Psikolog UGM: Generasi Alpha Hadapi Krisis Mental, Literasi Emosi Jadi Kunci Pencegahan
TIMES Jatim/Ilustrasi - Generasi Alpha hadapi krisis mental. (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)

Psikolog UGM: Generasi Alpha Hadapi Krisis Mental, Literasi Emosi Jadi Kunci Pencegahan

Lonjakan kasus bunuh diri anak di Sumbar dan Jabar jadi alarm darurat kesehatan mental Generasi Alpha. Dukungan emosional di rumah-sekolah perlu diperkuat demi kesejahteraan psikologis mereka.

TIMES Jatim,Rabu 12 November 2025, 17:28 WIB
243.3K
A
A. Tulung

YOGYAKARTALonjakan kasus bunuh diri di kalangan anak dan remaja kembali mengguncang perhatian publik. Dalam sebulan terakhir, sedikitnya empat kasus dugaan bunuh diri anak terjadi di Sumatera Barat dan Jawa Barat. Fenomena ini menjadi sinyal darurat bagi masyarakat bahwa kesehatan mental generasi muda, terutama Generasi Alpha, anak-anak yang lahir antara 2010 hingga 2024, sedang berada dalam ancaman serius.

Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog, menilai meningkatnya kasus tersebut bukan sekadar tragedi individual, melainkan “alarm sosial” yang menandakan lemahnya sistem dukungan emosional bagi anak di rumah maupun sekolah.

“Sudah saatnya kita menempatkan kesehatan mental anak sebagai prioritas. Anak tidak cukup hanya berprestasi, tapi juga harus sejahtera secara psikologis,” katanya, Rabu (12/11/2025).

Menurut Nurul, Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan digital yang intens, membuat mereka akrab dengan teknologi tetapi sekaligus rawan mengalami kelelahan emosional (emotional burnout). Ketidakseimbangan antara paparan informasi yang tinggi dan kematangan emosi yang belum berkembang menyebabkan anak mudah cemas, stres, hingga depresi.

Rendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat juga menjadi tantangan utama. Banyak orang tua dan guru belum memahami tanda-tanda awal gangguan psikologis, sehingga anak tidak tertangani sampai mencapai titik krisis. Nurul juga menyoroti minimnya komunikasi empatik antar generasi yang kerap membuat anak merasa sendirian menghadapi tekanan.

Ia menegaskan pentingnya peran keluarga dan sekolah sebagai benteng pertama pencegahan. Keluarga perlu membatasi waktu penggunaan gawai secara bijak, menjadi teladan dalam mengelola emosi, serta membangun komunikasi yang suportif.

Sementara sekolah perlu menerapkan sistem kesehatan mental berbasis sekolah (school-based mental health system) yang melibatkan guru, konselor, dan psikolog.

“Anak-anak berhak tumbuh di lingkungan yang memvalidasi emosi mereka, bukan menekan atau mengabaikannya,” tegasnya.

Nurul berharap generasi Alpha kelak hidup di lingkungan yang ramah kesehatan mental, di mana mereka didorong untuk berani meminta bantuan saat tidak baik-baik saja. Melalui riset dan edukasi publik, UGM melalui CPMH berkomitmen meningkatkan kesadaran dan literasi mental masyarakat demi masa depan generasi yang lebih tangguh secara emosional. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:A. Tulung
|
Editor:Hendarmono Al Sidarto

News Logo

Media Online No 1 Pembangun Ketahanan Informasi di Jawa Timur, Menyajikan Berita Terkini Seputar Berita Politik, Bisnis, Olahraga, Artis, Hukum, yang membangun, menginspirasi, dan berpositif thinking berdasarkan jurnalisme positif.

Kanal Utama

    Kontak Kami

    • Jl. Besar Ijen No.90, Oro-oro Dowo, Kec. Klojen, Kota Malang, Jawa Timur 65116
    • (0341) 563566
    • [email protected]

    Berlangganan

    Dapatkan berita terbaru langsung di inbox Anda

    Member Of

    Logo WANIFRALogo AMSILogo Dewan PersLogo Trusted

    SUPPORTED BY

    Logo Varnion
    © 2025 TIMES Indonesia. All rights reserved.