TIMES JATIM, MALANG – style="text-align:justify">Di tengah laju modernisasi dan disrupsi teknologi, pesantren kerap masih dipersepsikan sebagai metode pendidikan konvensional yang tertinggal dari perkembangan zaman. Namun, realitas di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Pesantren tidak hanya bertahan, tetapi terus bertransformasi dan semakin diminati masyarakat.
Data Kementerian Agama mencatat, hingga Agustus 2024 terdapat 31.220 pondok pesantren yang terdaftar secara resmi, meningkat signifikan pasca disahkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan publik terhadap pesantren terus tumbuh.
Perubahan paling mencolok terlihat pada basis sosial santri. Jika dahulu pesantren identik dengan masyarakat pedesaan, kini lembaga pendidikan ini justru diminati kalangan perkotaan. Fenomena urbanisasi turut mendorong masyarakat kelas menengah memilih pesantren sebagai alternatif pendidikan anak.
“Kebanyakan sekarang mencari pesantren atau asrama. Mereka sudah tidak terlalu tertarik dengan international school, meskipun yang dicari adalah pondok modern,” ujar Nailur Rochman, S.IP., M.Pd., M.M., dalam Seminar Harlah Satu Abad NU di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (7/1/2026).
Para peserta yang hadir dalam acara Kick Off Harlah Satu Abad NU di Unisma. (FOTO: Miranda/TIMES Indonesia)
Selain faktor urbanisasi, krisis kesehatan mental generasi muda juga menjadi alasan kuat pergeseran pilihan pendidikan. Tekanan sosial, kecanduan gawai, kesepian di dunia nyata, hingga depresi dinilai semakin mengkhawatirkan. Banyak orang tua melihat pesantren sebagai ruang aman untuk membentuk ketangguhan mental dan karakter anak.
Di sisi lain, kehadiran Artificial Intelligence (AI) turut mengubah lanskap pendidikan global. Namun demikian, pesantren diyakini memiliki keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apa pun, yakni pengalaman spiritual dan pembentukan karakter.
“Ketenangan jiwa tidak bisa didapat dari AI. Sekalipun ada AI, pesantren tidak akan mati, karena pesantren memiliki spiritual journey,” tegas Nailur Rochman yang juga pimpinan Pesantren Bayt al-Hikmah Pasuruan.
Pertimbangan orang tua pun kini tak lagi semata berorientasi pada capaian akademik. Nilai adab, ketahanan mental, dan perlindungan dari dampak negatif digitalisasi menjadi faktor utama. Dalam konteks ini, pesantren dipandang memiliki character security, yakni ruang pendidikan yang mampu mengamankan dan membimbing anak dalam menghadapi tantangan dunia luar.
Pesantren juga dinilai unggul dalam membangun kolaborasi sosial, manajemen waktu, serta jejaring alumni yang luas. Selain itu, banyak pesantren modern telah mengembangkan kurikulum terintegrasi yang menggabungkan kompetensi keilmuan duniawi dan spiritual.
“Pesantren dipandang memberikan paket pendidikan yang lengkap. Apalagi sekarang banyak pesantren yang sudah memiliki kurikulum terintegrasi,” pungkasnya.
Transformasi tersebut menegaskan bahwa pesantren bukan sekadar warisan tradisi, melainkan institusi pendidikan yang adaptif dan relevan dalam menjawab tantangan zaman, dari krisis urban hingga era kecerdasan buatan. (*)
| Pewarta | : Miranda Lailatul Fitria (MG) |
| Editor | : Imadudin Muhammad |