https://jatim.times.co.id/
Opini

Bullying di dalam Pendidikan

Kamis, 05 Februari 2026 - 23:41
Bullying di dalam Pendidikan Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

TIMES JATIM, BOJONEGORO – Bullying di dunia pendidikan ibarat api kecil yang sering dianggap remeh. Awalnya hanya candaan, hanya ejekan, hanya “guyonan kelas” yang katanya lumrah. Namun perlahan, api itu membesar, membakar harga diri, meluluhlantakkan mental, bahkan meruntuhkan masa depan seorang anak. 

Ironisnya, banyak orang dewasa justru berdiri di pinggir, menonton, lalu berkata: “Ah, itu biasa. Namanya juga anak-anak.” Padahal, tidak ada yang biasa dari luka yang dipelihara diam-diam.

Sekolah seharusnya menjadi rumah kedua. Tempat anak belajar membaca dunia, belajar menyusun mimpi, dan belajar menjadi manusia. Tetapi bagi sebagian siswa, sekolah justru berubah menjadi arena bertahan hidup. 

Setiap pagi bukan disambut semangat, melainkan kecemasan. Setiap bel masuk bukan pertanda ilmu akan dimulai, melainkan tanda bahwa penghinaan akan kembali diulang. Bullying tidak hanya memukul tubuh, tetapi menampar jiwa.

Yang paling menyedihkan, bullying sering tidak hadir dalam bentuk kekerasan fisik yang mudah terlihat. Ia bisa hadir sebagai tatapan merendahkan, bisik-bisik yang menertawakan, ejekan soal bentuk tubuh, warna kulit, status ekonomi, hingga latar belakang keluarga. Ia bisa hadir sebagai “pembuangan sosial”, ketika seorang anak sengaja tidak diajak bermain, tidak dimasukkan grup, tidak dianggap ada. 

Dalam bahasa sederhana: bullying adalah seni kejam membuat seseorang merasa tidak pantas hidup di ruang yang sama. Dan yang lebih tragis: banyak korban akhirnya percaya bahwa dirinya memang tidak layak.

Di era digital, bullying berkembang seperti virus yang bermutasi. Jika dulu hinaan berhenti di pagar sekolah, hari ini ia menyeberang sampai ke kamar tidur korban. Cyberbullying membuat seorang anak tidak punya ruang aman. 

Notifikasi ponsel bisa berubah menjadi alarm trauma. Satu unggahan bisa menjadi pintu masuk ribuan komentar kejam. Satu foto bisa menjadi bahan olok-olok yang disebarkan tanpa batas. Sekali dunia maya menertawakan, luka itu bisa terasa seumur hidup.

Bullying bukan sekadar masalah kenakalan siswa. Bullying adalah persoalan sistem pendidikan yang gagal membangun ekosistem sehat. Ia lahir dari budaya sekolah yang membiarkan kekerasan kecil tumbuh tanpa ditegur. Ia berkembang karena ada guru yang memilih diam, ada teman yang takut membela, dan ada institusi yang lebih sibuk menjaga nama baik daripada menjaga keselamatan psikologis muridnya. Sekolah yang menutupi bullying demi citra, sama saja sedang memoles luka dengan bedak.

Kita juga perlu jujur bahwa bullying sering dipelihara oleh budaya senioritas. Ada sekolah yang menjadikan “keras” sebagai tradisi, seolah penderitaan adalah syarat kedewasaan. Anak baru harus “dibentuk”, kata mereka. Padahal yang terjadi bukan pembentukan karakter, melainkan pembunuhan karakter. Yang lemah dipaksa tunduk, yang kuat merasa berhak menguasai. Di sini bullying berubah dari perilaku individu menjadi ideologi kekuasaan.

Lebih jauh, bullying juga sering berakar dari ketimpangan sosial. Anak dari keluarga sederhana menjadi sasaran ejekan karena sepatu lusuh, seragam pudar, atau uang jajan yang pas-pasan. Anak yang berbeda dialek dianggap kampungan. Anak yang pendiam dianggap aneh. 

Bahkan anak yang berprestasi pun bisa jadi korban, karena kecerdasan dianggap ancaman. Di sekolah, kadang yang rajin justru dimusuhi, dan yang kasar malah ditakuti.

