Saat Muhammadiyah, Katedral dan Gereja Ikut Merajut 1 Abad NU
TIMES Jatim/Peringatan Harlah 1 Abad NU (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)

Saat Muhammadiyah, Katedral dan Gereja Ikut Merajut 1 Abad NU

Di balik ratusan ribu jemaah dalam rangkaian Peringatan Hari Lahir 1 Abad NU di Stadion Gajayana Kota Malang, ternyata ada cerita soal NU, Muhammadiyah, dan gereja yang mampu menyiptakan sebuah model etalase harmoni nasional.

TIMES Jatim,Senin 9 Februari 2026, 21:54 WIB
0
F
Faizal R Arief

MALANGLebih dari 100 ribu jemaah tumplek blek di Kota Malang pada 7-8 Februari 2026. Cuaca yang tidak ramah bukan penghalang niat mereka menyaksikan perhelatan Harlah 1 Abad NU (Nahdlatul Ulama). Dua hari itu, Stadion Gajayana Kota Malang jadi saksi bisu harapan dan doa ratusan ribu Nahdliyin.

Namun, di balik harapan dan doa Nahdliyin di perhelatan akbar itu, ada cerita sangat menarik. Bahwa ada sebuah ekosistem gotong royong dan harmoni lintas iman dan organisasi yang bekerja tanpa pamrih agar acara akbar itu terselenggara.  

Liputan TIMES Indonesia kali ini menyajikan seperti apa kolaborasi dan gotong royong yang melibatkan tiga pilar masyarakat sipil Indonesia: NU, Muhammadiyah, dan komunitas gereja. Mereka menunjukkan praktik di lapangan, seperti apa semangat gotong royong dan harmoni terjadi.

Pembagian Peran

Sejak jauh hari, kolaborasi sebenarnya sudah bergerak. Data dari panitia Harlah menunjukkan, setidaknya 104.541 jemaah telah terdaftar sebelum H-1. Ada rombongan yang naik bus, naik Elf, naik mobil pribadi, sampai naik motor sendiri. Betapa tekanan logistik yang luar biasa akan terjadi di sebuah kota dalam waktu dua hari. Di sinilah pembagian peran mulai berbicara.

article

Pimpinan Cabang NU (PCNU) Kota Malang fokus pada konsolidasi internal. Mereka melakukan soal pendataan jemaah, pengaturan acara inti, dan mobilitas dari basis-basis NU. Sementara itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang mulai menyipakan dan mengerahkan seluruh jaringan amal usahanya dalam sebuah gerakan terpadu bernama 'Aksi-Mu'.

Upaya Muhammadiyah ini ternyata bukan jargon semata. “Kami hadir dengan aksi. Bukan hanya pernyataan. Semua elemen bergerak agar jemaah terlayani dengan baik,” tegas Sekretaris PDM Kota Malang, Imam Abda’i, Minggu (8/22026) menegaskan apa yang sudah Muhammadiyah lakukan untuk membantu suksesnya Harlah 1 Abad NU.

Dan benar. Sejumlah sekolah Muhammadiyah dibuka untuk tempat transit dan istirahat jemaah. Masjid-masjid Muhammadiyah beroperasi 24 jam untuk layanan musafir. Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) mendirikan dapur umum yang menyediakan ribuan porsi bakso, sarapan, dan camilan gratis.

Organisasi otonom seperti Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), Tapak Suci, dan Hizbul Wathon juga ikut ambil bagian. Mereka berbaur dengan Banser NU, TNI, Pemkot dan Polri dalam sebuah skema pengamanan terpadu.

“Kami memandang perlu hadir dan berkontribusi sesuai kapasitas Muhammadiyah. Ini tanggung jawab sosial sekaligus wujud persaudaraan,” tambah Ketua PDM Kota Malang, Prof. Abdul Haris, sebagai bentuk kontribusi Muhammadiyah dalam tanggung jawab organisasi yang lebih luas.

