TIMES JATIM, BANYUWANGI – Kabupaten Banyuwangi menegaskan kembali perannya sebagai salah satu lumbung pangan di Jawa Timur bahkan nasional.
Sepanjang tahun 2025, produksi padi di daerah ujung timur Pulau Jawa ini tercatat mencapai 806.455 ton, dengan produktivitas rata-rata 66,47 kuintal per hektare dari luas baku sawah sekitar 62.941 hektare.
Capaian tersebut, dinilai signifikan di tengah berbagai tantangan sektor pertanian, termasuk keterbatasan alokasi pupuk subsidi.
Pada 2025, Banyuwangi memperoleh pupuk Urea sebanyak 44.550 ton atau 97,38 persen dari usulan, serta pupuk NPK 40.493 ton atau 99,61 persen dari kebutuhan yang diajukan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi, Ida Larasati, menyebut bahwa capaikan produksi tersebut merupakan hasil sinergi kuat antara petani, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispertan Banyuwangi, Ida Larasati. (FOTO: Ikromil Aufa/TIMES Indonesia)
“Dengan ketersediaan pupuk yang cukup, Banyuwangi mampu menjaga bahkan meningkatkan produksi padi. Ini berkat kerja keras petani yang didukung pendampingan intensif serta penerapan teknologi pertanian,” kata Ida, Rabu (7/1/2026).
Ida menjelaskan, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan kapasitas petani melalui berbagai program, mulai dari bimbingan teknis, sekolah lapang, hingga pelatihan pembuatan pupuk alternatif.
Selain itu, Dispertan juga memfasilitasi sertifikasi pupuk dan beras organik sebagai upaya meningkatkan nilai tambah produk pertanian Bumi Blambangan.
Tak hanya di sektor hulu, penguatan juga dilakukan pada sisi hilirisasi dan penyerapan hasil panen. Pada 2025, target serapan beras oleh Bulog di Banyuwangi ditetapkan sebesar 52.800 ton. Hingga 31 Desember 2025, realisasinya mencapai 52.530 ton atau 99,49 persen.
“Serapan Bulog yang hampir mencapai target menunjukkan bahwa hasil panen petani terserap dengan baik. Ini penting untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani maupun konsumen,” ujar Ida.
Capaian Banyuwangi tersebut, sejalan dengan kondisi nasional. Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada 2025 menembus 34,71 ton, naik 13,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Kondisi tersebut, memperkuat posisi Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri tanpa bergantung pada impor beras medium.
Dengan produksi yang terjaga, stok beras pemerintah berada pada level aman dan stabilitas harga relatif terkendali. Banyuwangi pun terus berkomitmen menjaga kontribusinya sebagai penyangga ketahanan pangan Jawa Timur sekaligus nasional. (*)
| Pewarta | : Syamsul Arifin |
| Editor | : Imadudin Muhammad |