatihan tidak hanya membekali peserta dengan teknik menulis berita, tetapi juga keterampilan wawancara, fotografi jurnalistik, verifikasi informasi, hingga praktik langsung produksi berita.
PACITAN – Institut Agama Islam atau IAI Attarmasi Pacitan menggandeng TIMES Indonesia dalam pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa, Rabu (24/6/2026) malam.
Kegiatan yang digelar di Aula Multipurpose itu diikuti mahasiswa dari lima program studi dengan tema 'Membangun Jurnalis Kampus yang Kritis, Profesional, dan Berintegritas di Era Digital'.
Pelatihan tidak hanya membekali peserta dengan teknik menulis berita, tetapi juga keterampilan wawancara, fotografi jurnalistik, verifikasi informasi, hingga praktik langsung produksi berita.
Wakil Rektor Pelaksana Harian IAI Attarmasi Pacitan, Dr. Ali Mufron, menegaskan bahwa jurnalistik tidak bisa dipisahkan dari budaya literasi dan pendidikan karakter.
"Berbicara tentang jurnalistik itu tidak lepas dari literasi. Berbicara literasi itu tidak lepas dari pendidikan karakter, karena dasar dari literasi atau jurnalistik adalah pendidikan karakter," ujarnya saat membuka kegiatan.
Menurut Ali Mufron, tradisi literasi sesungguhnya telah lama berkembang di lingkungan pesantren. Banyak ulama dan masyayikh yang menghasilkan karya-karya tulis yang hingga kini masih menjadi rujukan di berbagai negara.
Ia menilai kemampuan menulis menjadi kebutuhan penting bagi mahasiswa karena berkaitan langsung dengan aktivitas akademik, penelitian, hingga publikasi karya ilmiah.
"Tujuan dari pelatihan ini salah satunya adalah untuk meningkatkan kemampuan menulis dan berkomunikasi," katanya.
Ali Mufron berharap mahasiswa tidak hanya aktif menulis karya ilmiah, tetapi juga artikel populer yang dapat dipublikasikan melalui berbagai platform digital.
Selain itu, pelatihan jurnalistik dinilai mampu melatih kemampuan berpikir kritis mahasiswa, terutama dalam memilah informasi, memverifikasi fakta, dan membedakan informasi yang benar dengan hoaks.
"Basis dari jurnalistik adalah pendidikan karakter. Kalau dalam bahasa pesantren ya akhlakul karimah," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), tetap digunakan secara bijak dan didasarkan pada nilai-nilai moral serta spiritual.
"AI itu buatan manusia, jangan sampai manusia lebih tidak cerdas daripada AI," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro TIMES Indonesia Kabupaten Pacitan, Rojihan, menekankan bahwa menulis merupakan kebutuhan yang harus dibiasakan sejak di bangku kuliah.
Menurut dia, media memiliki pengaruh besar terhadap cara pandang masyarakat. Karena itu, jurnalisme harus menghadirkan informasi yang bermanfaat dan memberi dampak positif.
"Sesuai tagline TIMES Indonesia, Jurnalisme Positif. Mulai saat ini kita mulai nulis hal yang baik-baik saja," katanya.
Dalam sesi materi, peserta dibekali prinsip dasar penulisan berita, mulai dari unsur 5W+1H, akurasi, verifikasi fakta, hingga teknik menulis yang efektif untuk media digital.
Rojihan menjelaskan, berita yang baik harus mudah dipindai pembaca, menarik perhatian, mudah ditemukan melalui mesin pencari, serta memberi manfaat bagi masyarakat.
Selain teori, mahasiswa juga mendapatkan praktik langsung menyusun berita, melakukan wawancara, memahami kode etik jurnalistik, serta teknik pengambilan foto sesuai kaidah jurnalistik.
Peserta juga diajak memahami pentingnya penguasaan materi sebelum melakukan wawancara agar informasi yang diperoleh lebih akurat dan mendalam.
Tak hanya itu, mahasiswa didorong untuk aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana publikasi berbagai prestasi, kegiatan, dan capaian akademik kampus.
Sepanjang kegiatan berlangsung, mahasiswa tampak antusias mengikuti materi dan praktik yang diberikan narasumber. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.
Berita ini juga tayang di portal nasional
Baca versi lengkapnya di jaringan nasional kami.