Padahal pendidikan bukan sekadar soal nilai rapor. Pendidikan adalah soal rasa aman. Tanpa rasa aman, ilmu tidak akan masuk. Tanpa kenyamanan, potensi tidak akan tumbuh. 

Anak yang setiap hari takut, tidak mungkin bisa fokus belajar. Anak yang terus-menerus dihina, perlahan akan kehilangan keberanian untuk bermimpi. Bullying adalah pembunuh sunyi dari kecerdasan bangsa.

Yang sering tidak kita sadari, korban bullying tidak selalu langsung menangis atau melapor. Banyak yang memilih diam. Mereka menelan luka seperti menelan batu. Mereka tersenyum di depan orang tua, tetapi menangis sendirian di kamar. Mereka tetap masuk sekolah, tetapi jiwanya sudah tidak berada di sana. 

Pada titik tertentu, korban bisa mengalami depresi, gangguan kecemasan, kehilangan percaya diri, bahkan muncul pikiran untuk mengakhiri hidup. Ketika seorang anak merasa mati lebih nyaman daripada sekolah, berarti sistem kita benar-benar gagal.

Namun, jangan hanya menyalahkan pelaku. Dalam banyak kasus, pelaku bullying juga lahir dari lingkungan yang keras. Anak yang dibesarkan dengan kekerasan sering menyalurkan luka dengan cara melukai orang lain. 

Mereka mencari kuasa karena tidak punya rasa aman. Mereka menindas karena ingin diakui. Mereka mengejek karena ingin terlihat kuat. Bullying adalah rantai luka yang diwariskan, dan sekolah seharusnya menjadi tempat rantai itu diputus.

Sayangnya, penanganan bullying di sekolah masih sering bersifat reaktif dan formalitas. Baru bergerak ketika kasus viral. Baru sibuk ketika media datang. Baru serius ketika orang tua marah. Selebihnya, kasus ditutup dengan kata-kata klasik: “Sudah diselesaikan secara kekeluargaan.” 

Padahal kekeluargaan yang dimaksud sering hanya menenangkan pelaku, bukan memulihkan korban. Keadilan yang hanya mengejar damai, kadang justru menciptakan luka baru.

Sekolah perlu membangun budaya anti-bullying yang nyata, bukan sekadar slogan di spanduk. Pendidikan karakter harus hidup dalam tindakan, bukan hanya tertulis di modul. 

Guru harus menjadi pelindung, bukan sekadar pengajar. Konselor harus aktif mendengar, bukan menunggu laporan. Teman sebaya harus diberdayakan untuk menjadi support system, bukan penonton pasif. Bullying tidak akan berhenti hanya dengan hukuman, tetapi dengan perubahan budaya.

Di sinilah pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang manusiawi. Sekolah harus menjadi tempat yang merawat martabat. Anak-anak harus diajarkan bahwa perbedaan bukan bahan ejekan, melainkan kekayaan. 

Mereka harus dilatih empati sejak dini, karena empati adalah vaksin paling ampuh melawan kekerasan sosial. Pendidikan yang hebat bukan yang melahirkan siswa ranking satu, tetapi yang melahirkan siswa yang tidak tega menertawakan temannya yang jatuh.

Bullying di dalam pendidikan adalah alarm keras bahwa kita masih sering salah paham tentang tujuan sekolah. Sekolah bukan pabrik nilai. Sekolah bukan mesin prestasi. Sekolah adalah taman pertumbuhan manusia. Dan taman tidak boleh menjadi tempat orang saling menginjak.

Jika kita ingin membangun Indonesia yang besar, kita harus mulai dari hal paling sederhana: memastikan tidak ada anak yang merasa sendirian di ruang kelasnya sendiri. Karena bangsa ini tidak akan kuat jika generasi mudanya tumbuh dengan trauma. Dan pendidikan yang membiarkan bullying tumbuh, sama saja sedang mencetak masa depan dengan tinta luka.

***

*) Oleh : Ida Fauziyah, Guru MI Alam Al Azhar Sumberrejo, Bojonegoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia  untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Pewarta : Hainor Rahman
Editor : Hainorrahman
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.