TIMES JATIM, MALANG – Pergantian tahun selalu datang dengan bunyi. Kembang api meledak di langit, hitung mundur diulang seperti mantra, dan manusia merasa seolah-olah waktu bisa diatur hanya dengan tepuk tangan dan sorak sorai. Namun, ketika asap pesta mengendap dan jalanan kembali sunyi, satu pertanyaan tetap berdiri tegak di hadapan kita: apa yang benar-benar kita bawa ke tahun yang baru?
Tahun 2026 datang tanpa mengetuk pintu. Ia hadir begitu saja, seperti cermin yang dipasang tiba-tiba di tengah ruangan. Kita dipaksa menatap wajah sendiri bukan yang dipoles oleh pencitraan media sosial, bukan yang disunting oleh pidato-pidato resmi melainkan wajah akhlak kita yang telanjang. Di situlah kegelisahan bermula.
Akhlak hari ini sering dipahami sebagai ornamen: dipajang saat dibutuhkan, disimpan saat terasa merepotkan. Ia menjadi slogan di spanduk, kutipan di status, atau kalimat pembuka dalam forum-forum resmi. Tetapi di jalan raya, di ruang kekuasaan, di kolom komentar, dan di meja-meja keputusan, akhlak justru kerap absen. Kita rajin berbicara tentang moral, tetapi gagap ketika harus mempraktikkannya dalam kehidupan yang riil dan berisiko.
Ada ironi yang pelan-pelan menjadi kebiasaan. Kita marah pada ketidakadilan, tetapi menikmati privilese yang lahir darinya. Kita mengutuk kebohongan, tetapi diam ketika dusta menguntungkan kelompok sendiri. Kita menuntut etika dari orang lain, tetapi menawar akhlak ketika berhadapan dengan kepentingan pribadi. Di titik ini, akhlak tidak mati ia hanya kelelahan, ditarik ke sana kemari oleh standar ganda yang kita ciptakan sendiri.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa. Akhlak kita hidup di zaman yang mengagungkan kecepatan, kemenangan, dan eksistensi. Yang paling lantang dianggap paling benar. Yang paling viral dianggap paling bermakna.
Dalam dunia seperti itu, akhlak sering kalah oleh algoritma. Kesantunan dikalahkan oleh sensasi. Kejujuran dikalahkan oleh narasi yang paling menguntungkan. Dan manusia, perlahan, belajar untuk bertahan bukan dengan nilai, melainkan dengan siasat.
Di ruang publik, kita melihat bagaimana kritik dibalas dengan teror, perbedaan pendapat ditanggapi dengan caci maki, dan kebenaran dipelintir menjadi ancaman. Akhlak tidak lagi menjadi kompas, melainkan beban. Ia dianggap menghambat, terlalu lambat, terlalu halus untuk dunia yang menuntut hasil instan. Padahal justru di situlah ia dibutuhkan: sebagai penyeimbang agar manusia tidak berubah menjadi mesin yang dingin dan rakus.
Akhlak sejatinya bukan soal menjadi suci, melainkan soal berani jujur pada diri sendiri. Ia hadir ketika seseorang memilih tidak menyakiti meski bisa, tidak menindas meski berkuasa, tidak berkhianat meski ada kesempatan. Akhlak bukan tentang tampil bersih, tetapi tentang bertahan tetap manusiawi di tengah godaan untuk menjadi kejam.
Tahun 2026 seharusnya tidak kita sambut dengan janji-janji besar, melainkan dengan keberanian kecil yang konsisten. Keberanian untuk berkata cukup ketika keserakahan menggoda. Keberanian untuk mendengar ketika ego ingin bicara. Keberanian untuk berbeda tanpa harus memusuhi. Akhlak tidak tumbuh dari seremoni, melainkan dari keputusan-keputusan sunyi yang sering tidak disorot kamera.
Kita perlu mengakui dengan jujur: krisis terbesar kita hari ini bukan sekadar ekonomi, politik, atau teknologi, melainkan krisis adab. Ketika akhlak runtuh, hukum menjadi alat, kekuasaan menjadi senjata, dan pengetahuan kehilangan kebijaksanaannya. Tanpa akhlak, kecerdasan berubah menjadi kelicikan, keberanian berubah menjadi kebrutalan, dan kebebasan berubah menjadi pembenaran diri.
Refleksi awal tahun ini tidak hendak menunjuk siapa yang paling salah. Ia justru mengajak setiap orang bercermin lebih lama. Bertanya dengan jujur: di titik mana kita mulai menoleransi yang seharusnya ditolak? Di momen apa kita memilih diam padahal tahu itu keliru? Dan sejauh mana kita bersedia menjaga akhlak ketika tidak ada tepuk tangan yang menunggu?
Akhlak tidak membutuhkan panggung. Ia tumbuh di ruang-ruang yang sering kita abaikan: dalam cara kita memperlakukan orang yang berbeda pandangan, dalam kejujuran kita saat tidak diawasi, dalam kesediaan kita meminta maaf tanpa merasa kalah. Akhlak hidup ketika manusia berhenti merasa paling benar dan mulai belajar merasa cukup.
Tahun 2026 akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kita. Tetapi kualitas kemanusiaan di dalamnya bergantung pada pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari. Apakah kita ingin hidup di zaman yang maju secara teknologi tetapi mundur secara nurani? Atau kita memilih menanam kembali akhlak, meski pelan, meski tidak populer, meski tidak segera terlihat hasilnya?
Di ambang tahun ini, barangkali yang paling kita butuhkan bukan resolusi, melainkan kesadaran. Bahwa akhlak bukan warisan yang otomatis lestari. Ia harus dijaga, diperjuangkan, dan sering kali dipertahankan dengan sunyi. Sebab tanpa akhlak, kita mungkin tetap hidup tetapi kehilangan alasan mengapa hidup itu layak diperjuangkan.
***
*) Oleh : Ferry Hamid, Peraih Anugerah Tokoh Pemuda Inspiratif ATI 2024 TIMES Indonesia.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
| Pewarta | : Hainor Rahman |
| Editor | : Hainorrahman |