Di sisi lain. Akar rumput Nahdliyin juga bergerak. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Kota Malang mendirikan seratus posko layanan yang tersebar di berbagai titik strategis. Posko tersebut jadi simpul gotong royong mikro. Posko itu mengumpulkan dan mendistribusikan sumbangan berupa mi gelas, kopi, dan makanan ringan dari warga.

“Sedikit dari banyak orang akan menjadi besar. Semua bernilai ibadah ketika diniatkan melayani jemaah,” ujar Wakil Ketua PCNU Kota Malang bidang LPBI, Asif Budairi, (2/2/2026) menggambarkan semangat swadaya masyarakat.

Katedral Ijen dan Sejarah Gereja Kristen Jawi Wetan

Namun, fakta yang paling menarik adalah keterlibatan aktif komunitas Kristen Kota Malang. Dukungan mereka tidak datang secara instan. Dukungan itu sebenarnya lahir lewat proses komunikasi, negosiasi, dan saling pengertian yang panjang dan  mendalam.

article

Di Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Katedral Ijen) misalnya. Dari katedral yang berlokasi di jantung ring utama acara Harlah, sebuah kebijakan penting diambil. Setelah koordinasi intensif dengan pemerintah kecamatan dan kota, pihak gereja memutuskan untuk menyesuaikan jadwal misa selama dua hari saat pelaksanaan Mujahadah Kubro 1 Anad NU digelar.  

Dari enam kali misa biasa, hanya dua misa Minggu sore yang dipertahankan. Kebijakan itu diambil untuk menyesuaikan dengan kondisi lalu lintas yang padat akibat penutupan 12 ruas jalan di Kota Malang. “Kalau misa tetap digelar, risikonya umat kami harus parkir jauh dan berjalan kaki cukup jauh... Respons umat kami sangat baik dan dewasa. Mereka menerima keputusan ini dengan penuh pengertian. Inilah bentuk toleransi yang nyata dalam kehidupan beragama,” jelas Romo Paroki Katedral Ijen, Petrus Prihatin, Selasa (3/2/2026) kepada TIMES Indonesia.

Ternyata yang terjadi bukan soal penyesuaian jadwal saja. Gereja juga berinisatif membuka area sampingnya sebagai tempat transit dan istirahat jemaah. Lengkap dengan empat unit toilet. “Yang ditutup hanya bagian dalam gereja karena memang tidak ada kegiatan ibadah,” tegas Romo Petrus, menunjukkan batasan yang juga jelas dan saling menghormati.

Di tempat lain. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) melalui Majelis Agung Gereja Kristen Jawi Wetan, juga membuka pintu bagi jemaah NU. Majelis Agung menyambut baik permohonan PCNU Kota Surabaya agar kompleks GKJW bisak dipakai sebagai lokasi transit untuk sekitar 1.000 jemaah NU dari Surabaya.

Keterbukaan ini ada cerita sejarahnya. Pendeta Natael Hermawan Prianto, M.BA., mengaitkannya dengan sejarah panjang dan relasi personal. “Ini bukan hanya soal tempat, tetapi tentang persaudaraan. GKJW dan NU memiliki sejarah panjang hidup berdampingan dan saling menghormati,” ujarnya.

Pendeta Natael menjelaskan, NU lahir pada 1926 di Tebuireng, Jombang. Sementara GKJW berdiri pada 1931 di Mojowarno, Jombang. Hubungan persahabatan NU dan GKJW itu diperkuat oleh figur Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang pernah mengajar di lingkungan GKJW (1974-1981) dan berkunjung ke Majelis Agung GKJW pada tahun 2000.

“Kami ingin silaturahmi ini terus berlanjut, bukan hanya pada momentum Harlah NU, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari,” tambah Pendeta Natael yang melihat kolaborasi ini sebagai investasi sosial jangka panjang.

