https://jatim.times.co.id/
Berita

Toko Tio Souvenir Malang, Merawat Warisan Budaya dari Masa ke Masa

Jumat, 04 April 2025 - 12:32
Toko Tio Souvenir Malang, Merawat Warisan Budaya dari Masa ke Masa Toko Tio Souvenir yang berlokasi di Jl. Pasar Besar 75 Kota Malang. Toko ini berdiri sejak 1925, di era kependudukan Belanda. (Foto: Arli Ochaputri Hatono/TIMES Indonesia)

TIMES JATIM, MALANGToko Tio Souvenir yang ada di jalan Pasar Besar Kota Malang, Jawa Timur menyimpan sejarah panjang yang bermula dari era kolonial Belanda.

Awalnya, di tahun 1925, toko ini bernama Juwelier Tio—menggunakan bahasa Belanda sebagai penanda zamannya. Namun, pada masa Orde Baru, kebijakan pelarangan penggunaan bahasa asing memaksa perubahan nama menjadi Toko Tio.

Sekitar tahun 2005, ketika generasi ketiga mengambil alih bisnis keluarga, nama toko kembali diperbarui menjadi Toko Tio Souvenir, menandai babak baru dalam perjalanannya.

Kini, toko ini telah diwariskan hingga generasi keempat. Bisnisnya pun mengalami transformasi signifikan. Jika dahulu generasi kedua masih menjual jam tangan berlian dan perhiasan perak, sejak generasi ketiga, fokus perlahan bergeser.

toko-Tio-Souvenir.jpgPelayan toko Tio Souvenir melayani pembeli dengan merekomendasikan barang yang diinginkan pembeli. (Foto: Arli Ochaputri Hartono/TIMES Indonesia)

"Harga berlian semakin mahal, sementara peminat perak kian berkurang. Akhirnya, kami tak lagi menjualnya," tutur pemilik toko yang namanya enggan diwartakan kepada TIMES Indonesia.

Meski demikian, loyalitas pelanggan tak pernah pudar. Banyak dari mereka yang sudah berbelanja sejak muda, bahkan kini kembali dengan membawa anak dan cucu—biasanya untuk membeli gelang monel yang masih menjadi andalan toko.

Simbol Pelestarian Budaya di Tengah Modernisasi

Di tengah derasnya arus modernisasi, Toko Tio Souvenir tetap tegak mempertahankan identitasnya. Lebih dari sekadar tempat berbelanja, toko ini menjadi penjaga warisan budaya, menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Salah satu daya tarik utamanya adalah koleksi kerajinan tradisional, seperti topeng Malangan dan tokoh-tokoh pewayangan dari kayu atau aluminium. Produk ini pertama kali diperkenalkan oleh generasi ketiga, berkat ide brilian ibu sang pemilik yang ingin melestarikan budaya Indonesia. "Anak muda sering bingung, ‘Apa sih ini?’ Tapi kami tetap menyediakan, biar mereka tahu," ujarnya.

toko-Tio-Souvenir-1.jpgPegawai di toko Tio Souvenir sedang menata beberapa gelang untuk di display. (Foto: Ahmad Dhani Prasetyo Rojab/Times Indonesia).

Setiap wayang yang dijual dilengkapi dengan informasi detail: nama tokoh, karakter, hingga sifatnya. Harapannya, generasi muda tak hanya tertarik membeli, tetapi juga terdorong untuk menggali kisah di baliknya—bahkan membaca buku atau mencari tahu lebih dalam tentang tokoh wayang tersebut.

Meski berkomitmen melestarikan budaya, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah semakin langkanya pengrajin lokal. Banyak pengrajin senior yang telah meninggal dunia, sementara regenerasi pengrajin muda masih sangat terbatas.

Namun, Toko Tio Souvenir tak menyerah. Dengan semangat yang sama seperti ketika pertama kali berdiri, toko ini terus bertahan—bukan hanya sebagai penjual suvenir, tetapi sebagai saksi bisu perjalanan budaya sekaligus penjaga warisan budaya yang mempertemukan masa lalu dan masa kini.

Di sini, setiap barang yang dijual bukan sekadar produk, melainkan cerita yang hidup, mengajak setiap pengunjung untuk turut merawat warisan nenek moyang. (*)

Pewarta : Ahmad Dhani Prasetyo R (Magang MBKM)
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Jatim just now

Welcome to TIMES Jatim

TIMES Jatim is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.