TIMES JATIM, PACITAN – Stigma matematika sebagai pelajaran sulit dan menakutkan coba dipatahkan SMPN 4 Pacitan. Sekolah ini meluncurkan inovasi pembelajaran bernama “Nano Banana” singkatan dari Numerasi dengan Pendekatan Etnomatematika, Belajar Jadi Menyenangkan, yang mengaitkan konsep angka dengan kearifan lokal Pacitan.
Melalui pendekatan ini, matematika tidak lagi hadir sebagai rumus abstrak. Siswa diajak menemukan angka dan pola dari lingkungan terdekat mereka. Mulai dari bentuk atap rumah tradisional, motif batik pace, permainan rakyat, hingga aktivitas pasar tradisional.
Program Nano Banana menerapkan etnomatematika dalam beberapa aspek utama. Geometri budaya digunakan untuk mempelajari bangun datar dan ruang lewat arsitektur lokal, kerajinan, dan permainan tradisional. Aljabar tradisional memanfaatkan pola transaksi pasar dan perhitungan hari dalam penanggalan. Sementara statistika lingkungan mengajak siswa mengolah data potensi alam di sekitar Pacitan.
Kepala SMPN 4 Pacitan, Any Suprapno, mengatakan inovasi ini lahir sebagai respons atas tantangan literasi dan numerasi.
“Dengan Nano Banana, kepercayaan diri siswa meningkat. Matematika tidak lagi dihindari, justru dicari karena dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Perubahan suasana belajar juga dirasakan guru. Widya Pratiwi, guru Matematika, menyebut pendekatan ini membuat konsep abstrak lebih mudah dipahami.
“Sekarang saya tidak harus memulai dari rumus. Cukup mengajak siswa melihat pola di sekitar. Kelas jadi lebih hidup dan interaktif,” katanya.
Hal serupa disampaikan Nurhayati, guru Matematika lainnya. Menurutnya, kelas menjadi lebih dinamis dan minim tekanan.
“Siswa lebih berani berdiskusi karena objeknya familiar. Cara pandang mereka terhadap angka berubah,” ujarnya.
Dampak program ini juga dirasakan langsung siswa. Adi Sutrisno, siswa kelas VIII, mengaku kini lebih menikmati pelajaran matematika.
“Dulu rasanya ingin cepat-cepat pulang kalau jam matematika. Sekarang jadi tahu kalau matematika ada di permainan tradisional yang sering saya mainkan,” tuturnya, Rabu (7/1/2026).
Inovasi Nano Banana tidak berhenti di pembelajaran intrakurikuler. SMPN 4 Pacitan mengembangkannya dalam pembelajaran kokurikuler berbasis proyek (Project-Based Learning) yang mengolaborasikan Matematika, PJOK, dan Seni.
Melalui permainan tradisional seperti engklek, siswa belajar geometri dan logika dalam Matematika, mengasah motorik serta sportivitas di PJOK, dan memahami nilai estetika serta filosofi budaya lokal pada mata pelajaran Seni.
Guru Seni SMPN 4 Pacitan, Ami Wisna Rihadhian, menjelaskan kolaborasi ini menghapus sekat antar mata pelajaran.
“Matematika memberi kerangka berpikir, PJOK memberi aksi, dan Seni memberi jiwa. Semua menyatu dalam proyek kearifan lokal,” katanya.(*)
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Faizal R Arief |