Apresiasi dari Presiden

Momen puncak terjadi ketika Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto, berdiri di podium Stadion Gajayana, Minggu (8/2/2026). Di hadapan ratusan ribu jemaah, Prabowo bukan hanya bicara soal khazanah keislaman NU. Prabowo juga menyorot soal praktik toleransi yang terbangun di acara ini.

article

“Saya merasa terharu. Tadi saya mendengar sambutan Ketua PWNU bahwa banyak gereja ikut membantu menyukseskan Harlah ini. Ini adalah wujud toleransi keagamaan yang diajarkan oleh para kiai-kiai NU,” ungkap Prabowo.

Presiden juga menegaskan, semangat harmoni dan toleransi ini harus dirawat sebagai kekuatan pemersatu bangsa. “Semoga NU selalu menjadi contoh bagi umat dalam menjaga toleransi beragama,” pungkasnya.

Tentu, proses menuju harmoni yang mulus, tidak sepenuhnya tanpa masalah. Di balik koordinasi yang rapi, ternyata ada dinamika komunikasi yang perlu dikelola. Ketua PCNU Kota Malang, Dr. KH Israqunnajah, mengakui hal itu. Israqunnajah mengungkap bahwa pada tahap awal, memang belum ada komunikasi resmi langsung dengan beberapa gereja terkait penggunaan lokasi transit. Panitia saat itu masih fokus pada mitigasi teknis, seperti menjaga akses ambulans ke rumah sakit terdekat dan masalah teknis lainnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, mulai muncul kendala. “Di Jalan Kawi itu kan ada gereja, di belakang bank. Dan ada kegiatan kebaktian juga. Mereka minta difasilitasi. Hari pelaksanaan Harlah memang bersamaan dengan ibadah gereja. Dan tentu hal itu kami fasilitasi," ungkap Israqunnajah. Hal serupa diakui oleh Romo Petrus dari Katedral Ijen, yang menyatakan kesiapannya membantu setelah ada komunikasi resmi dan di luar jam ibadah.

Beberapa catatan teknis yang terjadi di lapangan adalah fakta yang menggarisbawahi bahwa harmoni yang terbangun bukan hasil dari keseragaman atau ketiadaan masalah. Harmoni justru muncul dari kehendak dan kemauan bersama untuk melakukan negosiasi. Menemukan titik temu. Dan saling memberi ruang. Mekanisme itu berjalan secara natural karena memang sudah didasari modal kepercayaan yang telah tertanam dari interaksi historis dan keseharian di Kota Malang.

Kota Malang sebagai Etalase Harmoni Nasional

Apa yang terungkap dari penyelenggaran Harlah 1 Abad NU di Malang adalah sebuah studi kasus sosial yang sangat kaya. Kota ini dinilai berhasil mentransformasikan diri dari sekadar tuan rumah sebuah acara keagamaan massal menjadi sebuah etalase harmoni nasional, sebagaimana diidentifikasi oleh sejumlah pengamat.

"MasyaAllah, kami memandang ini sebagai berkah bagi Kota Malang. Semoga publik Malang bisa melayani dengan baik dan maksimal agar ibadah massal berlangsung khidmat dan kota tetap nyaman," ujar Ketua PCNU Kota Malang Dr KH Israqunnajah.

Kolaborasi dan gotong royong ini dinilai berhasil mengelola kompleksitas dengan pendekatan sederhana namun powerful: pembagian peran berdasarkan kapasitas dan keahlian masing-masing pihak. NU sebagai tuan rumah dan penggerak massa. Muhammadiyah dengan jaringan amal usaha dan organisasinya sebagai penyangga layanan publik. Lalu komunitas gereja sebagai mitra yang memberikan dukungan fasilitas dan fleksibilitas dalam semangat persaudaraan kemanusiaan.

Bisa jadi. Apa yang terjadi di kota Malang ini adalah potret Indonesia dalam skala kota. Sebuah potret yang menggambarkan perbedaan keyakinan dan organisasi tidak harus menjadi sumber perpecahan. Perbedaan itu justru jadi kekuatan kolektif untuk mengatasi tantangan bersama. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Penulis:Faizal R Arief
|
Editor:Tim Redaksi